Not you but You
23.45
Seorang lelaki yang usianya masih relatif muda berpakaian lumayan gelap, melangkah memasuki sebuah ruangan yang lumayan redup. Badannya yang tegap dan sixpack serta wajahnya yang tampan seketika membius para wanita yang ada di dalam ruangan itu. Ruangan tiba-tiba menyala terang. Lelaki itu tampak berdiri di ujung meja panjang yang ada di ruangan itu. Tiba-tiba di ujung meja lainnya tampak seorang lelaki setengah baya berputar dengan kursi hitamnya, sehingga berhadap-hadapan dengan pemuda tadi. Lelaki setengah baya itu memakai topi berwarna hitam, jas hitam panjang, dan terselip puntung rokok di antara bibirnya.
“Kau siap untuk misi ini, Tuan?” tanya lelaki setengah baya itu pada pemuda tadi.
Pemuda itu diam sesaat, membius suasana yang mulai menegangkan.
“Aku siap. Apapun aku siap lakukan demi ayahku,” jawab pemuda itu mantap.
“Hahaha.. bagus!” lelaki itu menoleh pada lelaki di sampingnya.”Give it to him!” perintahnya pada lelaki pengawalnya itu. Lelaki pengawal itu menghampiri pemuda tadi dan menyerahkan sesuatu pada pemuda itu. Itu sebuah foto, foto seorang gadis cantik.
***
Hari ini, Hyi Me harus pulang menemui bibi dan pamannya yang ada di Seoul. Mereka sudah menantikan Hyi Me pulang ke Seoul setelah sekian lama ia bersembunyi di Paris. Beberapa bulan yang lalu, Hyi Me berhasil ditangkap oleh beberapa anak buah dari ketua mafia terbesar di Korea. Sebenarnya sudah sejak lama para mafia itu mengincar Hyi Me untuk menjadikannya sebagai bagian dari mereka. Ayahnya pernah terikat suatu kontrak dengan mereka. Namun, ketika ayahnya menyesal bahwa sebenarnya yang dia lakukan itu adalah perbuatan kriminal, ayahnya kabur dari kontrak itu dan lari ke Malaysia. Tapi, tetap saja ayahnya berhasil ditangkap kemudian dibunuh oleh para mafia itu. Sejak saat itu, mereka mengejar Hyi Me untuk menggantikan kontrak ayahnya yang sudah batal itu. Tentu saja Hyi Me menolak. Dia tidak mau jadi bagian dari penjahat. Ia berhasil kabur dari sekapan para mafia itu dan lari keluar negeri.
Berbulan-bulan Hyi Me keliling ke setiap negara yang ada di Asia dan Eropa untuk menemukan tempat yang paling aman bersembunyi dari kejaran para mafia itu. Dan akhirnya ia menemukan sebuah tempat di Paris yang dia yakin benar-benar bisa bersembunyi disana dari kejaran para pejahat itu. Alhasil setelah beberapa bulan kemudian, Hyi Me mendengar kabar bahwa ketua mafia yang sedari dulu mengejarnya sudah mati di bunuh oleh salah satu agen rahasia di Korea Selatan. Semua anak buahnya kalang kabut mendapati sang ketua mati. Dan kabarnya perkumpulan mafia itu sedang diincar oleh seluruh tentara kesatuan di Korea Selatan untuk diadili. Hyi Me lega mendengar kabar itu. Hyi Me berharap itu benar. Dan memang benar. Bibi sendiri yang memberitakan hal itu padanya. Beberapa saat yang lalu pun, ia sempat melihat beritanya di tivi Paris. Akhirnya ia bisa pulang ke Seoul dengan sedikit lega. Tetapi ia tetap tidak boleh lalai, karena bisa saja para mafia itu masih mengincarnya ketika ia sampai di Seoul nanti.
Pesawat baru saja mendarat di airport. Hyi Me bergegas keluar dari pesawat dan kemudian mencari koper di bagasi berjalan di dalam airport. Hyi Me sedari tadi menunggu kopernya lewat tapi tetap tidak muncul juga. “Hmm.. kemana koperku?” pikirnya sambil menilik satu persatu koper yang lewat di depannya. Kemudian dia menoleh ke arah samping, kopernya!! Tapi... kopernya diambil oleh seorang pemuda berjas panjang warna hijau metalic. Hyi Me terkejut dan refleks mengejar pemuda itu.
“Hey.. itu koperku!” teriak Hyi Me di tengah keramain airport. Pemuda itu tidak mendengar teriakan Hyi Me. Sekuat tenaga Hyi Me menerobos orang-orang yang berlalu lalang, sesekali menabrak. Orang-orang ia tabrak mengomel-omel, tapi Hyi Me tak menghiraukannya. Yang ia mau hanya kopernya. Karena di kopernya banyak sekali barang-barang berharganya.
“Hey kau.. yang berjas hijau! Kau tidak dengar teriakanku ya? Aku bilang itu koperku!” Hyi Me masih berteriak di tenga keramaian. Baru setelah beberapa kali Hyi Me berteriak, lelaki itu menoleh. Badannya tinggi tegap, rambutnya berwarna hitam pirang, dan berkacamata hitam.
“Siapa kau?” tanyanya ketika Hyi Me mendekat. Hyi Me langsung merebut kopernya.
“Ini koperku! Sembarangan saja kau mengambilnya!” bentak Hyi Me kesal.
“Enak saja! Ini koperku!” jawab pemuda itu juga sembari sedikit membentak.
“Hey, enak saja! Kau tidak lihat, disini sudah tertera jelas namaku! Lihat, ini namaku..” Hyi Me langsung menunjukkan bagian ujung kopernya, tapi.. oow mana namanya? Kenapa tidak ada? Jangan-jangan..
“Hah, masih mau mengaku kalau ini kopermu? Sudah jelas kan ini bukan kopermu! Ini koperku!” balas lelaki itu sinis, merasa puas dan lega mendapati kalau itu memang kopernya.
Hyi Me sontak langsung merasa kebingungan dan kembali menghampiri bagasi berjalan di ujung airport. Tetap saja kopernya tidak ada. Ia menoleh lagi ke arah lain, ada dua orang laki-laki membawa koper yang mirip dengan punyanya sambil tergesa-gesa. Ia ingin menyangka kalau itu kopernya, tapi takut salah lagi. Tapi.. dia langsung mengejarnya. Salah satu dari lelaki itu menyadari kalau ada yang hendak menghampiri mereka, spontan mereka langsung mempercepat langkah mereka. Dari situ, Hyi Me semakin yakin kalau itu memang kopernya, kopernya dicuri oleh dua lelaki itu. Hyi Me mempercepat langkahnya mengejar mereka.
“Hey.. kembalikan koperku! Itu koperku!” Hyi kembali berteriak-teriak di tengah keramaian.
“Hey.. kembali! Jangan bawa lari koperku! Hey.. hey..hey.....”
Hyi Me terus mengejar mereka sampai ke tempat parkir. Mereka masih tidak berhenti juga. Sudah hampir ngos-ngosan Hyi Me mengejarnya. Tiba-tiba... Dozzz!! Dua lelaki itu terjatuh seketika setelah ada yang memukul wajahnya. Dan kopernya terlempar beberapa meter ke arah barat. Itu.. ternyata pemuda yang berjas hijau metalic tadi, yang ia kira dia yang membawa koper Hyi Me. Dengan tanpa basa-basi, dua laki-laki yang tadi bangkit dan balik menghajarnya. Tapi pemuda berjas metalic itu mampu menangkis setiap serangannya. Hyi Me mengambil kesempatan itu untuk mengambil kopernya. Sesaat kemudian, dua laki-laki pencuri tadi lari terbirit-birit menjauhi tempat parkir setelah merasa kalah oleh pemuda berjas hijau tadi. Pemuda itu membuka kacamata hitamnya dan menghampiri Hyi Me.
“Kau tidak apa-apa?” tanyanya pada Hyi Me.
“Tidak apa-apa. Mereka hanya membawa koperku. Terima kasih ya kau sudah membantuku,” jawab Hyi Me dengan rasa yang sangat berterima kasih.
“Tapi..” lanjut Hyi Me. “Kapan kau muncul?”
“Waktu kau mengejar dua orang itu, aku mengikuti kalian dan mengambil jalan pintas yang bisa mencegat mereka.”
“Oh begitu. Hmm.. sekali lagi, terima kasih.” Hyi Me melemparkan senyum rasa terima kasihnya.
“Ya, tidak apa. Aku pergi dulu. Lain kali hati-hati,” jawabnya dingin, namun nasehat yang sangat berarti bagi Hyi Me. Kemudian berbalik arah hendak melangkah pergi.
“Eh, hey..” tahan Hyi Me.”Namamu siapa?”
“Tidak penting,” jawabnya sambil tidak berbalik arah lagi, kemudian hendak pergi.
“Tapi.. aku hanya menanyakan namamu. Tapi.. terima kasih.”
“Namaku Jin Guk,” lalu bergegas pergi dari hadapan Hyi Me. Ya, setidaknya Hyi Me tahu namanya.
***
“Bibi.. Paman.. Aku pulang..” teriak Hyi Me saat baru memasuki rumahnya lagi setelah beberapa bulan tidak menginjakkan kaki di rumah tercintanya itu. Bibi dan Paman Hyi Me yang sejak pagi menunggunya segera keluar dari ruang tengah menghampiri Hyi Me.
“Hyi Me..” Bibi langsung memeluk Hyi Me melepas rindu pada keponakannya yang selama ini keliling dunia untuk bersembunyi dari kejaran para penjahat. Hyi Me pun berbalik memeluk bibi kesayangannya itu.
“Hyi Me, kabarmu baik-baik saja kan? Aku khawatir sekaligus rindu padamu,” tanya Bibi sambil mengelus-elus rambut Hyi Me.
“Aku baik-baik saja, Bibi. Buktinya aku bisa pulang sekarang,” jawab Hyi Me senang.
“Bagaimana tadi perjalananmu? Menyenangkan?” tanya Paman.
“Menyenangkan, Paman. Tapi tadi aku mendapat sedikit masalah. “
“Masalah apa??”
“Ah, tapi tidak apa-apa. Hanya masalah kecil. Lagipula, tadi ada seorang pemuda yang menolongku. Jadi masalahku bisa terselesaikan. “
“Oh, syukurlah kalau begitu. Tapi, kau tidak bertemu dengan para mafia itu kan?”
“Aku tidak tahu. Aku harap tidak, Paman.”
“Ya sudah. Sekarang cepatlah ke kamar dan bereskan barang-barangmu itu. Sebentar lagi kita akan makan siang menyambutmu kedatanganmu,” ujar Bibi dengan gembira.
“Ah Bibi bisa saja. Tidak usah repot-repot,” jawab Hyi Me sambil melemparkan senyumnya.
***
“Oh tidak, aku sudah terlambat!” teriak Hyi Me was-was saat mendapati jam tangannya sudah mengarah ke angka 8 pas, sedangkan ia belum juga mendapat bus untuk pergi ke kampusnya. Setiap bus yang ia temui sudah dipenuhi oleh para karyawan. Sekali lagi ia melirik jam tangannya. Haah sudah tidak ada harapan lagi, Hyi Me pasti dihukum oleh bagian keamanan akademi.
“Hey..” sapa seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di depan Hyi Me dengan pakaian yang sangat rapih dan... seperti pakaian akademinya! Itu kan..
“Mau ikut denganku?” tanya pemuda yang menolong Hyi Me sewaktu di airport kemarin. Iya, itu Jin Guk. Dan dia memakai pakaian yaang seragam dengan Hyi Me.
“Kau.. pemuda yang kemarin kan? Kau Jin Guk?” tanya Hyi Me terheran sambil melihatnya dari atas ke bawah. Dia hanya tersenyum tipis dan dingin.
“Ya, aku Jin Guk. Kurasa kau harus ikut bersamaku. Kau sudah terlambat kan?”
Hyi Me mengangguk pelan. Dalam hati, Hyi Me berdoa, semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Jin Guk segera membukakan pintu mobil sebelah kanan untuk Hyi Me. Hyi Me pun masuk, namun hatinya sedikit merasa tidak nyaman. Tapi ia mencoba untuk tidak mempedulikan pikirannya tentang itu. Mobil pun melaju di jalanan kota Seoul yang ramai. Suasana mobil berubah menjadi hening.
“Kau mahasiswa di SMA (Seoul Musical Academy) juga?” tanya Hyi Me memecah suasana hening di mobil.
“Ya,” jawab Jin Guk masih tetap dingin.
“Hmm.. aku tidak pernah melihatmu. Kau mahasiswa baru?”
“Tidak, sudah tiga bulan aku disana. Kau saja mungkin yang tidak tahu. Sudah beberapa bulan ini kau tidak masuk kuliah kan?”
Oh. Hyi Me baru sadar, kalau beberapa bulan kemarin dia cuti kuliah untuk menyembunyikan dirinya dari kejaran para mafia itu. Jadi otomatis beberapa bulan ini, dia tidak tahu ada apa saja yang di kampus sekarang, termasuk mahasiswa baru bernama Jin Guk ini. Hyi Me mengganggukkan kepalanya sedikit, hening.
“Kenapa?” tanya Jin Guk heran.
“Oh, tidak. Umm.. tapi kau tau darimana kalau aku tidak masuk kuliah beberapa bulan ini?”
“Dari teman-temanmu.”
“Kenapa kau bisa bertanya itu? Memangnya kau kenal aku?”
“Aku tidak mengenalmu. Aku hanya pernah melihat poster band-mu di mading kampus. Kau vokalisnya.”
“Ooh..”
Suasana berubah hening kembali. Sesaat kemudian..
“Aku belum tahu namamu,” suara Jin Guk yang sekarang memecah keheningan.
“Umm.. Namaku Hyi Me,” jawab Hyi Me.” Tapi kenapa kau terlambat juga?” sambungnya lagi.
“Aku ada urusan lain.” Padangan Jin Guk tetap lurus ke depan. “Dingin sekali orang ini,” ujar Hyi Me dalam hati.
Mobil pun berhenti tepat di depan gerbang kampus. Jin Guk hanya menekan klakson, petugas penjaga gerbang langsung membukakan gerbang itu tanpa mencegat atau memberikan peringatan hukuman kepada mereka. Dengan mudah, mobil bisa langsung masuk ke tempat parkir kampus. Hyi Me sedikit terheran-heran melihat kejadian barusan. Jin Guk hanya tersenyum melihat tingkah Hyi Me yang lucu itu.
“Kenapa?” tanyanya pada Hyi Me.
“Kita.. mereka membiarkan kita masuk?” Hyi Me terheran-heran.
“Sudahlah. Yang penting kita bisa masuk.”
“Tapi, kok bisa?”
“Sudahlah. Ayo ke kelas.”
Hyi Me dan Jin Guk memasuki kampus bersama. Semua anak di dalam kampus tampak tercengang dan ada sebagian yang heboh melihat Hyi Me bersama Jin Guk. Sepanjang koridor penuh oleh mahasiswa yang melihat kedatangan Jin Guk bersama Hyi Me. Mereka tidak percaya. Bagaimana tidak, Jin Guk adalah sosok terpandang yang sangat didambakan semua mahasiswa serta dosen wanita di seantero kampus dan disegani pula oleh semua mahasiswa lelaki di kampus ini, yang dingin dan sangat tampan, yang dikenal tidak mudah dekat wanita itu, sekarang berjalan beriringan dengan Hyi Me yang hanya dipandang sebagai salah satu vokalis band di kampus ini. Tentu saja Hyi Me merasa heran melihat sekelilingnya memperhatikannya dan Jin Guk sejak memasuki area kampus ini.
“Apa perlu aku mengantarmu ke kelas?” tanya Jin Guk memecah lamunan Hyi Me.
“Oh, tidak perlu. Aku bisa sendiri,” jawab Hyi Me agak gugup.
“Kalau dosenmu marah waktu kau masuk ke kelas, bagaimana?”
“Memangnya kalau kau mengantarku, kau bisa apa?”
Jin Guk hanya tersenyum tipis dan langsung menarik tangan Hyi Me.”Ayo ikut aku!”
Sampai di kelas, Jin Guk membukakan pintu kelas. Dan benar saja di kelas Hyi Me memang sudah ada dosen. Kalau Hyi Me sendirian ke kelas, Hyi Me pasti sudah berada di ruang tempat cuci piring kantin sekarang. Tapi, Hyi Me belum tahu apa yang akan terjadi kalau Jin Guk yang mengantarnya.
“Excuse me, Mr. Greg. Tadi dia bersama saya dan sudah mendapat ijin dari pihak sekolah. Tolong ijinkan dia masuk ke kelas, saya mohon..” ujar Jin Guk sangat sopan pada Mr.Greg, dosen Bahasa Inggris Hyi Me di jurusannya.
“Ow.. It’s okay. You can take your chair now!” ujar Mr.Greg profesional.
“Thank you, Mr.” Hyi Me bergegas mengambil tempat duduknya. Seisi kelas pun tercengang melihat siapa yang mengantar Hyi Me barusan. Sesaat kemudian, Hyi Me melihat Jin Guk tersenyum padanya sebelum akhirnya dia meninggalkan kelas Hyi Me. Hyi Me hanya bisa membalas senyumnya sambil terheran-heran. “Ya, terima kasih,” yang terucap di benak Hyi Me saat itu.
***
“Hyi Me..!!” teriak Dara dan Yesung terheboh menghampiri Hyi Me.
“Apa?” jawab Hyi Me lemas. Kelelahan akibat perjalanan pulang ke Seoul kemarin tampaknya baru terasa oleh Hyi Me sekarang. Kemarin Hyi Me keasyikan berbincang banyak dengan Bibi sampai larut malam.
“Ceritakan, Hyi Me! Bagaimana caranya kau bisa bersama Jin Guk tadi pagi? Kok bisa??” ujar Yesung mendahului sambil terheboh-heboh. Hyi Me makin heran melihat tingkah teman-temannya itu. Ia tidak tahu kalau sebenarnya peristiwa Jin Guk mengantarnya tadi pagi menjadi perbicangan heboh seantero kampus.
“Memang kenapa dengan Jin Guk? Aku rasa tidak ada yang spesial darinya. Dia dingin,” tanggap Hyi Me acuh, tidak memperdulikan tingkah teman-temannya yang makin mengheboh.
“Aku hanya ingin tahu, bagaimana bisa kau bersama Jin Guk? Oh Jin Guk.. dari dulu aku ingin sekali dekat dengannya, walaupun hanya sekali! Sekali.... saja. Tapi, sepertinya susah sekali. Dan.. kau yang malah bersamanya. Kau merebutnya, huh!” Yesung memangku dua tangannya sambil berkhayal tentang Jin Guk.
“Hey, memang kau saja yang ingin dekat dengannya? Aku yang lebih dulu menyukainya, huh!” timpal Dara sedikit kesal.
Hyi Me tidak memberi respon yang berarti pada mereka berdua. Ia malah makin bingung, kenapa teman-temannya bersikap sampai seperti itu hanya karena seorang Jin Guk yang hanya punya badan tinggi tegap, ya memang sixpack, yaa walaupun tampan, tapi menurut Hyi Me, tidak ada yang spesial darinya. Biasa saja. Mungkin Hyi Me hanya sedikit terkesan dengannya ketika dia menolong Hyi Me di airport kemarin, dan karena tadi pagi dia mengantar Hyi Me dari halte bus sampai ke kelasnya. Itu hanya sekedar ucapan terima kasihnya pada Jin Guk.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi di kampus selama aku pergi ke luar negeri. Memang ada apa? Sepertinya seantero sekolah heboh sekali,” timpal Hyi Me seketika.
“Kau tidak tahu? Tiga bulan lalu Jin Guk bergabung dengan akademi dan langsung membawa harum nama akademi ini setelah seminggu kemudian. Dari semenjak itu, seantero sekolah mengelu-elukan dia. Hampir semua dosen dan mahasiswa wanita banyak yang menyukainya, termasuk aku,” jawab Dara begitu bersemangat.
“Aku juga!” Yesung menyela.
“Iya!” timpal Dara.
Hyi Me mulai mengerti ada apa dengan pemuda yang kemarin menolongnya itu.
“Hmm.. aku tidak tahu seberapa hebat dia disini. Yang aku tahu, dia itu dingin dan bisa berkelahi,” jawab Hyi Me mengingat kejadian kemarin.
“Oh ya, Hyi Me, ceritakan masalah kenapa kau bisa bersamanya tadi pagi. Memangnya kau kenal dia?” sela Dara.
“Aku kenal dia kemarin di airport. Kemarin dia menolongku melawan penjahat yang mencuri koperku.”
“Yang benar? Aaaa.. ternyata dia jago berkelahi juga. Aaah aku makin jatuh cinta saja padanya :*”
“-_- Kalian. Memangnya dia artis? Kenapa sampai segitunya?”
“Hyi Me, apa kamu tidak melihat? lihat hey lihat! Dia itu tampan, sixpack, tinggi tegap, jago bermain basket, dan itu, jago berkelahi, anak orang kaya pula. Makanya tadi dia langsung diperbolehkan masuk oleh penjaga gerbang. Padahal, kalau mahasiswa yang lain pasti sudah diproses oleh bagian keamanan akademi. Kau beruntung tadi bisa masuk bersamanya,” sambung Yesung.
“Lalu kalau dia anak orang kaya dia bisa seenaknya masuk walaupun datang terlambat? Aduh.. kenapa bisa? -_-“
“Ya bisa saja. Guru besar berteman baik dengan ayahnya Jin Guk. Dan dia menjadi anak kesayangan Guru besar sejak dia bergabung di akademi.”
“Oh begitu. Pantas saja tadi pagi sewaktu aku masuk kampus bersama Jin Guk, semua orang melihat ke arahku. Aku jadi heran. Ternyata mereka hanya melihat Jin Guk, bukan aku. -_-“
Hyi Me tidak menyadari kalau Jin Guk ada di belakangnya. Dara dan Yesung sontak terkejut melihat siapa yang ada di hadapan mereka. Yang mereka dambakan. Yang sering mereka elu-elukan.
“Hyi Me..” Dara menyenggol tangan Hyi Me sambil matanya terus memandang ke arah Jin Guk.
“Ada apa?” tanggap Hyi Me lemas.
“Hyi Me, itu.. Jin Guk di belakangmu.”
Hyi Me spontan menoleh ke belakang.
“Hai, Hyi..Me!” sapa Jin Guk tergagap karena sedikit lupa dengan nama Hyi Me.
“Oh, hai..” sapa Hyi Me balik. Ia agak terkejut juga mendapati Jin Guk berada di belakangnya sambil tersenyum.”Kapan kau kemari?”
“Baru saja. Kau.. mau pulang bersamaku?”
Hyi Me terkejut mendengar ajakan itu lagi. Ia langsung berbalik menghadap Dara dan Yesung. Dara memberi isyarat kalau ia harus memenuhi ajakannya. Sedangkan Yesung menaikkan alisnya tanda setuju dengan usul Dara. Tentu saja Hyi Me merasa heran, ia bingung harus memenuhi ajakan Jin Guk lagi atau tidak. Sementara dua orang di hadapannya yang sudah menjadi sahabat baiknya semenjak SMA ini sangat menyukai Jin Guk. Belum lagi para wanita di seantero sekolah pasti akan memandang penuh iri melihatnya pulang bersama Jin Guk.
“Emm..” Hyi Me masih tampak berpikir.“Aku tidak bisa..”
Dara langsung memukul tangan Hyi Me agak keras. Dara makin memberi isyarat pada Hyi Me kalau ia harus memenuhi ajakan Jin Guk. Ini makin membuat Hyi Me bingung. Hyi Me tampak gugup dengan keadaan seperti ini. Lama ia diam, akhirnya...
“Bagaimana? Kau mau kan aku antar pulang?” tanya Jin Guk untuk kedua kalinya.
“Emm.. baiklah,” jawab Hyi Me lega.
Akhirnya hari itu Hyi Me diantar pulang oleh Jin Guk. Benar saja, seantero sekolah kembali heboh mendapati mereka berdua bersama lagi. Bahkan diantara mereka ada yang menyangka Jin Guk sudah menjadi kekasih Hyi Me. Tapi sejauh ini Jin Guk tampak tidak peduli. Wajahnya masih memperlihatkan raut yang dingin seperti pertama bertemu dengan Hyi Me.
Sebelum Hyi Me diantar pulang, Hyi Me dibawa ke salah satu danau di tepi kota, melihat pemandangan kota Seoul sore itu. Awalnya Hyi Me heran. Tapi kota Seoul terlihat begitu indah dan menawan. Langit sore tampak bersahabat dengan ibukota Korea Selatan itu. Ini membuat Hyi Me tersenyum karena begitu rindu pada kota kesayangannya ini.
“Kau sering kesini?” tanya Hyi Me memulai pembicaraan.
“Ya, dulu dengan ibuku aku sering ke tempat ini..” jawab Jin Guk seperti tertahan.
“Kenapa?” tanya Hyi Me.
“Tidak. Aku hanya rindu dengan orang tuaku.”
“Memang orang tuamu kemana?”
Jin Guk menarik nafas “Mereka sudah diambil Tuhan.”
Hyi Me terkejut. Ia menundukkan kepalanya. Ia jadi rindu pada kedua orang tuanya yang sama sudah lama pergi pula.
“Karena apa mereka pergi?” tanya Hyi Me lagi.
“Ceritanya panjang. Ibuku yang lebih dulu meninggal, sejak usiaku masih 12 tahun.”
“Aku turut berduka cita. Semoga mereka tenang disana.”
Jin Guk memandang Hyi Me lalu tersenyum.”Terima kasih.” lalu suasana berubah sunyi. Hanya desiran air danau dan keramaian kota yang terdengar di telinga. Sesekali tiupan angin menerpa rambut Hyi Me yang panjang dan agak pirang itu.
“Boleh kita pulang sekarang?” sela Hyi Me tiba-tiba. Jin Guk tersadar dari lamunannya.
“Oh ya, aku lupa. Ayo kita pulang,” ujarnya.
“Rumahmu dimana? Besok aku bisa menjemputmu lagi kalau mau,”
“Ah, tidak usah. Aku bisa pergi sendiri dengan bus kota.”
“Tidak apa-apa. Aku butuh teman mengobrol di mobil.”
“Hmm.. lihat saja besok.”
***
“Dia baik. Dia lembut. Kenapa dia harus dipaksa seperti itu?” tanya Robert kepada Mr.Hotman, pamannya.
“Justru itu, kita tidak akan melenyapkannya. Kita hanya harus membuatnya menjadi bagian dari kita. Kau mengerti kan? Dia tidak akan kita bunuh seperti ayahnya,” jawabnya Mr.Hotman sambil beberapa kali meniupkan asap rokok ke sekelilingnya.
“Sekarang, aku dipanggil semua orang bukan sebagai Robert. Sampai kapan Paman akan menyuruhku seperti ini? Jika suatu saat kedokku terbuka, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku.”
“Kau takut? Dengar keponakanku, ayahmu sudah berbuat banyak untukmu. Dia rela mengorbankan dirinya untukmu. Dan permintaan terakhirnya adalah ini. Kau tidak mau membalas kebaikan ayahmu?”
“Ayahku hanya berbuat baik padaku dan ibu saja, tapi tidak pada orang lain selain kalian.”
“Robert, ini permintaan terakhir ayahmu. Kau tidak menyayanginya?”
Robert terdiam sejenak.”Baiklah, Paman,” ujarnya kemudian.
***
Hyi Me dan Jin Guk menjadi dekat dan akrab sejak pertemuan mereka itu. Hyi Me seringkali diajak Jin Guk ke danau tepi kota untuk melihat pemandangan disana. Dia juga pernah diajak Jin Guk berbelanja, padahal ia tidak meminta apapun. Penampilan Hyi Me yang sedikit acak-acakan kini telah dipoles menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan beda dari biasanya karena Jin Guk. Tentu saja Hyi Me merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Dia merasa bukan siapa-siapanya Jin Guk, tapi Jin Guk memperlakukannya begitu baik. Kini satu kampus sudah tidak merasa heran lagi melihat mereka berdua sering bersama. Mereka sudah dianggap pasangan kekasih walaupun sebenarnya bukan.
“Suaramu bagus. Kau les vokal di kamar mandi ya?” gurau Jin Guk suatu ketika pada Hyi Me yang baru saja mendengarkan musik sambil mengikuti liriknya. Hyi Me yang mengetahui keberadaan Jin Guk langsung mengecilkan volume dan melepas headphone-nya.
“Enak saja! Kau mungkin yang suaranya seperti kaleng rombeng,” ledek Hyi Me balik.
“Wuh, walaupun aku bukan murid kelas vokal, tapi suaraku lebih bagus darimu.”
“Kau yakin? Ah kau bergurau. Aku tes vokalmu di atas panggung kampus. Berani tidak?”
“Berani. Siapa takut!”
“Kau bergurau kan?”
“Tidak, aku serius.”
Jin Guk segera berlari kecil menuju stage kampus. Semua pandangan langsung tertuju padanya ketika mikropon mulai dinyalakan.
“Selamat siang, semua! Siang ini saya tidak ingin bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk kalian semua, terutama untuk ibuku yang tersenyum di alam sana, dan.. Hyi Me, yang membuat saya ingin berdiri disini untuknya.”
Dengan sekejap tiba-tiba semua pandangan beralih pada Hyi Me. Hyi Me bingung harus berbuat apa. Ia hanya bisa terpaku dan kemudian menunduk melihat semua orang memandang ke arahnya. Suara piano tiba-tiba mengalun lembut di telinga setiap orang yang mendengarnya. Tak selang berapa saat, suara Jin Guk yang.. oh.. begitu merdunya mengalun lembut pula mengiringi suara musik yang langsung membius semua orang yang mendengarnya.
Mata Hyi Me terbelalak seketika mendengar suara Jin Guk yang begitu merdu. Ia tak pernah menyangka Jin Guk pun bisa bernyanyi lebih darinya. Ditambah suara rapp khas yang cocok dengan karakter suaranya, membuat suasana kampus makin terlihat seru dan ramai dengan penampilannya itu. Membuat semua orang mengikuti alunan musik dan bernyanyi. Tiba-tiba Jin Guk sudah berada di dekat Hyi Me dengan sambil bernyanyi lalu mengajak Hyi Me naik ke atas stage. Hyi Me jadi salah tingkah tentunya. Jin Guk mengajaknya bernyanyi dan menari tapi dia gugup, padahal dia lebih sering tampil di atas stage dibanding Jin Guk yang dikenal sangat dingin itu.
Tak selang berapa lama setelah alunan musik berhenti, suasana berubah jadi hening. Jin Guk berlutut di depan Hyi Me. Hyi Me jadi makin bingung, apa yang akan Jin Guk sampai berlutut seperti itu?
“Hyi Me, I love you..” ujar Jin Guk lirih sambil memegang tangan Hyi Me. Apa? Hyi Me kaget tak karuan. Dia memandang sekelilingnya, semua orang memperhatikannya sambil tersenyum, tanda mendukungnya. Tapi ia tidak yakin apa yang diucapkan Jin Guk barusan. Mungkin saja ia salah dengar.
“Apa? Kau bilang apa?” tanya Hyi Me meyakinkan.
“Haruskah aku bilang beberapa kali? Baiklah. Akan kukatakan lebih keras beberapa kali di depan mereka,” tiba-tiba Jin Guk menjadi nekat.”Hyi Me... I love you! I love you! I love you! Kau sudah dengar kan?”
Hyi Me tertawa kecil.”Kau bergurau ya?”
“Aku tidak bergurau. Kau tidak mempercayaiku?”
“Aku tidak percaya. Tidak mungkin..”
“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya?”
Hyi Me langsung terdiam. Dia langsung berlari meninggalkan stage. Semua orang yang menyaksikan dengan syahdu, tiba-tiba menjadi heran melihat tingkah Hyi Me.
“Hyi Me..” tahan Dara yang barusan dilewatinya. Tapi Hyi Me tidak peduli dan terus menerobos. Jin Guk segera mengejarnya sambil memanggil namanya.
***
“Sedang apa kau disini?” Jin Guk tiba-tiba datang tanpa Hyi Me ketahui. Tapi Hyi Me tidak berani berbalik. Ia malu sekaligus bingung. Ia ingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat kekasihnya meninggalkannya demi wanita lain. Ketika Jin Guk menyatakan cinta padanya, dia serasa tidak mau menerima kenyataan kalau masih ada lelaki yang peduli padanya, yaitu Jin Guk.
“Aku pun tidak pernah menyangka aku bisa mengatakan ini padamu. Aku sadar, banyak wanita yang mendekatiku, tapi tak ada satupun yang bisa membuatku nyaman. Mereka hanya melihatku dari harta, tampang, dan kemampuan. Dan itu tak pernah membuatku nyaman. Maaf, jika kemarin aku lancang. Tapi, ini aku ungkapkan dari hatiku yang paling dalam. Maaf, Hyi Me..”
“Kau.. tidak perlu meminta maaf. Ini bukan suatu kesalahan. Itu hakmu untuk berbuat sesuatu. Aku hanya.. tidak siap,” jawab Hyi Me pelan. Hyi Me masih memandang pemandangan kota Seoul di tepi danau yang biasa ia datangi bersama Jin Guk. Sejak Jin Guk sering mengajaknya ke tempat itu, dia jadi merasa nyaman dengan tempat itu. Apalagi saat dia sedang mendapat masalah, tempat yang pertama ia datangi adalah tempat ini.
Jin Guk mendekat ke samping Hyi Me, ikut menikmati pemandangan kota sore itu. Kemudian ia menghadap di depan Hyi Me, membuat Hyi refleks berbalik padanya. Ia raih tangan Hyi Me yang lembut itu. Pemandangan kota yang begitu indah tiba-tiba menderu keadaan mereka berdua yang begitu romantis. Burung-burung dan desiran air danau seakan ikut bernyanyi menyaksikan romansa yang begitu indah sore itu. Jin Guk tak berkata apa-apa, tapi dada Hyi Me tiba-tiba bergetar hebat.
Wajah Jin Guk tiba-tiba mendekat. Hyi Me menyadari hal itu saat nafas hangat dari hidung Jin Guk langsung membuat detak jantungnya bergetar tak karuan. Binar matanya yang menyejukkan tiba-tiba melelehkan hati Hyi Me seketika. Sesaat kemudian, bibirnya sudah menempel indah dengan bibir Jin Guk. Di tengah senja ini. Romansa ini. Hyi Me tak bisa berkata apa-apa lagi saat lumatan bibir Jin Guk makin terasa manis di bibirnya.
***
“Terima kasih untuk sore yang indah ini. Maaf jika aku lancang,” ujar Jin Guk saat mereka sudah berada di dalam mobil. Hyi Me hanya terdiam. Dia tak menyangka akan merasakan romansa seindah ini dengan lelaki yang baru dikenalnya belum lama ini.
Mobil segera melaju kencang di jalanan. Hyi Me masih terdiam. Dadanya masih bergetar hebat seperti saat di danau tadi. Tapi Jin Guk tetap tenang dan dingin seperti biasanya mengendarai mobil. Setelah beberapa lama di dalam mobil, Hyi Me baru sadar kalau ini bukan jalan menuju rumahnya. Ini juga bukan jalan menuju pusat kota atau tempat lainnya yang biasa ia datangi bersama Jin Guk. Ia ingat jalan ini adalah jalan yang dilalui para mafia saat berhasil menculiknya. Jalanan yang tidak begitu besar dan tidak begitu kecil. Sangat sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang. Kini dada Hyi Me bergetar kencang bukan karena kejadian tadi, Hyi Me merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Kau mau membawaku kemana?” tanya Hyi Me panik.
“Ke rumahku,” jawab Jin Guk tenang.
“Ini jalan yang sering dilalui para mafia, Jin Guk. Kita berbahaya jika kesini!”
“Tapi rumahku ke arah sini.”
Hyi Me menyipitkan matanya, mulai curiga.”Mau apa kau membawaku ke rumahmu? Kau tidak main-main kan?”
Jin Guk menambah laju kecepatan mobilnya, seperti tidak peduli pada perkataan Hyi Me.
“Hey kau, aku sedang tidak main-main! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku??” Hyi Me makin kesal dengan sikap dingin Jin Guk. Jin Guk masih diam. Tak selang kemudian, mobilnya berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar dan megah. Ya, itu rumah Jin Guk. Tapi di dalamnya sudah ada beberapa orang yang sedari lama menunggu kedatangan Hyi Me, termasuk Mr.Hotman, adik dari mafia terbesar di Korea Selatan.
“Hyi Me, maafkan aku. Aku melakukan ini demi ayahku. Aku tak mau mengecewakannya,” ujar Jin Guk lirih sambil terus memandang ke arah depan.
“Apa? Apa maksudmu??” Hyi Me makin panik dan takut atas apa yang akan terjadi padanya.
“Ayo keluar dari mobil! Ikut aku.”
“Kau mau apa?”
Jin Guk langsung menarik tangan Hyi Me dan membawanya ke dalam rumah. Hyi Me mencoba melepaskan tangannya tapi genggaman tangan Jin Guk sangat erat. Perasaan Hyi Me makin tidak enak saat pintu yang hampir sebesar gerbang kerajaan itu mulai dibuka. Ruangan yang hampir redup kemudian sedikit demi sedikit berubah menjadi terang itu mengingatkan Hyi Me akan kejadian beberapa bulan yang lalu.
Tampaklah beberapa wanita cantik berpakaian glamour dan minim serta beberapa banyak lelaki dewasa yang memakai jas panjang hitam, memakai topi hitam, beberapa diantaranya ada yang duduk di kursi kehormatan dan ada yang berdiri di samping mereka juga. Dan di ujung sana, tampak seorang yang sangat dikenal Hyi Me beberapa bulan lampau, ketika ia berhasil ditangkap... Mr.Hotman, Paman Jin Guk alias Robert!
Jin Guk menghindar menjauhi Hyi Me saat dua orang ajudan memegangi dan menahan tangannya.
“Apa ini? Apa yang kau lakukan padaku, Jin Guk?” Hyi Me berusaha melepaskan genggaman tangan dua ajudan itu, tapi apa daya, genggamannya terlalu kuat juga.
Sekarang Hyi Me mengerti, kalau Jin Guk adalah anak dari ketua mafia yang sudah mati itu. Pantas ia tidak mau menceritakan perihal kematian ayahnya pada Hyi Me, karena pasti Hyi Me akan mengerti. Trik Jin Guk alias Robert mendekati Hyi Me untuk membawanya pada pamannya ternyata memang berhasil. Dan Hyi Me terpancing. Tiba-tiba mata Hyi Me berkaca-kaca setelah mengerti yang sebenarnya.
“Jin Guk...” ujarnya berat dan tertahan oleh air mata yang hampir jatuh.
“Aku sudah bilang padamu, Hyi Me..”
Pandangan Hyi Me menyipit tertuju pada Mr.Hotman yang ada di ujung sana.
“Hey kau! Kakakmu sudah mati! Tapi kau manfaatkan anaknya untuk berbuat ini padaku! Kau punya hati tidak? Kau benar-benar tidak punya otak!” wajah Hyi Me memerah sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman para ajudan itu. Sedangkan di ujung sebelah sana, tampak wajah Jin Guk yang kelihatan merasa sangat bersalah, tapi berusaha disembunyikan.
Mr.Hotman hanya tersenyum dengan puntung rokok yang menyelip di bibirnya.
“Bawa dia ke atas!” tanpa basa-basi apapun, Hyi Me langsung dibawa para ajudan ke atas, diikuti oleh dua orang wanita cantik yang ada disana.
“Tidak! Aku tidak mau!” sekuat tenaga Hyi Me ingin melepaskan sekapan para mafia itu, tapi sulit. Jin Guk masih terdiam tak berani berbuat apa-apa. Dalam hatinya, ia ingin sekali menahan para ajudan itu dan membawa Hyi Me lari dari tempat itu kemanapun asal Hyi Me terselamatkan. Tapi... ia memasukkan tangan kanannya ke saku jas yang ia pakai. Dan.. Duarr duarrrr!!
“Jangan bergerak!” tembakan itu berasal dari pistol Jin Guk. Semua orang langsung berhenti dari aktifitasnya di ruangan itu.”Letakkan semua senjata kalian, atau kutembak kalian satu persatu hingga tak ada yang bernyawa!”
“Jin Guk..” suara Hyi Me menderu terlihat khawatir.
Mr.Hotman berdiri sambil menodongkan pistol ke arah Jin Guk.”Kau mau macam-macam, Robert?”
“Aku hanya minta kalian melepaskan Hyi Me!”
“Bagus sekali usahamu, Robert! Kau mau jadi pahlawan kesiangan? Kau yang menculiknya, sekarang kau mau menyelamatkannya? Sudah terlambat!”
“Dengar, aku tidak ingin meminta apapun pada kalian. Aku hanya ingin kalian melepaskan Hyi Me! Dia tidak bersalah. Dia hanya korban!”
“Percuma saja, Robert. Hyi Me sudah berada di tangan kami dan kami tidak akan pernah melepaskannya.”
“Oh ya? Apa kau yakin, PAMAN?” Jin Guk masih terus mengarahkan pistolnya pada sekelilingnya terutama pada Mr.Hotman.
Duarrr!! Peluru itu langsung mengarah ke Mr.Hotman, dan.. dia berhasil menghindar. Terjadilah tembak-menembak antara Jin Guk dan para mafia. Dan untungnya Jin Guk pandai menghindar dan menembak. Para ajudan banyak yang berjatuhan karena peluru Jin Guk. Tinggal beberapa ajudan dan tentunya Mr.Hotman serta para wanita yang ada di ruangan, yang segera bersembunyi di tempat yang aman dan sedikit tertutup dari kejaran peluru-peluru yang beterbangan. Hyi Me yang berhasil melepaskan diri dari ajudan yang menyekapnya, segera bersembunyi di balik buffet di ujung ruangan.
Tembak-menembak masih terjadi. Satu dari beberapa yang tersisa sudah berhasil terkena peluru Jin Guk. Beberapa kali Mr.Hotman memburu Jin Guk, tapi ia berhasil lolos. Namun saat dia merasa bebas, tiba-tiba peluru kesekian dari Mr.Hotman bersarang di perutnya! Hyi Me sontak langsung menjerit melihat Jin Guk terjatuh tak berdaya sambil memegangi perutnya. Hyi Me berusaha melawan rasa takutnya, dan berlari menghampiri Jin Guk. Mr.Hotman meniup ujung pistolnya, merasa puas dan menang dengan terjatuhnya keponakannya itu.
“Jin Guk..” ujar Hyi Me sambil berlinang air mata saat mendapati darah sudah mengalir deras di lantai.
Tak selang berapa lama, terdengar suara riuh diluar sana. Seperti suara para polisi dan para anggota pertahanan negara, dan...
“Jangan bergerak!!” pintu digebrak dan beberapa anggota berseragam tentara dan polisi menodongkan senjatanya ke sekeliling ruangan.
“Jatuhkan senjata kalian!” ujar salah seorang polisi. Mr.Hotman terlihat berusaha kabur tapi polisi berhasil menembak kakinya. Beberapa ajudan lain sudah tidak ada yang bisa berkutik lagi. Tanpa basa-basi lagi mereka ditahan dan dibawa ke mobil tahanan, tak terkecuali Mr.Hotman yang kakinya sudah berdarah-darah karena terkena peluru dari para polisi.
Hyi Me merasa sedikit lega dengan kedatangan para anggota tentara dan polisi itu, tapi rasa khawatirnya pada Jin Guk masih lebih besar. Jin Guk terlihat sudah sangat lemah sekali. Air mata Hyi Me mengalir makin deras sampai menetes di baju Jin Guk.
“Hyi Me..” ujar Jin Guk sambil menahan kesakitan.
“Kau kuat, Jin Guk. Kau kuat! Katakan kau bisa hidup!” Hyi Me makin meneteskan air mata yang lebih deras lagi.
“Maafkan aku, Hyi Me.. aku.. bukan..laki-laki yang..baik untukmu.. Aku jahat!”
“Tidak, Jin Guk. Kau sangat baik padaku. Bahkan kau rela tertembak pamanmu sendiri demi menyelamatkanku.”
Jin Guk tersenyum di tengah rasa sakitnya yang makin menghebat itu.
“Kau tahu.. aku lebih senang.. menjadi Jin Guk.. daripada.. menjadi Robert! Jika aku menjadi Robert.. aku merasa.. menjadi salah seorang.. penjahat..”
“Dengar, mau kau Robert atau Jin Guk, aku tidak peduli. Kau itu kau. Aku menyayangimu sebagai dirimu sendiri, tidak Robert tidak Jin Guk, tapi kau! Aku mencintaimu, aku sangat sayang padamu apapun yang terjadi!”
Jin Guk pun tersenyum lagi menahan sakit. Tak selang berapa lama..
“Jin Guk..!! Aku tak peduli kau Robert atau Jin Guk. Tapi, kumohon jangan tinggalkan aku... JIN GUUK!!!!” air mata Hyi Me kini tak terbendung lagi. Semuanya tumpah di atas baju Jin Guk. Ia coba menyadarkan Jin Guk, tapi apa daya. Hanya tangisannya serta suara sirine polisi dan ambulans yang terdengar. Tidak suara Jin Guk. Mengiris hati Hyi Me.
***
Kini, Hyi Me hanya bisa mendatangi danau ini sendirian, tanpa ditemani Jin Guk lagi. Ia tak pernah berpikir kalau kejadiannya akan seperti ini. Jin Guk, yang baru dikenalnya di airport, yang tak pernah ia sangka kalau ia akan dekat dengan pemuda itu, yang tak pernah ia sangka kalau pemuda tampan itu akan menyatakan cinta padanya di depan banyak orang, yang tak pernah ia sangka kalau ternyata pemuda itu adalah Robert, putra tunggal dari Mr.Albert Young, mafia terbesar di negara ini. Jin Guk yang dingin, tapi sangat menarik banyak orang, termasuk ia. Tak ia sangka tempat ini bukan hanya menjadi tempat pelepas penat dan masalahnya yang lalu, tapi tempat menjadi kenangan paling indah bersama Jin Guk. Tak sia-sia Jin Guk sering mengajaknya ke tempat ini, karena ini mengingatkannya pada Jin Guk saat romansa itu terjadi.
“Jin Guk..” ujarnya lirih.”JIN GUUUUK!!” dengan sekuat tenaga ia berteriak melepas nama itu ke udara agar ia sedikit lega.
“Apa?” suara seseorang yang sangat dikenalnya tiba-tiba terdengar lagi.
“Jin Guk?” ujarnya dalam hati. Lalu ia berbalik.
“Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi sampai aku benar-benar mati suatu hari nanti. Aku berjanji akan selalu menjagamu, menjadi bagian yang paling penting dalam hidupmu, mengindahkan hidupmu, jika kau masih mau menerimaku.”
“Kau bukan Jin Guk?” tanya Hyi Me ketika mendapati lelaki itu membelakanginya. Lalu laki-laki itu berbalik.
“Bukan, aku Robert..” ujarnya sambil tersenyum.
“Jin Guuuk!” Hyi Me berlari menghampiri dan memeluk Jin Guk. Jin Guk pun membalas pelukan hangatnya dengan mengelus-elus rambut Hyi Me yang panjang lurus.
“Kau jangan pernah bersedih lagi ya. Aku masih disini, sampai kapanpun.”
(Soundtrack lagu 2PM – Again Again)

TAMAT





0 komentar