Cerpen: Cinta Butuh Kejujuran
00.19Selembut kapas yang belum dipetik
Seharum bunga terharum di jagat raya
Secerah sinar mentari pagi sejatinya selalu menghangatkan angan
Seberapa cepat bumi berputar pada porosnya
Itulah seberapa pikiranku menerawang dirimu
Mata yang indah menusuk ulu cinta
Sikap yang luar biasa dan tak terduga
Sederhana tapi sempurna
Mata yang indah menusuk ulu cinta
Sikap yang luar biasa dan tak terduga
Sederhana tapi sempurna
Merayu dan terus merayu pikiranku
Entah apa yang kulihat ini benar atau tidak
Tapi aku harap ini benar
Tapi tanpa diharapkan pun, ini sudah pasti benar!
Kau.. pemilik mata indah itu, akan kutunggu derap langkahmu menuju taman terindah di tengah kota, sore ini.
Sweet greet,
Ryan
Baru saja puisi nan indah dan sederhana itu bermain-main di retina mataku. Mulutku sontak menganga lebar. Heran? Sudah pasti. Tapi, yang tidak menentu itu rasa kaget yang tidak beraturan. Rasanya dada ini berdegup lebih kencang dari biasanya. Nafas sulit diatur. Bukan karena tiba-tiba aku merasakan desiran sesuatu yang berbeda dari kata-kata tersebut, tapi.. sejak kapan dia menyukaiku? Maksudnya.. sejak kapan dia bisa senekat ini? Aku gelengkan kepalaku.
Ryan, model cover boy yang sering dimirip-miripkan dengan artis Boy William itu, kertasnya.. ini.. Ah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Semua gara-gara Helen. Dia pasti bilang macam-macam sama Ryan. Padahal kemarin, aku cuma bercanda, hey! "Astaga, Helen! Mana anak itu?" gerutuku spontan. Sudah dapat banyak ancaman masih saja nekat. Dan sumpahnya, kemarin aku cuma bercanda.
"Len, nih! Nih pasti gara-gara lo!" aku segera menyerahkan kertas tadi pada Helen.
Helen segera membuka kertas itu. Dan sesaat, matanya berbinar kegirangan. Senyumnya mengembang.
"Des, ini dari Ryan? Haha.. gue bilang juga apa," ujar Helen tergirang sambil memukul pundakku.
"Apa? Masih bilang kata lo apa? Aduh, Helen.. gue tuh gue cuma bercanda. Gak ada maksud buat serius. Oke, kalo gitu, gue bakal aduin masalah lo ke Adam tentang si Darma"
Aku hendak pergi tapi Helen mencegah. Dari matanya tersirat sebuah kekhawatiran, hanya sedikit. Tertutupi oleh sikapnya lumayan centil itu.
"Eh, jangan dong, Des. Lo gak kasian sama gue? Gue udah jarang sms-an lagi kok sama Darma." Helen membungkus tangan kananku dengan kedua telapak tangannya ditambah wajah tak karuan.
"Makanya! Lo jangan maen-maen dong. Gara-gara lo, gue disuruh ke taman kota sama dia. Apa-apaan coba?"
"Ya udah, Des. Dateng dulu aja. Siapa tau.. dia mau nraktir lo juga."
"Traktir apaaan?? Gue gak peduli pokoknya, mau dia nraktir, nraktor, gue gak mau dateng. Bilangin ya!"
Kali ini aku benar-benar pergi. Helen mengikuti dari belakang sambil mengoceh. Aku tidak peduli dan tidak mau peduli dia mau mohon-mohon atau apapun. Berkali-kali dia membuntutiku sambil meneriaki namaku. Aku menutup telinga.
"Gue gak peduli!" jawabku sambil menutup telinga saat berkali-kali suara cempreng Helen mengejarku.
"Des, udah dateng aja. Lo gak ngehargain gue sih?"
"Gak. Gak mau!"
"Des.. Ayolah.."
***
Aku mematung di depan gerbang taman kota. Hatiku berdegup tak karuan. Aku juga heran, kenapa dadaku berisik dari biasanya? Yang jelas bukan karena aku tiba-tiba berubah suka pada Ryan. Kadang, aku juga suka jadi galau sendiri jika sewaktu-waktu merasakan hal yang serupa. Aku coba mengatur nafasku berkali-kali. Helen selalu jadi biangnya Sudah beribu kali pula aku menolaknya. Ini seperti lelucon. Semakin kesini, dadaku makin berisik, entah kenapa. Aku teruskan langkahku menuju bangku taman yang paling teduh di ujung sana.
Setelah agak lama menunggu, "Hey.." suara yang agak bergetar mulai terdengar seperti menyapa ke arahku. Tiba-tiba Ryan duduk di sampingku.
"Udah lama?" tanyanya sambil berusaha mengatur nafas. Dia seperti habis lari-lari. Aku hanya memandang lurus ke depan, tidak sama sekali memandang wajahnya. Malu sekaligus gereget pada Helen.
"Enggak kok, baru setengah jam!" jawabku agak meninggi.
"Serius? Kenapa lo gak sms gue? Eh.."
Hatiku terkelitik sesaat, membuatku berani memalingkan wajah ke arahnya.
"Gokil! Punya nomor lo aja enggak! Eh.. deket sama lo aja enggak." Sedetik, aku memalingkan wajahku ke arah semula.
"Eh iya, sorry.. gue lupa, refleks. Hehe.." Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kemudian, kami saling berdiam beberapa saat. Agak lama sih. Baru setelah tidak sengaja kakiku menginjak sepatunya, dia refleks bicara.
"Lo.. udah baca puisi jelek gue?" tanyanya memulai perbincangan.
"Udah," jawabku singkat.
"Terus?"
"Terus apa?"
"Terus gimana tuh puisinya? Jelek ya? Kalo gue tempel di mading, gimana?"
Aku menyipitkan mataku dan memberanikan diri menatap wajahnya.
"Lo kesini mau nanya itu doang? Lo kan bisa tanya Helen, atau siapa kek. Gak usah ke gue."
"Yaelah, sensitif banget sih, Bu. Gue cuma mukodimah aja. Biar gak garing aja."
"Itu bukan mukodimah."
Berkali-kali, aku memalingkan wajah dan kembali menatap Ryan setiap ia selesai bicara. Aku tidak ingin bicara sambil bertatap muka, sebenarnya.
"Yaudah, gue mau mukodimah," lanjutnya serius. Kedua tangannya dieratkan berpangku di atas kedua pahanya. Kepalanya tertunduk, sesekali menatap ke depan. Suasana tiba-tiba hening.
Belum sampai 2 menit, aku bangkit. Aku beranjak pergi dari hadapan Ryan. Dan tentu saja Ryan mencegah.
"Des, mau kemana?" Ryan meraih tanganku, dan dengan refleks aku lepaskan lagi.
"Lo ngabisin waktu gue. Gue masih banyak urusan. Lain kali aja."
"Urusan apa, sih? Masih SMA banyak urusan." Ryan kembali meraih tanganku. Dan lagi, aku melepaskannya sambil berpaling ke wajahnya, sangar.
"Terserah gue, dong. Ini hidup gue."
"Des.. gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ryan masih belum menyerah mencegahku pergi. Dan lagi, aku refleks melepaskannya. Sampai ke depan gerbang taman.
"Mau ngomong apa sih? Gue udah gak mau ngomong apa-apa sama lo. Gue udah gak kenal sama lo."
"Yaudah, kita kenalan dulu kalo gitu."
Aku tersenyum sinis. "Gak lucu. Udah ya, gue mau pulang. Bye.."
Aku segera menyetop angkot yang kebetulan lewat.
"Des.."
***
Halo. Aku Desi. Dulu aku pernah punya hubungan dekat dengan Ryan, saat kami masih pisah sekolah. Hubungannya memang terbilang spesial. Jika aku sebutkan sebagai suatu 'relationship', aku rasa itu terlalu mendalam. Aku tidak begitu serius dengan Ryan. Namun untuk suatu hubungan persahabatan, aku rasa pun kami lebih dari itu. Ryan itu istimewa buatku. Ia yang pernah buat hari-hariku berwarna seindah warna-warna kesukaanku. Ia bilang kami lebih dari sekedar sahabat, tapi aku bilang aku belum siap jika untuk pacaran. Entah kenapa, aku belum pernah diberi kesiapan untuk pacaran, dengan siapapun. Akhirnya kita terjebak dalam suatu 'hubungan tanpa status'. Dan ia bilang, ia akan selalu setia menungguku sampai aku mau jadi pacaran.
Tapi, aku rasa kata 'setia' itu hanya sebuah alibi. Alibi besar sampai menutupi sesuatu yang tidak aku ketahui. Ternyata, di luar sana ia sudah mempunyai pacar, benar-benar pacar. Bukan status kosong sepertiku. Dan di belakangku, ia sering bilang bahwa ia sangat mencintai pacarnya itu. Sampai rela mengorbankan apapun demi dia. Aku rasa, yaa.. aku merasa bahwa, perasaannya yang sebenarnya adalah untuk pacarnya itu. Jadi, semenjak itu, aku putuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Aku hapus dia dari list pertemanan facebookku, aku blokir twitternya, aku hapus semua akun sosial medianya, aku hapus nomor handphonenya dan langsung ganti nomor, aku hapus segala komunikasi yang bisa berhubungan dengannya. Sampai akhirnya ia pindah ke sekolahku. Ia jadi murid baru di sekolahku!!!
Awalnya aku risih. Tapi aku coba untuk tidak peduli dan pura-pura tidak mengenalnya. Berkali-kali berpapasan dengannya, ia tidak menyapaku, tapi melihatku dengan salah tingkah. Aku tidak peduli. Lagipula, tujuanku adalah tidak berkomunikasi lagi dengannya. Sampai ia tau aku memblokir semua nomor dan akun sosial medianya, sampai ia tau, aku tidak pernah mengaku kenal dengannya atau tahu apapun tentangnya, aku masih tetap tidak peduli. Aku tidak peduli apa yang dirasakannya. Yang terpenting, tujuanku hanya satu, mengakhiri komunikasi dengannya. Just that.
***
"Des, gimana? Gimana tadi? Ryan bilang apa aja?" tiba-tiba Helen datang menyerobot posisi dudukku. Aku langsung mendorong Helen ke sebelah kanan dan mengembalikan posisi dudukku.
"Kepo," jawabku santai sambil membuka-buka majalah. Wajah Helen terlihat agak kecewa.
"Yaah.. lo gak mau cerita ke gue gitu? Dikit.. aja."
"Gak mau."
"Ciee.. gue tahu. Pasti kalian berdua udah.. ehem.. Yaudah, gue harap kalian tadi baik-baik aja, gak ada insiden apapun."
Aku tidak ingin berkomentar apapun. Mataku fokus membaca majalah tapi fikiranku kemana-mana.
"Pokoknya, gue gak bakal nyerah. Demi sahabat gue! Kalian berdua harus bersatu lagi! Pasti bisa!" Helen mengangkat satu kepalan tangannya begitu semangat. Aku hanya memandang heran.
"Udah, gak usah lebay. Tenang aja lagi, gue ini orangnya gak suka yang ribet-ribet. Jadi, untuk lupain dia, itu bukan suatu hal yang susah."
"Jadi, lo belum lupain dia sampai sekarang?"
"Kapan gue bilang?"
"Barusan."
"Enggak ih."
"Barusan. 'untuk lupain dia, bukan hal susah', berarti lo belum bisa lupain dia ya? Hayoo ngaku aja lo!"
"Gak!" Aku coba fokus membaca majalah di tanganku sekarang. Dan Helen mulai menjadi. Mulutnya tidak berhenti bicara. Sekarang aku tidak ingin menutup telingaku lagi, tapi aku coba tidak mendengarkan semua ocehan Helen apapun tentang Ryan. Dan sepanjang ocehannya malam ini, topiknya masih tentang Ryan, seputar hal-hal tidak penting yang tidak ingin aku ketahui.
Helen dan Ryan itu satu ekskul. Jadi pantas kalau ia tau banyak tentang Ryan. Kadang Helen juga suka keceplosan, eh.. memang sengaja, menceritakan semua tentangku pada Ryan. Kadang aku ingin mempitesnya seperti kutu. Tapi dia sahabatku, aku tidak bisa menuntutnya terlalu banyak sesuai perkataanku. Makanya aku masih membiarkannya berbuat sesuka hatinya walau kadang rasanya aku ingin memarahinya.
Tiba-tiba handphone-ku bunyi, tanda ada sms masuk. Waktu kulihat, nomor baru. Tidak ada nama pengirimnya.
"Heh, lo ngasih nomor gue sama dia?" tiba-tiba saja aku refleks menuduh Helen saat aku lihat text message itu dari Ryan.
Helen cengengesan. Aku manyun.
"Leeen.. lo bisa gak, diem dulu sama masalah ini? Lo gak ngerti sih masalahnya."
"Gue ngerti kok. Bahkan gue yang lebih ngerti. Lo sendiri yang malah gak ngerti sama perasaan lo."
"Tapi gue yang lebih ngerti, Len. Simple aja, dia bukan cowok satu-satunya."
"Iyalah. Kan masih ada bokap lo, bokap gue, kakak lo, Reza, Danis, Adam.." Dan penyakit tulalitnya kambuh lagi. Aku hanya bisa memutar bola mata.
"Len.. Helen.. Bukan gitu maksudnya," tangkisku. Dan Helen malah cengengesan lagi.
Aku beralih fokus pada layar sentuh lebar di depan mataku. Aku bingung, harus jawab apa. Ryan mengajakku ketemuan di taman sekolah besok saat jam istirahat. Ia nampaknya masih belum menyerah juga. Ini pun masih gara-gara Helen. Helen terlalu ngotot. Aku memandang layar itu agak lama. Sedangkan di sampingku, Helen masih menunggu apa yang akan aku lakukan. Balas, atau tidak.
***
Hari ini aku lihat ada ramai-ramai di depan mading. Beberapa anak yang lewat tiba-tiba saja langsung menyangkut di depannya. Bukan karena paku, tapi sepertinya ada sesuatu di mading. Ah, aku tidak peduli. Paling cuma edisi baru yang isinya cerpen atau puisi dari anak-anak. Aku lewati saja kerumunan itu. Tapi tiba-tiba..
"Weeeh, kayaknya ada yang bakal ditembak tuh," ceplos salah satu anak yang spontan menghentikan langkahku. Aku menoleh. Hah. Mereka semua melihat ke arahku. Ada apa ini? Aku heran. Tak tanggung-tanggung, langsung aku serobot mereka untuk melihat isi mading. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres.
HAH?! RYAN SIALAN!! Puisinya benar-benar ditempel di mading! Dan kemarin itu memang benar-benar bukan lelucon. Dia membuatnya untuk mading, bukan untuk apa-apa lagi selain itu! Dan kemarin dia benar-benar sudah mengerjaiku! RYAAAN!!!!
"Puisinya bagus lho, Des. Gue suka. Nanti lo harus terima dia," ujar Reza menggoda-goda. Aku beralih menatapnya agak sinis tapi kasar.
"Makasih!!" jawabku sambil beranjak sinis.
Aku berjalan penuh kesal dan amarah. sbegitu teganya sampai i mempermainkanku seperti ini. Bukan kesal karena menyesal sudah datang ke taman kota waktu itu, tapi kesal karena aku sempat sedikit merasa ge-er. Ya, GR. Aku ge-er, entah kenapa harus ge-er. Aku lebih baik dilanda JR Project daripada harus dilanda GR gara-gara dia (apa hubungannya? -___-). Kenapa? Ada yang salahkah? Aku sebel sama dia tidak ada yang salah kan? Semoga.
"Hey, mantannya Ryan ya?" tiba-tiba sebuah suara lembut campur serak basah terdengar di telingaku. Aku merasa tersindir, walaupun sebenarnya bukan. Aku menoleh. Ternyata anak itu sudah berdiri dengan dua tangan di depan dada, seperti menantangku. Tapi aku coba positive thinking dan menghilangkan pikiran aneh tentangnya. Anak cantik itu..
"Gue yang nempelin puisi itu di mading, kenapa? Lo marah ya?" lanjutnya, dan membuatku refleks kaget. Siapa dia? Maksudnya apa? Bukan Ryan…?
"Elo? Maksud lo apa? Ngapain lo ikut campur urusan gue?"
"Emang masalah ya kalau gue ikut campur?"
"Masalah dong! Lo siapa? Gue juga gak kenal. Gue cuma tau lo anak basket. Itu aja."
"Sebelumnya sorry, gue temennya Tiara. Lo tau Tiara, pacarnya Ryan?"
Aku mengkerutkan kening, heran. Aku ingat nama pacarnya Ryan, ya, Tiara. Tapi, maksudnya apa dia mancing-mancing begini? Terus, apapula hubungannya denganku?
"Terus, kenapa? Apa masalahnya sama gue?"
"Gue cuma mau kasih tau, tolong banget, jangan jadi pengganggu hubungan Tiara dan Ryan. Mereka itu udah pacaran hampir setahun. Masa lo tega ngacauin hubungan mereka yang hampir serius itu?"
Aku makin mengkerutkan kening, semakin heran. Aku tanya lagi dalam hati, sejak kapan aku berniat buat menghancurkan hubungan mereka? Bahkan tentang mereka pun aku sama sekali tidak pernah tahu, semenjak aku putuskan komunikasi dengan Ryan. Kenapa masih saja ada orang bicara begini? Aku heran, apa motivasinya, sampai berani bicara begini padaku?
"Maksud lo apa sih? Lo aneh deh. Jangan ngada-ngada," seruku heran.
"Kok lo bisa nanya gitu? Apa ada yang salah dari pertanyaan gue?"
"Ya mana gue tau. Lo tiba-tiba dateng, bicara gitu, tanpa ada motivasi apapun. Gue gak ada hubungan apa-apa sama Ryan. Gue juga baru tau orangnya, gue gak kenal sama dia. Jadi lo gak usah asal nuduh ya, makasih." Aku segera beranjak pergi tanpa bicara panjang lebar. Da sepertinya anak itu mengikuti dari belakang.
"Hey, gue tau lo pernah punya hubungan sama Ryan. Omongan lo tadi bohong, gue tau," ujarnya dari belakang. Aku tetap berjalan dan tidak menoleh. Dan ia masih tetap saja bicara sambil mengikutiku.
"Dan gue tau juga… Ryan jadiin Tiara bukan sebagai Tiara, tapi sebagai lo!"
Tiba-tiba langkahku terhenti. Aku kaget. Nafas menjadi sesak sesaat. Mendengar itu membuatku tidak berani mengangkat kaki kembali. Entah kenapa, seperti sangat berat. Padahal, aku rasa itu bukan suatu masalah. Ya, sebelah hatiku bicara, itu bukan suatu masalah, hanya masalah kecil. Tapi, tapi.. sebelah lagi, sepertinya bicara lain, bertolak belakang. Sumpah, apa sejauh itu? Apa seberlebihan itu, Ryan?
***
"Tiara gak pernah merasa jadi dirinya sendiri semenjak jadian sama Ryan. Dia merasa jadi orang lain. Dia merasa Ryan memperlakukan orang lain, bukan dia. Dia merasa jadi lo, gue rasa!" jelas Fira, anak basket itu, yang tak lain adalah teman dari Tiara.
Aku tidak menyangka. Benar-benar diluar pikiranku selama ini. Satu tahun ini, aku memang berhasil melupakan semua tentang Ryan. Aku memang berhasil menjadikan diriku terbebas dari kekangan beban perasaan yang dirasakan orang lain di saat seperti ini, pada umumnya. Ya, aku berhasil. Dan aku kira, dengan menjadi pacar Tiara, dia pun akan berubah dan berhasil melupakan tentangku juga. Tapi jadinya seperti ini. Ryan terlalu berlebihan.
"Tapi, kenapa dia masih mempertahankan Ryan? Tau Ryan udah memperlakukannya kayak gitu."
"Ya jelaslah, apalagi kalau bukan karena udah sayang banget sama Ryan? Walaupun dia tau, Ryan itu bukan liat dia, tapi liat elo, dia tetep seneng karena Ryan juga memperlakukannya dengan baik. Tapi Ryan berbuat begitu, karena liat elo, Des, bukan Tiara!"
Aku mulai kacau. Tiba-tiba rasa galau menimpa. Batinku serasa ditusuk. Rasanya dada ini berubah panas, efek dari kekacauan perasaanku. Bagaimana tidak, Ryan selama ini tidak pernah menghargai seorang cewek yang benar-benar menyayanginya. Aku sebagai seorang cewek bisa merasakan hal yang sama, ketika pacar yang sangat disayangi ternyata selama ini tidak pernah melihat pacarnya, tapi malah melihat sosok orang lain. Dan parahnya, sudah tau keadaannya begitu, dia masih mempertahankannya dengan Tiara. Sementara di luar sana, aku rasa, mungkin aku tau, Tiara pasti sering menangis. Aku pun merasakan hal yang sama ketika tau Ryan jadian dengan Tiara dulu. Dan intinya, perasaan Tiara tak beda jauh denganku.
Aku langsung beranjak dari tempatku. Rasanya menggebu-gebu ingin memukul Ryan beberapa kali sekencang-kencangnya. RYAN JAHAT!! Tak tahu kenapa, malah aku yang merasakan panas dan sakit sejak mendengar cerita Fira tadi. Rasanya ingin membejek-bejek Ryan sampai penyek. Supaya mahluk sepertinya tidak ada lagi di muka bumi ini!
"Lo jahat! Lo jahat.. jahat.. jahat, jahat, jahat, jahaaaaat!" tak tanggung-tanggung aku langsung memukul-mukul tubuh Ryan dengan tanganku beberapa kali sekencang-kencangnya. Ryan mencoba menghindar dan menghentikanku, tapi aku terus memukulinya. Aku gereget, saking geregetnya.
"Ih, ini apaan nih? Hey, hey, ngapain dateng-dateng , mukul-mukul gue? Hey, sadar hey! Emang lo kenal gue?" tangkis Ryan berkali-kali.
"Gue gak kenal lo, gak kenal lo! Dan gue gak mau kenal lo lagi!" aku masih terus memukuli Ryan tanpa henti.
"Hey.. hey.. udah, udah. Ah, sakit.. sakit.." dan Ryan masih mencoba menghentikanku. Tiba-tiba, tanpa sadar, aku sudah ada di pelukan Ryan. Dan sepertinya Ryan pun tidak sadar. Hah?! Aku langsung melepasnya dan segera mengusap-usap bajuku yang tadi menempel dengannya. Aku malu, tiba-tiba dadaku bergetar. Entah apa yang aku rasakan. Aku sungguh kaget saat tak sengaja berpelukan dengan Ryan. Aku langsung memalingkan muka ke arah lain. Dan sepertinya, Ryan pun salah tingkah. Dia membenarkan baju dan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
"Ngomong-ngomong, ngapain lo tiba-tiba mukul-mukul gue? Ada yang salah sama gue?" tanyanya setelah beberapa saat.
"Ada," jawabku masih salah tingkah."Salah lo banyak banget."
"Tapi, motivasi lo dateng kesini terus tiba-tiba mukul gue apa?"
Aku beranikan membalikkan wajah dengan mantap ke arahnya. Tiba-tiba terlihat wajahnya yang cool dan menyejukkan menari-nari di retina mataku. Mengingatkanku pada wajah satu tahun yang lalu. Ryan Andreas. Tiba-tiba aku teringat nama itu. Nama seorang sahabat yang berubah naik tingkat di atas kata sahabat, namun untuk menjadi kekasih, justru aku malah menolaknya. Akhirnya, aku dan dia menjadi pasangan hubungan tanpa status. Tanpa pernah ada kejelasan dariku padanya, sampai detik ini. Aku terdiam sesaat, memandangi wajahnya yang tiba-tiba tak berhenti keluar dari pikiranku.
"Des.." panggilnya memecah lamunanku. Aku spontan menggelengkan kepala berusaha keluar dari lamunanku.
"Motivasi gue, gue cewek, dan gue ngerasain apa yang Tiara rasain sekarang. Lo nyadar gak sih, selama ini lo udah bikin Tiara sedih? Lo nyadar gak, Tiara sayang banget sama lo? Hey, elo gak nyadar ya selama ini lo gak pernah liat dia? Hey, sadar dong! Lo mau jadian sama dia, itu berarti lo harus bertanggung jawab atas dia! Termasuk perasaannya juga!" dengan mantap dan suara setengah serak, aku tumpahkan langsung itu di depan Ryan. Ryan pun sepertinya heran. Ia membuka mulut, tapi belum mengeluarkan suara sedikitpun.
Ia segera memalingkan muka ke arah lain, kemudian duduk di bangku taman. Sepertinya ia sedang memikirkan apa yang harus ia katakan. Aku masih menunggunya sambil berdiri.
”Kenapa lo nanya itu? Emang lo kenal gue?" tanyanya tiba-tiba. Membuatku gereget ingin menimpali.
"Heh, bukan masalah kenal atau enggak. Tiara itu pacar lo! Dan sebagai pacar, lo harusnya bertanggung jawab atas dia! Dulu lo rela ngorbanin gue demi dia! Sekarang, dia udah jadi pacar lo, lo mau korbanin juga? Mana hati lo? Lo cowok apaan sih?" tak tanggung-tanggung aku memukul tangannya sekeras-kerasnya sampai dia mengaduh.
"Tau darimana lo tentang masalah itu?" tanyanya kembali.
"Tau darimana itu gak penting! Jangan mentang-mentang lo punya tampang terus lo seenaknya! Tugas lo gampang banget lho sebagai seorang cowok. Lo tinggal setia dan tulus, apa susahnya sih?"
Ryan menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan lega. Ia masih belum bicara lagi. Mulutnya terkatup entah bagaimana, yang jelas dia terus-terusan menatap ke langit, seperti mencari-cari sesuatu. Ya, sesuatu, sesuatu itu adalah sebuah jawaban. Aku yakin, dia sedang mencari jawaban yang tepat untuk menjelaskan semua ini. Aku tahu, dari sorot matanya dia pasti ingin mengatakan langsung apa yang Fira katakan tadi. Tapi aku rasa dia masih belum bisa merangkai kalimat yang tepat mengungkapkannya karena.. pasti dia serba salah.
"Ngomong dong!" lanjutku karena dia tak kunjung bicara. Tapi ia masih tetap mematung.
"Ryan, lo punya mulut kan? Ngomong dong! Ryan..!! Ngomong!"
"Oke! Oke, gue jelasin! Satu kalimat. Gue masih dan selalu sayang sama lo! Udah puas?"
Kemudian ia beranjak pergi dari hadapanku tanpa bicara apapun lagi. Aku setengah kaget, tapi aku bisa mengendalikannya. Membuatku bertanya, kenapa? Bukannya Tiara lebih spesial, sampai aku dikorbankan? Eh.. tapi, tapi.. sejauh ini, kenapa aku masih merasa dikorbankan? Dengan kata 'dikorbankan', padahal aku tidak pernah menjadi pacarnya, faktanya! Tapi kenapa aku masih merasa dikorbankan? Lho.. lho..
***
Aku sengaja turun di depan sebuah toko souvenir, padahal hari sudah lumayan gelap. Ada beberapa barang yang ingin kubeli untuk tambahan pernak-pernik dan hiasan di kamarku. Yaa supaya lebih bisa menutupi barang-barang lain pemberian Ryan dulu. Barang-barang itu sudah aku masukan ke dalam sebuah box dan aku simpan di sudut kamar, yang jauh dari tempat tidur dan barang-barang seisi kamar. Tapi, ternyata hawa-hawanya masih tetap terasa memencar di setiap sudut kamar bahkan seisi kamarku. Aku juga tak tahu kenapa. Apa mungkin aku terlalu bodoh sampai itupun aku tidak tahu dan tidak mengerti? Niatnya sih, mau aku kembalikan. Tapi aku urungkan karena sudah terlanjur mengaku tidak pernah mengenalnya sama sekali.
Sewaktu sedang memilih-milih souvenir, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang menggantung di saku celana mbak penjaga toko itu. Aku kenal sekali, itu gantungan babi lucu memakai baju khas kerajaan berwarna pink, gantungan yang pernah diberi Ryan karena aku ingin sekali gantungan babi yang khas seperti itu. Ryan sampai datang langsung ke tempat pembuatan gantungan kunci hanya untuk memesan gantungan babi dengan corak seperti itu, sampai membuatku terharu. Dan.. ternyata gantungan itu sudah terjual banyak sepertinya. Hmm.. aku refleks melangkah menghampiri mbak itu.
"Maaf, mbak.." sapaanku membuatnya menoleh. Dan.. astaga! Sekarang pun aku kenal dengan wajah ini. Ini..
"Tiara?" seruku memastikan. Tiara sepertinya salah tingkah. Ia menunduk tak berani melihat wajahku. Sepertinya memang benar perihal Ryan memperlakukannya sangat sama sepertiku. Gantungan babi itu…
"Kenapa, Tiara? Kamu ngapain disini?" tanyaku berusaha melihat wajahnya. Tapi ia berusaha menghindarkan wajahnya.
"Desi.. ya?" tanyanya agak gugup.
"Iya, aku Desi." Aku mengulurkan tangan seraya tersenyum. Akhirnya ia mendongak dan meraih uluran tanganku sambil berusaha menutupi keterkejutannya.
***
"Kamu kerja disini?" tanyaku setelah Tiara agak tenang dan mempersilahkanku duduk di bangku depan toko.
"Iya. Aku lagi butuh uang."
"Emang orang tua kamu gak ada?"
"Aku udah terlalu banyak nyusahin mereka. Kalau aku keenakan, kasian mereka. Aku belum bisa ngasih apa-apa, yaa minimal aku gak nyusahin mereka dulu."
"Oh.." ujarku."Kalau boleh tau, uang buat apa? Sampai kamu rela kerja kayak gini?" tanyaku lagi dengan agak hati-hati.
"Yaa.. ya buat apa aja. Buat bayar sekolah, uang jajan, atau apa aja yang menyangkut aku sendirian. Ya kalau bisa dan cukup, buat bantu orang tua juga."
Tiba-tiba saja aku merasa kagum padanya. Ternyata dia segigih itu. Meskipun niatnya masih sederhana, tapi ia sangat yakin dan semangat. Wajahnya yang meneduhkan itu, kenapa Ryan malah tega menjadikan dia seperti orang lain? Yaitu aku. Sepertinya dia sangat baik dan ramah. Tapi Ryan tidak berperasaan!
"Emm.." tiba-tiba suaraku memecah kesunyian."Gimana hubungan kamu sama Ryan?" aku mulai basa-basi dengan sedikit hati-hati, tapi berusaha untuk tetap rileks.
Sepertinya dia kaget.
"Emm.. baik. Baik-baik aja kok," jawabnya simple agak salah tingkah.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Kemudian aku diam lagi. Sunyi lagi. Setelah beberapa lama, rasanya aku gatal ingin menanyakan sesuatu padanya. Tadinya akan kuurungkan, khawatir dia malah makin down.
"Emm.." ujarku agak bimbang."Ada yang salah gak sama hubungan kalian?" dengan hati-hati aku tanyakan itu."Gak apa-apa, cerita aja sama aku. Apapun masalahnya, aku siap denger dan kasih solusi. Gimana pun, kamu itu tetep pacar Ryan, sahabat aku."
Tiara sepertinya kaget juga. Mungkin efek dari perasaannya yang terlalu tertekan. Mungkin, aku rasa. Itu hanya persepsiku saja, tidak tahu kebenarannya. Tapi dari rautnya, ia seperti menyimpan sesuatu, sesuatu yang sangat banyak dan berat. Pasti beban! Ya, aku seperti bisa merasakan apa yang ia rasakan.
"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu? Kita belum kenal lama, dan aku juga gak deket sama kamu. Kenapa aku harus bilang sama kamu?" ujarnya agak ragu.
"Tiara, kamu itu pacarnya Ryan, dan Ryan itu sahabat aku. Aku pengen Ryan selalu akur dengan pacarnya, apapun yang terjadi. Aku pengen Ryan itu jadi cowok gentle dan macho, bukan hanya dalam penampilan, tapi dalam perlakuannya sebagai seorang pacar. Kalau kamu merasa ada yang salah dengan Ryan, kamu bisa cerita sama aku, ya?"
"Aku sama Ryan baik-baik aja kok. Kita akur, suer, kita gak pernah berantem."
"Aku tau. Ryan selalu baik sama kamu, ya kan? Tapi please, bilang aja, apa ada sesuatu yang beda sama Ryan?"
"Enggak ada. Dia baik-baik aja. Gak ada yang salah, kita gak ada masalah apapun."
"Tiara, gak apa-apa, bilang aja. Kamu gak usah anggap aku siapa-siapa. Kamu boleh cerita sesuka hati kamu. Ada yang salah gak dengan Ryan?"
"Kok kamu jadi kepo gitu??" tiba-tiba Tiara bangkit dari tempatnya, seperti terdorong amarah. Sontak aku kaget.
"Eh, bukan gitu. Maksud aku, aku cuma berniat baik mau nolongin kamu."
"Nolongin apa? Aku gak punya masalah apa-apa sama Ryan! Kenapa sih kamu harus nanya gitu? Kamu pengen hubungan aku sama Ryan ada apa-apanya? Kamu pengen hubungan aku sama Ryan jadi berantakan gara-gara pertanyaan kamu barusan? Mau kamu apa sih?"
Aku terhentak saat Tiara bicara begitu, dengan nada yang agak tinggi pula. Namun wajahnya seperti ingin menangis, tapi ditahan.
"Maksudnya, bukan gitu, Ra. Aku cuma.. aku cuma.. Cuma.." tiba-tiba lidahku serasa kelu dan membeku. Aku tidak tahu jawaban dari 'kenapa' yang dilontarkan Tiara barusan. Aku tidak tahu alasan aku menanyakan hal itu. Yang aku ingin cuma pernyataan langsung dari mulut Tiara tentang yang ia rasakan selama dia pacaran dengan Ryan, dan aku juga tidak tahu apa yang bisa aku lakukan selanjutnya. Tuhan, aku harus bilang apa? Aku tidak mungkin bilang langsung dari mulutku sendiri karena hanya Tiara yang merasakannya.
"Cuma apa?" tanyanya lagi.
"Cuma..cuma.." aku tidak tahu harus bilang apa pada Tiara. Tiba-tiba rasa bersalah berdatangan ke benakku. Entah kenapa, aku selalu tidak tahu tentang perasaanku sendiri.
"Aku.. cuma.. cuma mau minta maaf sama kamu. Apapun yang kamu rasain sekarang, aku pengen minta maaf. Aku gak tau perasaan kamu sekarang, yang bisa rasain cuma kamu sendiri. Tapi aku minta maaf banget, aku takut sering bikin kamu kalut gara-gara Ryan. Maafin aku, ya, maafin aku, Tiara.." dan itu yang keluar dari mulutku. Spontan. Tanpa aku rangkai atau kupikirkan terlebih dahulu. Dan mataku hampir basah, tapi untunglah air mataku masuk kembali dan tidak jadi membasahi sekitar mata.
Tiba-tiba Tiara menangis. Ia menutup muka, menahan air mata yang tiba-tiba mengalir deras dari ujung matanya. Aku kaget dan khawatir, kalau-kalau ucapanku barusan ada yang salah. Ya, mungkin dari awal ada yang salah. Aku coba menenangkannya, tapi dia malah makin menangis.
"Kalau aku bisa balik lagi ke masa lalu, aku gak akan pernah mau kenal Ryan. Aku gak akan pernah mau diajak kenalan sama Ryan waktu itu. Sampai akhirnya aku jadi suka sama Ryan, dan Ryan nembak aku. Dan aku jadi pacarnya, dan dari semenjak itu aku jadi sayang banget sama dia. Kalau dari awal aku tau ada kamu sebelum aku di kehidupannya Ryan, aku bakal mikir dua kali untuk kencan sama Ryan. Aku nyesel, bisa kenal sama dia. Tapi dia udah bikin aku cinta setengah mati, walaupun aku nyesel."
Wajah Tiara seketika basah oleh air mata yang mengalir kemana-mana karena tangannya. Dia tak mampu membendung emosi yang selama ini ia rasakan. Mataku ikut basah. Aku tahu benar yang ia rasakan saat mengatakan itu. Aku mengelus-elus bahu dan tangannya dengan air mata yang mulai mengalir.
"Kalau kamu jadi aku, kamu gak akan pernah kebayang gimana sakitnya. Aku cuma mau jadi diriku sendiri, aku gak mau jadi orang lain, karena semua orang beda dari aku. Kenapa aku harus jadi orang lain? Kenapa Ryan tega? Kenapa juga aku masih aja sayang sama dia setelah tau kayak gini? Padahal kalau emang sakit, harusnya aku udah putus sama dia sejak dulu. Tapi kenapa aku masih mempertahankannya, aku juga gak ngerti!"
Mataku semakin basah. Aku terus memandangi Tiara dengan penuh iba. Ya, Tiara, aku merasakan bagaimana sakitnya. Tidak hanya kamu, tapi aku juga. Kita sama-sama perempuan. Aku sangat bisa merasakannya. Maafkan aku, Tiara. Tapi aku tidak pernah tahu hal ini, dari dulu.
"Ryan itu orang baik. Dia pasti ngerti apa yang harus dia lakuin buat pacarnya. Ryan gak akan pernah bikin kamu jadi orang lain. Ryan itu type cowok yang setia. Dia tau gimana harus berbuat dan bertindak. Udahlah, kamu gak usah terlalu bersedih. Kalian cuma butuh waktu buat ngobrol berdua, dan saling curhat satu sama lain. Kalian cuma belum menyatu aja. Percaya deh, nanti juga Ryan bakal berubah, buat kamu," ujarku seraya menghapus air mataku dan berusaha tersenyum. Aku mengelus bahunya lagi. Dia memandangku dengan wajah yang basah oleh air mata.
"Kenapa dia gak balik lagi ke kamu aja? Kalau kayak gini, aku lebih rela dia sama kamu daripada dia jadi pacarku tapi memperlakukan aku seperti kamu, bukan seperti aku sendiri."
"Jangan ngomong gitu. Dia belum siap. Dia tau betul yang namanya setia, tapi dia belum bisa mempraktekkannya. Dia cuma butuh waktu."
"Butuh waktu? Berapa lama? Hubungan aku sama dia udah berjalan hampir setahun, masih butuh waktu buat nunggu dia? Apa yang bakal aku dapet?"
Aku menarik nafas sedikit. Sepertinya lemparan-lemparan pertanyaan lain akan mengalir lebih banyak lagi. Aku hampir kehabisan kata-kata. Aku tidak bisa menjawab dengan argument yang sebenarnya tidak nyata. Aku ini hanya tipe penenang, bukan pemberi solusi. Aku tidak tahu apa yang aku katakan barusan benar atau tidak, tapi mungkin itu bisa meluluhkan Tiara. Tapi sejatinya aku tidak tahu.
"Kalau gitu, aku pergi dulu ya. Hari udah hampir malem. Kita lanjutin ngobrol besok aja ya."
Aku sudah bersiap menyoren tasku dan bangkit dari tempat duduk. Baru beberapa langkah aku beranjak dari situ, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di lantai. Aku kaget. Suaranya sangat keras. Ternyata bukan sekedar benda, tapi itu..
"Tiara…"
***
Aku memandang Ryan yang sedang duduk di ruang tunggu dengan jarak beberapa meter. Wajahnya terlihat cemas, mungkin sangat cemas. Aku tidak berani menyapa apalagi mengganggunya. Sepertinya dia risau menunggu dokter keluar dari ruang UGD. Tiara dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah aku melihatnya terkulai di depan toko dengan jidat berdarah akibat terbentur ujung meja. Sekarang ia tengah menjalani pemeriksaan dan perawatan di ruang UGD.
Aku takut. Aku merasa bersalah karena kejadian itu persis setelah aku mendatanginya. Aku takut ini gara-gara aku. Aku takut Ryan menyalahkanku kalau aku memanggilnya. Buktinya dia begitu cemas. Apa yang ada di pikirannya sekarang? Bukankah aku ada disini? Bukankah dia bilang dia masih sayang padaku, sampai rela mengorbankan pacarnya sendiri demi aku? Kenapa dia begitu cemas? Apa dia bohong?
"Yan.." perlahan aku coba memanggil dan mendekatinya. Dengan perasaan yang hampir ngilu tapi aku tahan. Entah kenapa.
Ia menengok. Aku kaget. Matanya merah seperti hampir menangis.
"Maafin gue ya. Kalau gue gak dateng, mungkin dia gak bakal gini." Aku perlahan duduk di sampingnya. Ia kembali ke posisi semula.
"Lo gak salah. Dia emang lagi sakit," jawabnya sambil memandang ke depan.
"Sakit apa?" aku kaget. Tiba-tiba mendengar kata 'sakit' itu aku merasakan ada sesuatu.
Ryan menoleh ke arahku."Enggak. Lo gak perlu tau."
"Sakit apa, Yan? Please, kasih tau gue."
"Lo gak perlu tau, Des. Dia berusaha nyimpen sendirian tapi akhirnya gue tau sendiri. Dan gue udah janji gak bakal kasih tau siapapun."
"Tapi, Yan, gue pengen tau. Please, kasih tau gue!" Aku tetap bersikeras dan penasaran.
Ryan diam sejenak. Matanya sudah berbanjir air mata yang hampir jatuh. Tapi ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Aku makin penasaran dengan ekspresinya itu. Perasaanku makin tidak enak. Rasanya aku ingin menangis juga melihat mata Ryan yang memerah.
"Dia sakit... kanker. Kanker sumsum tulang belakang.." ucap Ryan dengan berat dan air mata yang tiba-tiba mengalir.
Aku sontak terkejut. Ryan menangis. Dia menangis! Baru kali ini aku melihatnya menangis, untuk seseorang yang bahkan sudah ia jadikan pelampiasan, seseorang yang selama setahun ini berusaha mengisi kekosongan hatinya. Tiba-tiba air mataku mengalir entah kenapa. Entah kenapa aku pun tidak tahu! Bukan karena mendengar berita itu. Tapi.. Kenapa aku harus menangis melihat Ryan menangisi gadis lain selain aku? Rasanya seperti ada yang menusuk di bagian dadaku. Rasanya sakit. Aku coba menghapus air mataku. Aku takut Ryan melihatku. Dan aku coba tersenyum.
"Lo yang sabar ya. Lo harus tetep jagain dia, jangan tinggalin dia sekalipun. Dia itu butuh lo. Lo harus berperilaku sesuai status lo sekarang, sebagai pacarnya. Lo denger gue? Lo harus bener-bener jadi pacar yang setia dan jadiin dia diri sendiri, okey!" aku menepuk-nepuk bahunya dengan mata hampir basah dan suara agak gemetar. Setelah tersenyum mantap, aku beranjak hendak pergi dan ternyata mataku benar-benar basah lagi.
"Kenapa lo nangis?" tiba-tiba suara Ryan menahan langkahku. Aku berusaha tidak mengeluarkan air mata itu setetes pun. Baru setelah agak kering, aku berbalik dengan perlahan.
"Gue ngerasa sedih aja. Gue kaget waktu denger barusan kalau Tiara sakit kanker. Penyakit kanker itu bukan penyakit biasa kan, itu penyakit mendewa, apalagi sumsum tulang belakang. Gue gak kebayang kalau gue yang punya penyakit itu, mungkin semua orang gak bakal mau ngurus gue. Yaa mungkin.."
"Enggak. Gue tau bukan karena itu. Kalau karena itu, lo gak bakal langsung pergi."
"Emang kenapa kalau gue langsung pergi?"
Ryan diam sejenak.
"Karena lo nyelonong aja, gak pamitan." Tiba-tiba Ryan tersenyum di tengah wajah basahnya. Dia memasang wajah yang tiba-tiba membuatku ilfeel. Aku langsung menghapus semua air yang hampir keluar dari mataku.
"Iya, gue pamit!" dengan rasa sedikit sebal aku pergi meninggalkan Ryan sendiri di ruang tunggu.
***
Baru kali ini aku menopang dagu. Aku masih terpikirkan masalah kemarin. Aah, kenapa kemarin aku bisa merasakan itu? Padahal selama ini yang kubilang melupakan seorang cowok apalagi yang belum pernah menjadi pacarku dan sekarang sudah menjadi milik orang lain itu sangat simple dan gampang, dan aku sudah melakukannya. Tapi kenapa sekarang jadi begini? Kenapa aku merasakan panas di dada ini sewaktu melihat Ryan menangis karena Tiara? Assshhh..!!
"What's wrong, cantik? Ngapain menopang dagu kayak cherrybelle gitu?" tiba-tiba Helen datang menyambar tempat duduk di sampingku. Aku tetap pada posisiku semula. Memandang lurus ke depan, tapi pikiranku jauh melanglang buana entah kemana. Mungkin pada Ryan. Hah? Kenapa harus Ryan? Ash Desi!
"Hey, lo tau mitos kesurupan gara-gara pikiran kosong? Gue tau itu cuma mitos, tapi menurut logika gue itu bener, bukan sekedar mitos," oceh Helen lagi. Aku mendengar semua yang keluar dari mulut Helen. Tapi aku tidak segera menjawabnya. Aku diam. Berusaha menghapus semua pikiran yang sedang melandaku sekarang. Agak lama juga. Akhirnya, aku menurunkan tanganku dari dagu.
"Kenapa, Des?"
Aku menarik nafas. Lalu memandang Helen.
"Kemaren Ryan nangis gara-gara Tiara. Jadi udah terbukti kan kalau Ryan udah gak suka lagi sama gue, dan kesempatan gue lupa sama dia terbuka lebar, jadi lo gak usah cape-cape sok nyatuin kita berdua lagi, okey!" setelah itu aku menopang dagu kembali.
"Hey, nangis karena apa, Des? Lo jangan asal narik kesimpulan gitu dong. Enak banget lo ngomong!" jawab Helen, sepertinya ia agak tersinggung. Hatiku merasa sedikit tidak enak dengan perkataanku barusan, tapi aku biarkan.
"Terus, gue harus ngapain? Kalo kenyataannya emang kayak gitu gimana?"
"Dia nangis gara-gara apa, lo belum tau kan? Apa sih motivasi lo gampang banget bilang 'bisa lupain dia'? Bohong banget, tau!" Helen menyeruput es jeruk dengan dahi mengkerut. Aku merasa tersindir dengan keadaan. Ah, kenapa sih? Apa yang membuatku tetap tinggal dalam ketidakpastian ini? Aku akui aku sedang berdiam dalam ke-dilema-an sekarang. Ya, aku akui. Tapi aku tidak bisa mengatakannya pada Helen.
"Jelas-jelas gue lihat dia nangis pas Tiara dibawa ke ruang UGD. Tiara itu lagi sakit. Kalau bukan karena sayang, Ryan gak mungkin sampai nangis begitu."
Helen tertawa. Ia seperti mengetahui sesuatu. Tapi sumpah, aku tidak mau tahu apa yang ia ketahui. Apapun itu.
"Des..Des.. lain kali lo harus ngorek-ngorek tuh hati lo, apa yang lo simpen selama ini? Keluarin aja, susah amat sih!"
Aku mengerutkan kening. Pura-pura tidak tahu. Padahal aku mengerti apa maksudnya. Ya, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit. Kedilemaan itu.. mungkin sudah membuatku menjadi orang bodoh. Aku menarik nafas, tapi berusaha supaya kegalauanku tidak tampak di depan Helen. Semoga saja Helen tidak pernah membacanya. Kini topangan daguku makin parah. Justru sekarang aku meletakkan kepalaku di atas kedua tangan yang melipat rapi di atas meja kantin. Entah kenapa pikiranku sekarang menerawang jauh ke wajah Ryan. Ryan? Ah, Ryan!
***
Sudah dua minggu aku tidak melihat Ryan berlalu lalang di sekitarku setiap pulang sekolah. Meskipun aku tahu dia sudah tak menampak di sekolah, tapi tetap saja mataku tak berhenti mencari-carinya ke setiap sudut sekolah. Aku berharap dia masih ada di sekolah, menghampiriku, lalu mengajakku bicara, menggantikan kesempatan yang waktu di taman itu sempat aku cancel. Aku sudah seperti orang bodoh. Mencari orang itu? Aku tertawa dalam hati sambil menggelengkan kepala. Mana mungkin aku masih terus mencarinya? Rencanaku? Aku akan tetap pada rencanaku melupakan seorang Ryan. Ya, memang dia bukan siapa-siapa dan tidak pernah jadi siapa-siapa buatku. Aku teruskan langkahku menyusuri koridor sekolah yang mulai kosong ini.
Dan langkahku terhenti di depan sebuah ruangan, agak besar. Aku refleks masuk ke dalam ruangan itu. Entah apa yang membuatku bisa masuk, aku hanya mengikuti arah kakiku yang terus berjalan kemana dia mau.
"Kenapa, Des?" tanya seseorang tiba-tiba. Itu Reza. Ia sedang membereskan ruangan yang biasa dipakai ekskul teater itu beserta beberapa teman yang lain.
Tiba-tiba aku tergagap. Aku juga tidak tahu apa yang membuatku masuk kesini. Aku hanya ingin mencari Ryan. Hah? Bodoh! Kenapa dari tadi Ryan terus??
"Eu.. Helen mana?" tanyaku sambil mengalihkan pikiran. Ya, Helen memang anggota ekskul teater juga kan? Ya.. Haha.
"Lho, emang lo gak tau? Hari ini dia gak sekolah, pergi ke Semarang," jawab Reza, dan membuatku sadar kalau hari ini Helen memang tidak sekolah. Helen sudah memberitahunya tadi pagi lewat sms. Ah, makin bodoh saja kamu, Des!
"Oh.. iya!" aku refleks menepuk jidat."Gue lupa. Bodoh banget ya gue."
Aku langsung membalikkan badan hendak pergi lagi dari tempat itu.
"Psst.. ada orang lain-kah yang lo cari selain Helen?" tiba-tiba ujaran Reza mengurungkan niatku untuk melangkah pergi, malah membuatku berbalik.
"Eng..enggak. Siapa lagi? Biasanya gue emang cari Helen kan?" jawabku agak tergagap.
"Gak biasanya lo cari Helen sampai nyamperin ke ruangan ini. Kayaknya ada orang lain yang lo cari selain Helen, ya?" Reza menaik-naikkan alisnya sambil memasang wajah super aneh. Membuatku mengkerutkan dahi.
"Dih. Siapa? Ryan? Basi, tau! Ryan aja terusss. Gak bosen lo?" spontan aku to the point saja.
Reza tertawa."Tuh kan bener. Gak usah gengsi, biasa aja sama gue mah. Lo cari Ryan kan?"
Pertanyaan Reza itu malah membuatku memukul pundaknya.
"Enggak, sorry ya!" aku tetap ngotot dengan pendapatku.
"Hahaha.. terus, lo ngapain masih di sekolah? Gak pulang? Helen kan emang gak sekolah."
"Yaa terus kenapa? Ini kan sekolahan gue juga. Gue bayar disini, jadi hak gue mau disini sampai besok juga."
"Kalo bukan karena nyari-nyari Ryan, lo pasti udah pulang dari tadi. Soalnya Helen emang gak ada."
Aku spontan memukul pundaknya lagi sambil melotot."Heh, terus aja!"
"Hahahaa.." Reza melanjutkan pekerjaannya lagi."Oh ya, tadi Ryan nitip salam buat lo."
"Ah, masa bodoh!" timpalku cuek. Walaupun sebenarnya hatiku tergirang mendengar itu. Hm.
"Tiga hari lagi dia take off ke Jerman. Dia mau nemenin pacarnya berobat disana sampai sembuh…"
Deg. Tiba-tiba hatiku terasa tertusuk mendengar kalimat terakhir barusan. Ryan? Dia ke Jerman? Untuk menemani seseorang yang hanya ia jadikan pelampiasannya? Lho, kenapa bisa? Aku memandang Reza sesaat, tapi pikiranku kini hilang terbang menelusuri setiap jengkal dunia ini, mencari keberadaan hati Ryan sekarang. Hati Ryan sekarang ada dimana? Apa dia sudah tidak mempunyai perasaan lagi kepadaku? Apa dia memang benar-benar sudah mencintai Tiara? Aku tak merasakan mataku basah. Dan aku baru sadar saat Reza memberitahuku.
"Mata lo kenapa, Des?" tanya Reza. Aku segera mengerjapkan mata. Berusaha menyapu air mataku dengan bulu mataku sendiri.
"Aduh, gue kelilipan," aku mengucek mataku layaknya seperti benar-benar habis kelilipan.
"Lo bohong kan, Des?" tanya Reza lagi. Dari ekspresinya sudah terbaca kalau ia sudah mengetahui keadaanku jauh sebelum mataku basah.
"Beneran. Cuma kelilipan kok, gak apa-apa."
"Gue tau lo bohong."
Tiba-tiba mataku basah lagi. Makin lama tetesannya semakin jatuh. Kini aku tidak bisa membendung air itu keluar dari mataku. Aku menangis.
***
Selembut kapas yang belum dipetik
Seharum bunga terharum di jagat raya
Secerah sinar mentari pagi sejatinya selalu menghangatkan angan
Seberapa cepat bumi berputar pada porosnya
Itulah seberapa pikiranku menerawang dirimu
Mata yang indah menusuk ulu cinta
Sikap yang luar biasa dan tak terduga
Sederhana tapi sempurna
Merayu dan terus merayu pikiranku
Entah apa yang kulihat ini benar atau tidak
Tapi aku harap ini benar
Tapi tanpa diharapkan pun, ini sudah pasti benar!
Kau.. pemilik mata indah itu, akan kutunggu derap langkahmu menuju taman terindah di tengah kota, sore ini.
Sweet greet,
Ryan
Ini.. Puisi romantis terakhir dari Ryan, semenjak aku tahu pacarnya terkena kanker. Dan semenjak itu, aku yakin Ryan hanya peduli pada pacarnya, sudah tidak peduli lagi denganku. Aku buka-buka lagi beberapa kertas imut lucu bermotifkan warna pink dari dalam binderku. Itu semua surat dan puisi dari Ryan setahun yang lalu. Dia rajin mengirimkan surat-surat dan puisi itu hanya dengan kertas bermotifkan warna pink. Padahal teknologi internet dan jejaring sosial sudah lumayan canggih, tapi ia lebih memilih memakai kertas-kertas lucu ini untuk dikirimkan padaku. Entah motivasi apa sampai berpikir begitu.
Aku tak menyadari kalau aku senyum-senyum sendiri. Ya, aku ingat waktu itu. Dia sering mengirimkan sebuah kotak di depan pintu rumah. Tanpa nama pengirim. Tapi aku sudah tahu kalau itu darinya. Di dalamnya pasti Ryan menyertakan hadiah boneka atau pernak-pernik lucu berwarna pink, dan terakhir membaca puisi-puisinya itu sambil senyum-senyum sendiri. Tapi kalau aku sadar itu hanya kejadian setahun yang lalu, bibirku melengkung ke bawah lagi. Aku tutup binderku. Selanjutnya aku mengambil barang-barang lain pemberian Ryan dari dalam kotak besar ini.
Aku memandang satu persatu barang-barang itu. Dan sekali lagi, aku mulai teringat kejadian setahun yang lalu. Itu tiba-tiba membuat mataku agak basah. Tapi aku coba menahannya agar air itu tak keluar lagi. Sesaat, barang-barang itu sudah tertata rapi kembali di dalam kotak. Aku merapatkan kotaknya ke tempat semula. Aku tahu ini konyol. Aku hampir menertawakan diriku sendiri sewaktu ingat kata-kataku yang sering aku lontarkan pada Helen, untuk lupain dia itu simple dan gampang, cowok bukan dia satu-satunya, atau aku sudah tidak menyukainya lagi. Apa itu semua? Aku takut itu bohong. Aku menghirup sejenak atmosfer yang bertebaran di kamarku.
Telet..
Gue pengen bicara empat mata sama lo di taman kota besok pagi. Gue harap lo dateng. Thanks
From : Ryan.
Ryan? Asshh! Tidak! Aku tidak akan pernah datang! Mau sepeduli apa dia, mau seantusias apapun, aku tetap tidak akan meladeninya. Biar saja dia menunggu di taman kota sendirian. Aku tidak akan datang! Pergi saja sana ke Jerman sama nengmu! Buat apa masih sempat-sempatnya melirik cewek lain? Hih..
Keesokan harinya. Ponselku beberapa kali berbunyi tapi tidak kuangkat, setelah tahu itu dari Ryan. Aku biarkan ponsel itu bergetar sendiri di atas kasur. Sebenarnya tanganku sudah gatal ingin mengangkatnya, tapi entah kenapa benakku menahannya. Ah, Desi! Ada apa denganmu?! Jangan galau! Sudah! Jangan angkat! Aku berkali-kali meyakinkan diriku.
Ponselku berhenti bergetar. Aku sudah gatal ingin mengambilnya. Beberapa saat, ia bergetar lagi. Kali ini benar-benar aku ambil, dan..
"Halo.. Des, dimana sih? Ryan udah nungguin lo tuh di taman kota. Dia tadi bilang sama gue suruh telpon elu," tiba-tiba suara Helen yang malah terdengar di ujung ponsel sana. Asshh!
"Gak, Len. Biarin aja! Gue gak mau!"
"Dia mau ngomong sesuatu sama lo katanya penting banget!"
"Sepenting apapun, gue gak peduli! Gue tahu dia mau ngegombal dan ngeluarin jurus. Maaf aja, gak bakal mempan sama gue, Len!"
"Please, Des. Sekali iniii aja lo dateng dulu. Ayo dong, ini permintaan sahabat lo nih, Helena Simatupang, yang imut-imut, yang sekarang lagi jauh sama lo di Semarang sini. Atau gue gak bakalan balik!"
"Gak bakalan!" aku mengeraskan suaraku dari ujung ponsel sini.
"Ih, lo tuh maunya apa sih? Ngotot banget, susah banget dikasih tau! Ya udah, terserah lo!"
Helen langsung menutup teleponnya. Fine. Dan aku mulai bimbang lagi. Aku lebih baik tidur daripada harus merasakan ini. Ah, susah sekali mengakui sesuatu yang seharusnya aku akui! Des?
***
Kalo lo gak dateng hari ini, fine, gue bakal dateng lagi kesini besok. Dan gue harap lo dateng juga. Dan kalo besok lo gak dateng lagi, lusa gue bakal dateng lagi. dan kalo lusa lo tetep gak dateng, sorry, waktu gue gak banyak, jadi gue harap lo ngerti.
From : Ryan
Itu sms terakhir Ryan kemarin yang kubuka saat aku baru bangun dari terlelap. Aku mulai bimbang menatap layar itu lagi kedua kalinya. Aku ragu apa aku benar-benar harus pergi kesana menghampirinya. Aku diam. Diam dalam keraguan. Yang aku bisa lakukan sekarang hanya melamun. Otakku sibuk berpikir. Tapi aku masih saja mengikuti hawa nafsu sendiri. Itu, jangan datang!
Akhirnya hari itu aku sibukkan diriku dengan pekerjaan yang lain. Supaya bisa terlupakan masalah itu. Supaya aku bisa melupakan rasa bimbangku. Dan di hari itu juga Reza dan Helen sibuk menelponku supaya aku datang. Reza memang teman dekat Ryan, jadi semenjak kejadian puisi itu, Reza menjadi sangat antusias terhadap masalahku dengan Ryan.
Esok harinya. Ryan tetap sms lagi, dengan kata-kata yang sama tapi di waktu yang berbeda. Tapi aku tetap tidak mau datang. Aku sampai mematikan ponselku karena seringnya handphone bergetar. Hari ini dia take off. Aku ingat perkataan Reza waktu itu. Dia akan take off kesana bersama Tiara. Dan bukan tidak mungkin Tiara akan sembuh dalam waktu lama, kemudian mereka menikah disana. Aku mulai bimbang. Bagaimana ini? Aku benar-benar dilanda dilema.
Hari mulai siang. Aku masih diam mematung di kamar. Setelah beberapa lama aku terdiam….. Akhirnya, aku putuskan untuk pergi! Aku sambar tasku di meja kamar dan dengan tergesa-gesa aku menyetop ojek yang lewat di depan rumahku. Sepanjang perjalanan, aku masih saja dilanda galau. Aku tidak bisa menghilangkannya. Tapi ini harus dihilangkan! Aku harus yakin pada satu keyakinan. Dan sekarang aku sedang melakukan salah satu pilihannya, yaitu pergi menghampirinya. Tapi dia bilang tidak punya waktu banyak hari ini? Apa aku masih punya kesempatan? Oh.. semoga saja, Tuhan.
Saat sampai di taman, tak tampak batang hidung Ryan sedikit pun. Yang aku dapat hanya orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari sedang menikmati wisata taman kota. Aku coba cari-cari ke setiap sudut, tapi dia tak muncul juga. Kemana dia? Apa dia sudah menyerah dan marah padaku? Dia sudah pergi ke bandarakah? Aku langsung duduk di bangku taman. Hatiku mulai dilanda dilema lagi. Harusnya aku tidak usah datang tadi. Dia pasti bohong. Dia pasti tidak datang kesini tapi langsung ke bandara. Assshh! Kenapa aku begitu percaya, kenapa aku harus datang, kenapaaaa?!
"Halo.." ucapku saat merasakan getar ponsel di dalam tasku.
"Lo udah ketemu sama Ryan?" tanya Helen di ujung telpon sana. Aku hanya manyun mendengar pertanyaannya itu.
"ENGGAK! Tau gini gue gak bakal dateng tadi. Dia pasti mau ngerjain gue. Mana mungkin kan jam segini dia masih berkeliaran di tempat kayak gini? Dia pasti udah mau take off sama Tiara."
"Yaudah lo susul ke bandara!"
"Ngapain? Malesin banget, gak ada untungnya! Bukannya dia yang ngajak ketemuan?! Dih.."
"Kalo dari tadi lo dateng, lo pasti masih sempet ketemu dia! Dia cuma pengen denger sendiri dari mulut lo tentang perasaan lo yang sebenernya, DESI!! Lo jujur dong, jujur, JUJUR, pelit amat sih!"
"Gue gak punya perasaan apa-apa sama dia!"
"Bohong! Lo harus bilang sama dia langsung! Gak di telpon atau sms! Cepet, SUSUL DIA KE BANDARA!!" suara Helen makin meninggi.
"GAK MAU!!" aku tetap ngotot.
"Ya udah, terserah lo! Denger, lo baru boleh nanya gue kalau lo udah tobat dari kebohongan lo itu! Lo belum tobat, gue gak bakal ladenin lo!" dan tut. Telpon pun terputus.
Aaaah! Aku bimbang! Kenapa ada manusia sebimbang aku di muka bumi ini, Tuhan?? Sekarang, lihat. Apa-apaan Helen? Perasaanku jadi makin tak karuan saja. Dadaku tiba-tiba memanas dan berat. Aku coba duduk di bangku taman, menenangkan diri. Tapi tiba-tiba saja, bayangan tentang Ryan datang. Aku coba menepisnya. Tapi semakin aku menepisnya, bayangan itu semakin menjadi saja. Dan tetap, sekuat tenaga aku coba menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang mampir di benakku. Aku diam menghirup atmosfer di muka bumi ini yang sejatinya sudah mendarah daging. Aku diam, makin diam….. Dan tiba-tiba saja aku teringat kata-kataku dulu yang sangat sering aku lontarkan pada Helen. Tentang Ryan pastinya… 'untuk lupain dia itu hal yang simple dan gampang'. 'Cowok bukan dia satu-satunya di dunia ini kan?'. ' Gue janji bakal buang dia dari hidup gue'. 'gue udah gak suka lagi sama dia!! Dan gue bener-bener gak suka!'. 'lo bisa diem dulu gak sama masalah ini? Lo gak tau masalahnya sih!'. 'gue lebih ngerti perasaan gue sendiri, karena gue yang punya perasaan gue!'.
Haaah. Kata-kataku itu tiba-tiba saja menghantui pikiranku, menggelayut di otak sadarku, semuanya mengelilingi kepalaku. Itu kata-kata yang berulang kali aku katakan pada Helen dari semenjak Ryan belum pindah ke sekolahku. Dan itu selalu mengalir setiap kali Helen tiba-tiba saja nyelonong membahas Ryan tanpa asal-usul yang pasti. Itu.. itu! Itu bohong! Semuanya bohong, aku aku akui semuanya bohong! Kalimat-kalimat itu bohong! Dengan sekejap, rambut hitamku yang tergerai rapi sudah kembali seperti semula saat aku masih bangun tidur tadi pagi. Argh, apa yang harus aku lakukaaaan??
Lo harus jujur sama perasaan lo sendiri. Kalo perasaan lo emang kayak gitu, ngapain lo harus menghindar? Apa susahnya sih bilang doang?
From : Reza
Dan sms terakhir dari Reza itu makin membuatku tak karuan. What's wrong with me? What should I do?? Aku tidak mau menyusulnya ke bandara, hey, please!
Desiiiiiiiii!!!
Dan kedua kalinya sms Reza berusaha memukulku, mendorongku supaya aku pergi. Aku tetap tidak mau pergi! Desiiii…!! Tapi mungkin ini memang keputusan akhirku.
"Pak, bandara ya, Pak! Cepetan, beberapa menit!" ujarku pada pak supir taksi sesaat setelah aku menyetop mobilnya dan memukul bahunya beberapa kali agar mobil itu cepat melaju ke bandara.
Sepanjang perjalanan aku cemas. Handphone Ryan sudah tidak bisa dihubungi lagi. Jangan-jangan ia sudah di pesawat! Ah, tidak! Dia belum pergi! Jarak menuju bandara masih lumayan jauh. Aku kelimpungan menunggu bandara itu segera sampai di depan mataku. Pak supir taksi tampak kewalahan mengatasi kecerewetanku. Aku tetap mendorong-dorongnya supaya kecepatannya ditambah. Sontak aku merasakan kecepatan mobil yang lebih kuat daripada tadi.
***
Bandara sangat sesak dengan calon penumpang yang sebentar lagi akan take off dan orang-orang yang sedang mengantar calon penumpang itu, serat para pegawai yang sedari tadi mondar-mandir melakukan pekerjaannya. Aku masih saja diam di tepi terminal. Menunggu seseorang yang sudah sedari tadi pagi aku tunggu. Aku bodoh. Aku malah tidak menepati janjiku untuk menemuinya di taman kota tadi pagi. Aku bodoh, aku malah menuruti kemauan orang tua Tiara yang mengharuskan aku datang ke bandara lebih awal. Seharusnya aku lebih memilih orang itu jika aku mau jujur pada diriku sendiri. Tapi, aku sudah sangat jujur! Beda dengan orang itu, yang benar-benar tidak mau mengakui perihal perasaannya sendiri. Aku heran. Apa yang membuatnya begitu yakin bisa melupakanku, padahal aku sendiri sudah merasa mempunyai ikatan batin dengannya. Baru merasa. Tapi aku tak tahu kebenarannya.
Sudah sejam aku duduk di ruang tunggu, sesekali menengok keluar terminal, menunggu sosok itu datang. Mata indah dan menyejukkan itu, aku jujur dari diriku sendiri, benar-benar membuatku sangat mengaguminya. Bahkan, mungkin, mencintainya. Aku menunggu binar mata indah itu tiba-tiba datang menyinari suasana bandara ini yang terasa gelap bagiku.
"Yan.." panggil sebuah suara yang hampir tiap hari aku dengar di telingaku selama setahun ini. Aku mendongakkan kepala. Wajahnya tampak begitu pucat dan lesu, tapi senyuman itu seakan menutupi kelesuannya.
"Udah ketemu Desi?" tanyanya kemudian. Tiara seperti tak pernah merasakan sakit hati saat menanyakan itu. Aku hanya tersenyum kemudian menunduk. Aku menggelengkan kepala.
"Mungkin dia gak bakalan dateng, Ra. Dia pasti udah gak mau berurusan lagi sama aku," jawabku.
"Kata siapa?"
"Temen-temennya yang bilang. Udahlah, bentar lagi kita masuk pesawat. Gak usah nanyain itu lagi, Sayang." Aku mengelus rambut halusnya. Ia hendak tersenyum, tapi sepertinya tertahan. Kemudian kami hening di tengah keramaian bandara.
"Kenapa kamu gak jujur aja, Yan?" tanyanya tiba-tiba memecah keheningan.
"Jujur apa?" tanyaku balik. Aku merasa seperti akan tertuduh.
"Kamu gak usah sok kuat menghadapi sikap Desi yang kayak gitu. Kalau kamu emang sayang sama dia, kenapa kamu mesti pura-pura nurut sama orang tua aku?"
Aku tergagap sesaat. Terlihat wajah sendu Tiara yang tiba-tiba menghiasi wajah cantiknya itu. Tiara memang cantik, tapi entah kenapa, aku lebih melihat sosok Desi dari wajahnya. Dan wajah sendunya itu sekarang benar-benar menyadarkanku kalau Tiara dan Desi itu berbeda. Mereka sangat bertolak belakang. Kenapa aku masih melihat mereka berdua dalam satu sosok? Itu membuat masalah, sangat membuat masalah. Come on, sadarlah, Ryan! Sudah ada Tiara di hadapanmu, kenapa masih mengharapkan Desi yang belum jelas?
"Ra, kalaupun aku punya perasaan sama dia, bukan berarti aku harus ninggalin kamu. Kamu itu udah ada di janji hidup aku. Kalau aku gak menepati janjiku, aku bisa berdosa, Ra!"
"Kapan kamu janji? Justru kamu udah berdosa. Kamu bohong!"
"Aku gak pernah bohong, Ra. Aku serius. Aku nurut sama orang tua kamu semata-mata aku udah siap jadi pendamping hidup kamu, di saat kamu sakit atau sehat, sedih atau seneng, aku bakal tetep nemenin kamu. Aku janji, Ra."
"Tapi gak beserta perasaan tulus kamu kan? Aku seneng banget kamu bilang itu. Tapi, kalau perasaan kamu tetep sama Desi, buat apa aku paksa kamu ikut sama aku?" mata Tiara mulai basah, diikuti rasa bersalahku yang datang tiba-tiba. Aku tahu aku bohong. Tapi aku lebih mendukung keadaan jika keadaan memaksa harus begini. Aku memejamkan mata. Perlahan-lahan aku mengiyakan perkataan Tiara barusan. Iya, aku memang bohong.
"Sekarang, cepet kamu keluar terminal! Cari Desi sampai ketemu! Aku yakin Desi pasti dateng. Dia gak mungkin rela biarin kamu pergi tanpa perpisahan dulu sama kamu. Biarin dia ngungkapin perasaannya, kalau selama ini dia emang susah buat jujur sama dirinya sendiri. Kamu juga harus jujur, kamu jangan mau kalah sama Desi. Kalau Desi masih sering bohong, coba, kamu jangan bohong. Jujur, Yan, jujur!"
Aku makin diam. Hatiku sudah memanggil-manggil agar langkahku segera terurai. Mataku tetap saja menatap lantai terminal. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri. Tiara terlalu baik untuk aku tinggalkan, tapi aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku sangat mencintai Desi lebih dari Tiara. AAH!! Aku tidak bisa melawannya.
"Ayo, Yan, tunggu apa lagi?! Cepet temuin Desi! Sebentar lagi kita take off." Tiara semakin mendorong urat kakiku supaya melangkah. Aku semakin tidak bisa menahannya. Tatapan mata Tiara semakin meyakinkan. Wajahnya terlihat begitu semangat walaupun sedikit tersirat rasa perih saat menyuruhku melakukannya.
Dan…. Deg.
Kakiku benar-benar melakukannya. Aku segera berlari menyerobot orang-orang yang berlalu lalang di di terminal. Dengan sigap aku melewati pintu otomatis mendahului orang yang hendak melewatinya duluan. Langkahku memang terus berjalan, tapi pikiranku tetap pada satu nama sekarang. DESI. Aku yakin Desi pasti datang. Dia tidak mungkin terus menerus berbohong tentang perasaannya. Aku hanya butuh dia jujur.
Aku berlari kesana kemari mencari satu sosok itu. Beberapa di antara mereka ada yang kukira Desi tapi ternyata bukan. Selalu begitu. Pikiranku hanya pada Desi, tidak yang lain. Aku sampai tidak sadar kalau beberapa kali aku menabrak orang-orang yang berlalu lalang di sekitar dan tentu saja mereka marah-marah. Tapi aku tidak peduli sama sekali. Aku masih mencari Desi. Entah kenapa aku yakin Desi sudah datang di bandara ini. Tapi aku hanya belum menemukannya.
Kini. Sudah delapan kali putaran aku bolak-balik dari terminal pertama sampai terakhir. Meskipun kaki dan tubuhku sudah terasa lemas, tapi entah kenapa tidak ingin berhenti mencarinya. Tapi kemana dia? Kenapa dia tidak menampakkan batang hidungnya dari tadi? Sehelai rambutnya pun belum bisa aku temukan sendiri. Aku berhenti dan diam sejenak. Menengok kanan kiri. Berpikir, lalu berkeringat. Bajuku sudah basah oleh peluh. Aku tetap ingin bertemu dengan Desi. Tapi sebentar lagi aku take off!!!! Aku tidak mungkin meninggalkan Tiara juga. Des.. ayo keluar, Des.
"Ryan…" panggil suara itu. Ya, suara itu! Aku menoleh ke arah suara itu. Dan di ujung sana aku melihat senyuman manis yang sangat aku rindukan selama setahun ini. Senyuman yang tak pernah aku lihat di wajah siapapun, senyuman yang berbeda. Senyuman yang setahun lalu tidak pernah berhenti memberiku semangat. Iya, dia.. Desi. Spontan kakiku segera berlari menghampirinya. Dan dalam hitungan detik, Desi sudah ada di pelukanku. Ia menangis sambil memelukku erat.
"Maafin gue!" ucapnya tertahan air mata.
Aku merasakan pundakku basah oleh tetesan air matanya. Aku mengelus rambutnya halus seraya memeluknya makin erat. Ia sepertinya tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi karena sudah terbanjiri air mata. Suasana menyeretku untuk ikut meneteskan air mataku. Bukan hanya karena suasana, tapi hatiku merasakan irisan yang sangat pedih karena harus berpisah dengannya. Ya, aku benar-benar merasakan perpisahan dengan Desi dalam waktu lama dan entah kapan akan bertemu lagi. Aku makin cemas dengan pikiranku itu. Aku merasa akan sangat merindukan Desi saat merasakan pelukan eratnya.
"Iya, maafin gue juga. Gue bikin sakit hati lo, gue udah terlalu berbuat sesuka hati gue. Gue terlalu banyak maksa lo untuk beberapa hari ke belakang. Gue cuma pengen ketemu lo, Des. Gue kangen lo," jawabku berurai air mata. Desi hanya mengangguk di tengah eratnya pelukan kami berdua, sambil terus mengeluarkan air mata.
"Gue cuma gak mau jadi pembohong lagi. Gue sayang lo dan gak pernah hilang. Gue bohong karena gue cuma pengen lupain lo waktu itu. Tapi ternyata gue gak bisa. Mereka terlalu maksa gue jujur. Dan gue juga sadar bukan saatnya lagi gue bohong."
"Iya, Des. Bukan saatnya lagi kita bohong. Kita punya perasaan masing-masing dan mereka gak bisa dibohongin. Gue pun terlalu banyak bohong, termasuk nembak Tiara. Itu semua bohong, Des. Tapi gue udah terlanjur terikat sama keluarganya Tiara, dan gue gak bisa nolak karena mereka udah baik banget sama gue. Maafin gue ya, gue sayang sayaaang banget sama lo. Sumpah, gak gombal."
Aku makin tidak mau melepaskan Desi. Berkali-kali aku mencium rambutnya dan mengusap-usapnya halus. Entah kenapa perpisahan ini bukan lagi masalah jarak. Hatiku makin khawatir. Aku berharap pada Tuhan supaya pikiranku ini bukan pertanda apa-apa.
"Sebentar lagi gue take off. Lo jaga diri baik-baik disini. Jaga kesehatan, jangan nakal, fokus belajar, okey!" ucapku seraya melepas pelukanku dan memegangi pundaknya dengan mata basah. Aku lihat matanya sama banjir denganku. Raut wajahnya yang kusut seketika hilang saat senyuman indah itu menghiasi bibirnya.
"Oke deh, boss! Lo juga jaga diri disana. Jagain Tiara baik-baik. Bahagiain dia. Lo harus tanggung jawab atas status lo saat ini. Gue janji, cewek baik kayak Tiara, lo bakal nyesel seumur hidup kalo lo gak bisa bahagiain dia. Dan gue janji, Tiara itu pendamping yang pas buat lo. Jangan pernah pikirin apapun tentang gue kalo lo udah bisa bahagiain dia, kecuali kita sebagai teman. Makasih ya lo udah bikin hidup gue unik. Lo itu… best of the best friend. Lo jauh lebih baik dari sahabat-sahabat gue. Makasih banget!" jawabnya sambil menahan air mata.
"Ya, Des. Lo gak usah khawatir. Semua perkataan lo, gue bakal lakuin, gue janji, Des!"
Kami pun melakukan salaman khas yang biasa kami lakukan setahun yang lalu. Kemudian aku memeluknya lagi sebelum akhirnya aku pergi dari hadapannya sambil beberapa kali menengok ke belakang sambil menahan air mata. Dan masih terlihat juga dari raut wajah Desi kalau ia menahan air mata saat melihatku masuk ke terminal sambil melambaikan tangan.
***
Aku mengelap air mata yang sedari tadi masih diam di sekitar mataku. Aku melihat Tiara yang begitu lemas bersandar pada kursi roda. Wajahnya yang begitu menyejukkan seperti Desi, membuatku tersenyum di tengah wajah senduku. Sebentar lagi kami akan masuk pesawat. Hanya sedang menunggu Ayah Tiara yang sedang pergi ke toilet sebentar.
"Handphone jangan lupa dimatiin dulu, Yan," ujar Tiara.
"Oh iya." Aku segera mengambil handphone di tasku karena memang belum dimatikan. Ternyata ada pesan baru. Dari Helen, setengah jam yang lalu.
Yan, mudah2an lo belum take off dan baca sms ini ya. Desi kecelakaan waktu otw bandara, Yan!! Dia udah gak ada Yaaaan :'''(((
From : Helen
Dan seketika tubuhku melemas. Mengingat kejadian itu persis sebelum aku masuk terminal. Tapi, tadi itu? Des..
Dan saat itu bulan Desember, tepat dua hari sebelum ulang tahun Desi.
Tapi tanpa diharapkan pun, ini sudah pasti benar!
Kau.. pemilik mata indah itu, akan kutunggu derap langkahmu menuju taman terindah di tengah kota, sore ini.
Sweet greet,
Ryan
Baru saja puisi nan indah dan sederhana itu bermain-main di retina mataku. Mulutku sontak menganga lebar. Heran? Sudah pasti. Tapi, yang tidak menentu itu rasa kaget yang tidak beraturan. Rasanya dada ini berdegup lebih kencang dari biasanya. Nafas sulit diatur. Bukan karena tiba-tiba aku merasakan desiran sesuatu yang berbeda dari kata-kata tersebut, tapi.. sejak kapan dia menyukaiku? Maksudnya.. sejak kapan dia bisa senekat ini? Aku gelengkan kepalaku.
Ryan, model cover boy yang sering dimirip-miripkan dengan artis Boy William itu, kertasnya.. ini.. Ah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Semua gara-gara Helen. Dia pasti bilang macam-macam sama Ryan. Padahal kemarin, aku cuma bercanda, hey! "Astaga, Helen! Mana anak itu?" gerutuku spontan. Sudah dapat banyak ancaman masih saja nekat. Dan sumpahnya, kemarin aku cuma bercanda.
"Len, nih! Nih pasti gara-gara lo!" aku segera menyerahkan kertas tadi pada Helen.
Helen segera membuka kertas itu. Dan sesaat, matanya berbinar kegirangan. Senyumnya mengembang.
"Des, ini dari Ryan? Haha.. gue bilang juga apa," ujar Helen tergirang sambil memukul pundakku.
"Apa? Masih bilang kata lo apa? Aduh, Helen.. gue tuh gue cuma bercanda. Gak ada maksud buat serius. Oke, kalo gitu, gue bakal aduin masalah lo ke Adam tentang si Darma"
Aku hendak pergi tapi Helen mencegah. Dari matanya tersirat sebuah kekhawatiran, hanya sedikit. Tertutupi oleh sikapnya lumayan centil itu.
"Eh, jangan dong, Des. Lo gak kasian sama gue? Gue udah jarang sms-an lagi kok sama Darma." Helen membungkus tangan kananku dengan kedua telapak tangannya ditambah wajah tak karuan.
"Makanya! Lo jangan maen-maen dong. Gara-gara lo, gue disuruh ke taman kota sama dia. Apa-apaan coba?"
"Ya udah, Des. Dateng dulu aja. Siapa tau.. dia mau nraktir lo juga."
"Traktir apaaan?? Gue gak peduli pokoknya, mau dia nraktir, nraktor, gue gak mau dateng. Bilangin ya!"
Kali ini aku benar-benar pergi. Helen mengikuti dari belakang sambil mengoceh. Aku tidak peduli dan tidak mau peduli dia mau mohon-mohon atau apapun. Berkali-kali dia membuntutiku sambil meneriaki namaku. Aku menutup telinga.
"Gue gak peduli!" jawabku sambil menutup telinga saat berkali-kali suara cempreng Helen mengejarku.
"Des, udah dateng aja. Lo gak ngehargain gue sih?"
"Gak. Gak mau!"
"Des.. Ayolah.."
***
Aku mematung di depan gerbang taman kota. Hatiku berdegup tak karuan. Aku juga heran, kenapa dadaku berisik dari biasanya? Yang jelas bukan karena aku tiba-tiba berubah suka pada Ryan. Kadang, aku juga suka jadi galau sendiri jika sewaktu-waktu merasakan hal yang serupa. Aku coba mengatur nafasku berkali-kali. Helen selalu jadi biangnya Sudah beribu kali pula aku menolaknya. Ini seperti lelucon. Semakin kesini, dadaku makin berisik, entah kenapa. Aku teruskan langkahku menuju bangku taman yang paling teduh di ujung sana.
Setelah agak lama menunggu, "Hey.." suara yang agak bergetar mulai terdengar seperti menyapa ke arahku. Tiba-tiba Ryan duduk di sampingku.
"Udah lama?" tanyanya sambil berusaha mengatur nafas. Dia seperti habis lari-lari. Aku hanya memandang lurus ke depan, tidak sama sekali memandang wajahnya. Malu sekaligus gereget pada Helen.
"Enggak kok, baru setengah jam!" jawabku agak meninggi.
"Serius? Kenapa lo gak sms gue? Eh.."
Hatiku terkelitik sesaat, membuatku berani memalingkan wajah ke arahnya.
"Gokil! Punya nomor lo aja enggak! Eh.. deket sama lo aja enggak." Sedetik, aku memalingkan wajahku ke arah semula.
"Eh iya, sorry.. gue lupa, refleks. Hehe.." Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kemudian, kami saling berdiam beberapa saat. Agak lama sih. Baru setelah tidak sengaja kakiku menginjak sepatunya, dia refleks bicara.
"Lo.. udah baca puisi jelek gue?" tanyanya memulai perbincangan.
"Udah," jawabku singkat.
"Terus?"
"Terus apa?"
"Terus gimana tuh puisinya? Jelek ya? Kalo gue tempel di mading, gimana?"
Aku menyipitkan mataku dan memberanikan diri menatap wajahnya.
"Lo kesini mau nanya itu doang? Lo kan bisa tanya Helen, atau siapa kek. Gak usah ke gue."
"Yaelah, sensitif banget sih, Bu. Gue cuma mukodimah aja. Biar gak garing aja."
"Itu bukan mukodimah."
Berkali-kali, aku memalingkan wajah dan kembali menatap Ryan setiap ia selesai bicara. Aku tidak ingin bicara sambil bertatap muka, sebenarnya.
"Yaudah, gue mau mukodimah," lanjutnya serius. Kedua tangannya dieratkan berpangku di atas kedua pahanya. Kepalanya tertunduk, sesekali menatap ke depan. Suasana tiba-tiba hening.
Belum sampai 2 menit, aku bangkit. Aku beranjak pergi dari hadapan Ryan. Dan tentu saja Ryan mencegah.
"Des, mau kemana?" Ryan meraih tanganku, dan dengan refleks aku lepaskan lagi.
"Lo ngabisin waktu gue. Gue masih banyak urusan. Lain kali aja."
"Urusan apa, sih? Masih SMA banyak urusan." Ryan kembali meraih tanganku. Dan lagi, aku melepaskannya sambil berpaling ke wajahnya, sangar.
"Terserah gue, dong. Ini hidup gue."
"Des.. gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ryan masih belum menyerah mencegahku pergi. Dan lagi, aku refleks melepaskannya. Sampai ke depan gerbang taman.
"Mau ngomong apa sih? Gue udah gak mau ngomong apa-apa sama lo. Gue udah gak kenal sama lo."
"Yaudah, kita kenalan dulu kalo gitu."
Aku tersenyum sinis. "Gak lucu. Udah ya, gue mau pulang. Bye.."
Aku segera menyetop angkot yang kebetulan lewat.
"Des.."
***
Halo. Aku Desi. Dulu aku pernah punya hubungan dekat dengan Ryan, saat kami masih pisah sekolah. Hubungannya memang terbilang spesial. Jika aku sebutkan sebagai suatu 'relationship', aku rasa itu terlalu mendalam. Aku tidak begitu serius dengan Ryan. Namun untuk suatu hubungan persahabatan, aku rasa pun kami lebih dari itu. Ryan itu istimewa buatku. Ia yang pernah buat hari-hariku berwarna seindah warna-warna kesukaanku. Ia bilang kami lebih dari sekedar sahabat, tapi aku bilang aku belum siap jika untuk pacaran. Entah kenapa, aku belum pernah diberi kesiapan untuk pacaran, dengan siapapun. Akhirnya kita terjebak dalam suatu 'hubungan tanpa status'. Dan ia bilang, ia akan selalu setia menungguku sampai aku mau jadi pacaran.
Tapi, aku rasa kata 'setia' itu hanya sebuah alibi. Alibi besar sampai menutupi sesuatu yang tidak aku ketahui. Ternyata, di luar sana ia sudah mempunyai pacar, benar-benar pacar. Bukan status kosong sepertiku. Dan di belakangku, ia sering bilang bahwa ia sangat mencintai pacarnya itu. Sampai rela mengorbankan apapun demi dia. Aku rasa, yaa.. aku merasa bahwa, perasaannya yang sebenarnya adalah untuk pacarnya itu. Jadi, semenjak itu, aku putuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Aku hapus dia dari list pertemanan facebookku, aku blokir twitternya, aku hapus semua akun sosial medianya, aku hapus nomor handphonenya dan langsung ganti nomor, aku hapus segala komunikasi yang bisa berhubungan dengannya. Sampai akhirnya ia pindah ke sekolahku. Ia jadi murid baru di sekolahku!!!
Awalnya aku risih. Tapi aku coba untuk tidak peduli dan pura-pura tidak mengenalnya. Berkali-kali berpapasan dengannya, ia tidak menyapaku, tapi melihatku dengan salah tingkah. Aku tidak peduli. Lagipula, tujuanku adalah tidak berkomunikasi lagi dengannya. Sampai ia tau aku memblokir semua nomor dan akun sosial medianya, sampai ia tau, aku tidak pernah mengaku kenal dengannya atau tahu apapun tentangnya, aku masih tetap tidak peduli. Aku tidak peduli apa yang dirasakannya. Yang terpenting, tujuanku hanya satu, mengakhiri komunikasi dengannya. Just that.
***
"Des, gimana? Gimana tadi? Ryan bilang apa aja?" tiba-tiba Helen datang menyerobot posisi dudukku. Aku langsung mendorong Helen ke sebelah kanan dan mengembalikan posisi dudukku.
"Kepo," jawabku santai sambil membuka-buka majalah. Wajah Helen terlihat agak kecewa.
"Yaah.. lo gak mau cerita ke gue gitu? Dikit.. aja."
"Gak mau."
"Ciee.. gue tahu. Pasti kalian berdua udah.. ehem.. Yaudah, gue harap kalian tadi baik-baik aja, gak ada insiden apapun."
Aku tidak ingin berkomentar apapun. Mataku fokus membaca majalah tapi fikiranku kemana-mana.
"Pokoknya, gue gak bakal nyerah. Demi sahabat gue! Kalian berdua harus bersatu lagi! Pasti bisa!" Helen mengangkat satu kepalan tangannya begitu semangat. Aku hanya memandang heran.
"Udah, gak usah lebay. Tenang aja lagi, gue ini orangnya gak suka yang ribet-ribet. Jadi, untuk lupain dia, itu bukan suatu hal yang susah."
"Jadi, lo belum lupain dia sampai sekarang?"
"Kapan gue bilang?"
"Barusan."
"Enggak ih."
"Barusan. 'untuk lupain dia, bukan hal susah', berarti lo belum bisa lupain dia ya? Hayoo ngaku aja lo!"
"Gak!" Aku coba fokus membaca majalah di tanganku sekarang. Dan Helen mulai menjadi. Mulutnya tidak berhenti bicara. Sekarang aku tidak ingin menutup telingaku lagi, tapi aku coba tidak mendengarkan semua ocehan Helen apapun tentang Ryan. Dan sepanjang ocehannya malam ini, topiknya masih tentang Ryan, seputar hal-hal tidak penting yang tidak ingin aku ketahui.
Helen dan Ryan itu satu ekskul. Jadi pantas kalau ia tau banyak tentang Ryan. Kadang Helen juga suka keceplosan, eh.. memang sengaja, menceritakan semua tentangku pada Ryan. Kadang aku ingin mempitesnya seperti kutu. Tapi dia sahabatku, aku tidak bisa menuntutnya terlalu banyak sesuai perkataanku. Makanya aku masih membiarkannya berbuat sesuka hatinya walau kadang rasanya aku ingin memarahinya.
Tiba-tiba handphone-ku bunyi, tanda ada sms masuk. Waktu kulihat, nomor baru. Tidak ada nama pengirimnya.
"Heh, lo ngasih nomor gue sama dia?" tiba-tiba saja aku refleks menuduh Helen saat aku lihat text message itu dari Ryan.
Helen cengengesan. Aku manyun.
"Leeen.. lo bisa gak, diem dulu sama masalah ini? Lo gak ngerti sih masalahnya."
"Gue ngerti kok. Bahkan gue yang lebih ngerti. Lo sendiri yang malah gak ngerti sama perasaan lo."
"Tapi gue yang lebih ngerti, Len. Simple aja, dia bukan cowok satu-satunya."
"Iyalah. Kan masih ada bokap lo, bokap gue, kakak lo, Reza, Danis, Adam.." Dan penyakit tulalitnya kambuh lagi. Aku hanya bisa memutar bola mata.
"Len.. Helen.. Bukan gitu maksudnya," tangkisku. Dan Helen malah cengengesan lagi.
Aku beralih fokus pada layar sentuh lebar di depan mataku. Aku bingung, harus jawab apa. Ryan mengajakku ketemuan di taman sekolah besok saat jam istirahat. Ia nampaknya masih belum menyerah juga. Ini pun masih gara-gara Helen. Helen terlalu ngotot. Aku memandang layar itu agak lama. Sedangkan di sampingku, Helen masih menunggu apa yang akan aku lakukan. Balas, atau tidak.
***
Hari ini aku lihat ada ramai-ramai di depan mading. Beberapa anak yang lewat tiba-tiba saja langsung menyangkut di depannya. Bukan karena paku, tapi sepertinya ada sesuatu di mading. Ah, aku tidak peduli. Paling cuma edisi baru yang isinya cerpen atau puisi dari anak-anak. Aku lewati saja kerumunan itu. Tapi tiba-tiba..
"Weeeh, kayaknya ada yang bakal ditembak tuh," ceplos salah satu anak yang spontan menghentikan langkahku. Aku menoleh. Hah. Mereka semua melihat ke arahku. Ada apa ini? Aku heran. Tak tanggung-tanggung, langsung aku serobot mereka untuk melihat isi mading. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak beres.
HAH?! RYAN SIALAN!! Puisinya benar-benar ditempel di mading! Dan kemarin itu memang benar-benar bukan lelucon. Dia membuatnya untuk mading, bukan untuk apa-apa lagi selain itu! Dan kemarin dia benar-benar sudah mengerjaiku! RYAAAN!!!!
"Puisinya bagus lho, Des. Gue suka. Nanti lo harus terima dia," ujar Reza menggoda-goda. Aku beralih menatapnya agak sinis tapi kasar.
"Makasih!!" jawabku sambil beranjak sinis.
Aku berjalan penuh kesal dan amarah. sbegitu teganya sampai i mempermainkanku seperti ini. Bukan kesal karena menyesal sudah datang ke taman kota waktu itu, tapi kesal karena aku sempat sedikit merasa ge-er. Ya, GR. Aku ge-er, entah kenapa harus ge-er. Aku lebih baik dilanda JR Project daripada harus dilanda GR gara-gara dia (apa hubungannya? -___-). Kenapa? Ada yang salahkah? Aku sebel sama dia tidak ada yang salah kan? Semoga.
"Hey, mantannya Ryan ya?" tiba-tiba sebuah suara lembut campur serak basah terdengar di telingaku. Aku merasa tersindir, walaupun sebenarnya bukan. Aku menoleh. Ternyata anak itu sudah berdiri dengan dua tangan di depan dada, seperti menantangku. Tapi aku coba positive thinking dan menghilangkan pikiran aneh tentangnya. Anak cantik itu..
"Gue yang nempelin puisi itu di mading, kenapa? Lo marah ya?" lanjutnya, dan membuatku refleks kaget. Siapa dia? Maksudnya apa? Bukan Ryan…?
"Elo? Maksud lo apa? Ngapain lo ikut campur urusan gue?"
"Emang masalah ya kalau gue ikut campur?"
"Masalah dong! Lo siapa? Gue juga gak kenal. Gue cuma tau lo anak basket. Itu aja."
"Sebelumnya sorry, gue temennya Tiara. Lo tau Tiara, pacarnya Ryan?"
Aku mengkerutkan kening, heran. Aku ingat nama pacarnya Ryan, ya, Tiara. Tapi, maksudnya apa dia mancing-mancing begini? Terus, apapula hubungannya denganku?
"Terus, kenapa? Apa masalahnya sama gue?"
"Gue cuma mau kasih tau, tolong banget, jangan jadi pengganggu hubungan Tiara dan Ryan. Mereka itu udah pacaran hampir setahun. Masa lo tega ngacauin hubungan mereka yang hampir serius itu?"
Aku makin mengkerutkan kening, semakin heran. Aku tanya lagi dalam hati, sejak kapan aku berniat buat menghancurkan hubungan mereka? Bahkan tentang mereka pun aku sama sekali tidak pernah tahu, semenjak aku putuskan komunikasi dengan Ryan. Kenapa masih saja ada orang bicara begini? Aku heran, apa motivasinya, sampai berani bicara begini padaku?
"Maksud lo apa sih? Lo aneh deh. Jangan ngada-ngada," seruku heran.
"Kok lo bisa nanya gitu? Apa ada yang salah dari pertanyaan gue?"
"Ya mana gue tau. Lo tiba-tiba dateng, bicara gitu, tanpa ada motivasi apapun. Gue gak ada hubungan apa-apa sama Ryan. Gue juga baru tau orangnya, gue gak kenal sama dia. Jadi lo gak usah asal nuduh ya, makasih." Aku segera beranjak pergi tanpa bicara panjang lebar. Da sepertinya anak itu mengikuti dari belakang.
"Hey, gue tau lo pernah punya hubungan sama Ryan. Omongan lo tadi bohong, gue tau," ujarnya dari belakang. Aku tetap berjalan dan tidak menoleh. Dan ia masih tetap saja bicara sambil mengikutiku.
"Dan gue tau juga… Ryan jadiin Tiara bukan sebagai Tiara, tapi sebagai lo!"
Tiba-tiba langkahku terhenti. Aku kaget. Nafas menjadi sesak sesaat. Mendengar itu membuatku tidak berani mengangkat kaki kembali. Entah kenapa, seperti sangat berat. Padahal, aku rasa itu bukan suatu masalah. Ya, sebelah hatiku bicara, itu bukan suatu masalah, hanya masalah kecil. Tapi, tapi.. sebelah lagi, sepertinya bicara lain, bertolak belakang. Sumpah, apa sejauh itu? Apa seberlebihan itu, Ryan?
***
"Tiara gak pernah merasa jadi dirinya sendiri semenjak jadian sama Ryan. Dia merasa jadi orang lain. Dia merasa Ryan memperlakukan orang lain, bukan dia. Dia merasa jadi lo, gue rasa!" jelas Fira, anak basket itu, yang tak lain adalah teman dari Tiara.
Aku tidak menyangka. Benar-benar diluar pikiranku selama ini. Satu tahun ini, aku memang berhasil melupakan semua tentang Ryan. Aku memang berhasil menjadikan diriku terbebas dari kekangan beban perasaan yang dirasakan orang lain di saat seperti ini, pada umumnya. Ya, aku berhasil. Dan aku kira, dengan menjadi pacar Tiara, dia pun akan berubah dan berhasil melupakan tentangku juga. Tapi jadinya seperti ini. Ryan terlalu berlebihan.
"Tapi, kenapa dia masih mempertahankan Ryan? Tau Ryan udah memperlakukannya kayak gitu."
"Ya jelaslah, apalagi kalau bukan karena udah sayang banget sama Ryan? Walaupun dia tau, Ryan itu bukan liat dia, tapi liat elo, dia tetep seneng karena Ryan juga memperlakukannya dengan baik. Tapi Ryan berbuat begitu, karena liat elo, Des, bukan Tiara!"
Aku mulai kacau. Tiba-tiba rasa galau menimpa. Batinku serasa ditusuk. Rasanya dada ini berubah panas, efek dari kekacauan perasaanku. Bagaimana tidak, Ryan selama ini tidak pernah menghargai seorang cewek yang benar-benar menyayanginya. Aku sebagai seorang cewek bisa merasakan hal yang sama, ketika pacar yang sangat disayangi ternyata selama ini tidak pernah melihat pacarnya, tapi malah melihat sosok orang lain. Dan parahnya, sudah tau keadaannya begitu, dia masih mempertahankannya dengan Tiara. Sementara di luar sana, aku rasa, mungkin aku tau, Tiara pasti sering menangis. Aku pun merasakan hal yang sama ketika tau Ryan jadian dengan Tiara dulu. Dan intinya, perasaan Tiara tak beda jauh denganku.
Aku langsung beranjak dari tempatku. Rasanya menggebu-gebu ingin memukul Ryan beberapa kali sekencang-kencangnya. RYAN JAHAT!! Tak tahu kenapa, malah aku yang merasakan panas dan sakit sejak mendengar cerita Fira tadi. Rasanya ingin membejek-bejek Ryan sampai penyek. Supaya mahluk sepertinya tidak ada lagi di muka bumi ini!
"Lo jahat! Lo jahat.. jahat.. jahat, jahat, jahat, jahaaaaat!" tak tanggung-tanggung aku langsung memukul-mukul tubuh Ryan dengan tanganku beberapa kali sekencang-kencangnya. Ryan mencoba menghindar dan menghentikanku, tapi aku terus memukulinya. Aku gereget, saking geregetnya.
"Ih, ini apaan nih? Hey, hey, ngapain dateng-dateng , mukul-mukul gue? Hey, sadar hey! Emang lo kenal gue?" tangkis Ryan berkali-kali.
"Gue gak kenal lo, gak kenal lo! Dan gue gak mau kenal lo lagi!" aku masih terus memukuli Ryan tanpa henti.
"Hey.. hey.. udah, udah. Ah, sakit.. sakit.." dan Ryan masih mencoba menghentikanku. Tiba-tiba, tanpa sadar, aku sudah ada di pelukan Ryan. Dan sepertinya Ryan pun tidak sadar. Hah?! Aku langsung melepasnya dan segera mengusap-usap bajuku yang tadi menempel dengannya. Aku malu, tiba-tiba dadaku bergetar. Entah apa yang aku rasakan. Aku sungguh kaget saat tak sengaja berpelukan dengan Ryan. Aku langsung memalingkan muka ke arah lain. Dan sepertinya, Ryan pun salah tingkah. Dia membenarkan baju dan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
"Ngomong-ngomong, ngapain lo tiba-tiba mukul-mukul gue? Ada yang salah sama gue?" tanyanya setelah beberapa saat.
"Ada," jawabku masih salah tingkah."Salah lo banyak banget."
"Tapi, motivasi lo dateng kesini terus tiba-tiba mukul gue apa?"
Aku beranikan membalikkan wajah dengan mantap ke arahnya. Tiba-tiba terlihat wajahnya yang cool dan menyejukkan menari-nari di retina mataku. Mengingatkanku pada wajah satu tahun yang lalu. Ryan Andreas. Tiba-tiba aku teringat nama itu. Nama seorang sahabat yang berubah naik tingkat di atas kata sahabat, namun untuk menjadi kekasih, justru aku malah menolaknya. Akhirnya, aku dan dia menjadi pasangan hubungan tanpa status. Tanpa pernah ada kejelasan dariku padanya, sampai detik ini. Aku terdiam sesaat, memandangi wajahnya yang tiba-tiba tak berhenti keluar dari pikiranku.
"Des.." panggilnya memecah lamunanku. Aku spontan menggelengkan kepala berusaha keluar dari lamunanku.
"Motivasi gue, gue cewek, dan gue ngerasain apa yang Tiara rasain sekarang. Lo nyadar gak sih, selama ini lo udah bikin Tiara sedih? Lo nyadar gak, Tiara sayang banget sama lo? Hey, elo gak nyadar ya selama ini lo gak pernah liat dia? Hey, sadar dong! Lo mau jadian sama dia, itu berarti lo harus bertanggung jawab atas dia! Termasuk perasaannya juga!" dengan mantap dan suara setengah serak, aku tumpahkan langsung itu di depan Ryan. Ryan pun sepertinya heran. Ia membuka mulut, tapi belum mengeluarkan suara sedikitpun.
Ia segera memalingkan muka ke arah lain, kemudian duduk di bangku taman. Sepertinya ia sedang memikirkan apa yang harus ia katakan. Aku masih menunggunya sambil berdiri.
”Kenapa lo nanya itu? Emang lo kenal gue?" tanyanya tiba-tiba. Membuatku gereget ingin menimpali.
"Heh, bukan masalah kenal atau enggak. Tiara itu pacar lo! Dan sebagai pacar, lo harusnya bertanggung jawab atas dia! Dulu lo rela ngorbanin gue demi dia! Sekarang, dia udah jadi pacar lo, lo mau korbanin juga? Mana hati lo? Lo cowok apaan sih?" tak tanggung-tanggung aku memukul tangannya sekeras-kerasnya sampai dia mengaduh.
"Tau darimana lo tentang masalah itu?" tanyanya kembali.
"Tau darimana itu gak penting! Jangan mentang-mentang lo punya tampang terus lo seenaknya! Tugas lo gampang banget lho sebagai seorang cowok. Lo tinggal setia dan tulus, apa susahnya sih?"
Ryan menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya dengan lega. Ia masih belum bicara lagi. Mulutnya terkatup entah bagaimana, yang jelas dia terus-terusan menatap ke langit, seperti mencari-cari sesuatu. Ya, sesuatu, sesuatu itu adalah sebuah jawaban. Aku yakin, dia sedang mencari jawaban yang tepat untuk menjelaskan semua ini. Aku tahu, dari sorot matanya dia pasti ingin mengatakan langsung apa yang Fira katakan tadi. Tapi aku rasa dia masih belum bisa merangkai kalimat yang tepat mengungkapkannya karena.. pasti dia serba salah.
"Ngomong dong!" lanjutku karena dia tak kunjung bicara. Tapi ia masih tetap mematung.
"Ryan, lo punya mulut kan? Ngomong dong! Ryan..!! Ngomong!"
"Oke! Oke, gue jelasin! Satu kalimat. Gue masih dan selalu sayang sama lo! Udah puas?"
Kemudian ia beranjak pergi dari hadapanku tanpa bicara apapun lagi. Aku setengah kaget, tapi aku bisa mengendalikannya. Membuatku bertanya, kenapa? Bukannya Tiara lebih spesial, sampai aku dikorbankan? Eh.. tapi, tapi.. sejauh ini, kenapa aku masih merasa dikorbankan? Dengan kata 'dikorbankan', padahal aku tidak pernah menjadi pacarnya, faktanya! Tapi kenapa aku masih merasa dikorbankan? Lho.. lho..
***
Aku sengaja turun di depan sebuah toko souvenir, padahal hari sudah lumayan gelap. Ada beberapa barang yang ingin kubeli untuk tambahan pernak-pernik dan hiasan di kamarku. Yaa supaya lebih bisa menutupi barang-barang lain pemberian Ryan dulu. Barang-barang itu sudah aku masukan ke dalam sebuah box dan aku simpan di sudut kamar, yang jauh dari tempat tidur dan barang-barang seisi kamar. Tapi, ternyata hawa-hawanya masih tetap terasa memencar di setiap sudut kamar bahkan seisi kamarku. Aku juga tak tahu kenapa. Apa mungkin aku terlalu bodoh sampai itupun aku tidak tahu dan tidak mengerti? Niatnya sih, mau aku kembalikan. Tapi aku urungkan karena sudah terlanjur mengaku tidak pernah mengenalnya sama sekali.
Sewaktu sedang memilih-milih souvenir, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang menggantung di saku celana mbak penjaga toko itu. Aku kenal sekali, itu gantungan babi lucu memakai baju khas kerajaan berwarna pink, gantungan yang pernah diberi Ryan karena aku ingin sekali gantungan babi yang khas seperti itu. Ryan sampai datang langsung ke tempat pembuatan gantungan kunci hanya untuk memesan gantungan babi dengan corak seperti itu, sampai membuatku terharu. Dan.. ternyata gantungan itu sudah terjual banyak sepertinya. Hmm.. aku refleks melangkah menghampiri mbak itu.
"Maaf, mbak.." sapaanku membuatnya menoleh. Dan.. astaga! Sekarang pun aku kenal dengan wajah ini. Ini..
"Tiara?" seruku memastikan. Tiara sepertinya salah tingkah. Ia menunduk tak berani melihat wajahku. Sepertinya memang benar perihal Ryan memperlakukannya sangat sama sepertiku. Gantungan babi itu…
"Kenapa, Tiara? Kamu ngapain disini?" tanyaku berusaha melihat wajahnya. Tapi ia berusaha menghindarkan wajahnya.
"Desi.. ya?" tanyanya agak gugup.
"Iya, aku Desi." Aku mengulurkan tangan seraya tersenyum. Akhirnya ia mendongak dan meraih uluran tanganku sambil berusaha menutupi keterkejutannya.
***
"Kamu kerja disini?" tanyaku setelah Tiara agak tenang dan mempersilahkanku duduk di bangku depan toko.
"Iya. Aku lagi butuh uang."
"Emang orang tua kamu gak ada?"
"Aku udah terlalu banyak nyusahin mereka. Kalau aku keenakan, kasian mereka. Aku belum bisa ngasih apa-apa, yaa minimal aku gak nyusahin mereka dulu."
"Oh.." ujarku."Kalau boleh tau, uang buat apa? Sampai kamu rela kerja kayak gini?" tanyaku lagi dengan agak hati-hati.
"Yaa.. ya buat apa aja. Buat bayar sekolah, uang jajan, atau apa aja yang menyangkut aku sendirian. Ya kalau bisa dan cukup, buat bantu orang tua juga."
Tiba-tiba saja aku merasa kagum padanya. Ternyata dia segigih itu. Meskipun niatnya masih sederhana, tapi ia sangat yakin dan semangat. Wajahnya yang meneduhkan itu, kenapa Ryan malah tega menjadikan dia seperti orang lain? Yaitu aku. Sepertinya dia sangat baik dan ramah. Tapi Ryan tidak berperasaan!
"Emm.." tiba-tiba suaraku memecah kesunyian."Gimana hubungan kamu sama Ryan?" aku mulai basa-basi dengan sedikit hati-hati, tapi berusaha untuk tetap rileks.
Sepertinya dia kaget.
"Emm.. baik. Baik-baik aja kok," jawabnya simple agak salah tingkah.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti. Kemudian aku diam lagi. Sunyi lagi. Setelah beberapa lama, rasanya aku gatal ingin menanyakan sesuatu padanya. Tadinya akan kuurungkan, khawatir dia malah makin down.
"Emm.." ujarku agak bimbang."Ada yang salah gak sama hubungan kalian?" dengan hati-hati aku tanyakan itu."Gak apa-apa, cerita aja sama aku. Apapun masalahnya, aku siap denger dan kasih solusi. Gimana pun, kamu itu tetep pacar Ryan, sahabat aku."
Tiara sepertinya kaget juga. Mungkin efek dari perasaannya yang terlalu tertekan. Mungkin, aku rasa. Itu hanya persepsiku saja, tidak tahu kebenarannya. Tapi dari rautnya, ia seperti menyimpan sesuatu, sesuatu yang sangat banyak dan berat. Pasti beban! Ya, aku seperti bisa merasakan apa yang ia rasakan.
"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu? Kita belum kenal lama, dan aku juga gak deket sama kamu. Kenapa aku harus bilang sama kamu?" ujarnya agak ragu.
"Tiara, kamu itu pacarnya Ryan, dan Ryan itu sahabat aku. Aku pengen Ryan selalu akur dengan pacarnya, apapun yang terjadi. Aku pengen Ryan itu jadi cowok gentle dan macho, bukan hanya dalam penampilan, tapi dalam perlakuannya sebagai seorang pacar. Kalau kamu merasa ada yang salah dengan Ryan, kamu bisa cerita sama aku, ya?"
"Aku sama Ryan baik-baik aja kok. Kita akur, suer, kita gak pernah berantem."
"Aku tau. Ryan selalu baik sama kamu, ya kan? Tapi please, bilang aja, apa ada sesuatu yang beda sama Ryan?"
"Enggak ada. Dia baik-baik aja. Gak ada yang salah, kita gak ada masalah apapun."
"Tiara, gak apa-apa, bilang aja. Kamu gak usah anggap aku siapa-siapa. Kamu boleh cerita sesuka hati kamu. Ada yang salah gak dengan Ryan?"
"Kok kamu jadi kepo gitu??" tiba-tiba Tiara bangkit dari tempatnya, seperti terdorong amarah. Sontak aku kaget.
"Eh, bukan gitu. Maksud aku, aku cuma berniat baik mau nolongin kamu."
"Nolongin apa? Aku gak punya masalah apa-apa sama Ryan! Kenapa sih kamu harus nanya gitu? Kamu pengen hubungan aku sama Ryan ada apa-apanya? Kamu pengen hubungan aku sama Ryan jadi berantakan gara-gara pertanyaan kamu barusan? Mau kamu apa sih?"
Aku terhentak saat Tiara bicara begitu, dengan nada yang agak tinggi pula. Namun wajahnya seperti ingin menangis, tapi ditahan.
"Maksudnya, bukan gitu, Ra. Aku cuma.. aku cuma.. Cuma.." tiba-tiba lidahku serasa kelu dan membeku. Aku tidak tahu jawaban dari 'kenapa' yang dilontarkan Tiara barusan. Aku tidak tahu alasan aku menanyakan hal itu. Yang aku ingin cuma pernyataan langsung dari mulut Tiara tentang yang ia rasakan selama dia pacaran dengan Ryan, dan aku juga tidak tahu apa yang bisa aku lakukan selanjutnya. Tuhan, aku harus bilang apa? Aku tidak mungkin bilang langsung dari mulutku sendiri karena hanya Tiara yang merasakannya.
"Cuma apa?" tanyanya lagi.
"Cuma..cuma.." aku tidak tahu harus bilang apa pada Tiara. Tiba-tiba rasa bersalah berdatangan ke benakku. Entah kenapa, aku selalu tidak tahu tentang perasaanku sendiri.
"Aku.. cuma.. cuma mau minta maaf sama kamu. Apapun yang kamu rasain sekarang, aku pengen minta maaf. Aku gak tau perasaan kamu sekarang, yang bisa rasain cuma kamu sendiri. Tapi aku minta maaf banget, aku takut sering bikin kamu kalut gara-gara Ryan. Maafin aku, ya, maafin aku, Tiara.." dan itu yang keluar dari mulutku. Spontan. Tanpa aku rangkai atau kupikirkan terlebih dahulu. Dan mataku hampir basah, tapi untunglah air mataku masuk kembali dan tidak jadi membasahi sekitar mata.
Tiba-tiba Tiara menangis. Ia menutup muka, menahan air mata yang tiba-tiba mengalir deras dari ujung matanya. Aku kaget dan khawatir, kalau-kalau ucapanku barusan ada yang salah. Ya, mungkin dari awal ada yang salah. Aku coba menenangkannya, tapi dia malah makin menangis.
"Kalau aku bisa balik lagi ke masa lalu, aku gak akan pernah mau kenal Ryan. Aku gak akan pernah mau diajak kenalan sama Ryan waktu itu. Sampai akhirnya aku jadi suka sama Ryan, dan Ryan nembak aku. Dan aku jadi pacarnya, dan dari semenjak itu aku jadi sayang banget sama dia. Kalau dari awal aku tau ada kamu sebelum aku di kehidupannya Ryan, aku bakal mikir dua kali untuk kencan sama Ryan. Aku nyesel, bisa kenal sama dia. Tapi dia udah bikin aku cinta setengah mati, walaupun aku nyesel."
Wajah Tiara seketika basah oleh air mata yang mengalir kemana-mana karena tangannya. Dia tak mampu membendung emosi yang selama ini ia rasakan. Mataku ikut basah. Aku tahu benar yang ia rasakan saat mengatakan itu. Aku mengelus-elus bahu dan tangannya dengan air mata yang mulai mengalir.
"Kalau kamu jadi aku, kamu gak akan pernah kebayang gimana sakitnya. Aku cuma mau jadi diriku sendiri, aku gak mau jadi orang lain, karena semua orang beda dari aku. Kenapa aku harus jadi orang lain? Kenapa Ryan tega? Kenapa juga aku masih aja sayang sama dia setelah tau kayak gini? Padahal kalau emang sakit, harusnya aku udah putus sama dia sejak dulu. Tapi kenapa aku masih mempertahankannya, aku juga gak ngerti!"
Mataku semakin basah. Aku terus memandangi Tiara dengan penuh iba. Ya, Tiara, aku merasakan bagaimana sakitnya. Tidak hanya kamu, tapi aku juga. Kita sama-sama perempuan. Aku sangat bisa merasakannya. Maafkan aku, Tiara. Tapi aku tidak pernah tahu hal ini, dari dulu.
"Ryan itu orang baik. Dia pasti ngerti apa yang harus dia lakuin buat pacarnya. Ryan gak akan pernah bikin kamu jadi orang lain. Ryan itu type cowok yang setia. Dia tau gimana harus berbuat dan bertindak. Udahlah, kamu gak usah terlalu bersedih. Kalian cuma butuh waktu buat ngobrol berdua, dan saling curhat satu sama lain. Kalian cuma belum menyatu aja. Percaya deh, nanti juga Ryan bakal berubah, buat kamu," ujarku seraya menghapus air mataku dan berusaha tersenyum. Aku mengelus bahunya lagi. Dia memandangku dengan wajah yang basah oleh air mata.
"Kenapa dia gak balik lagi ke kamu aja? Kalau kayak gini, aku lebih rela dia sama kamu daripada dia jadi pacarku tapi memperlakukan aku seperti kamu, bukan seperti aku sendiri."
"Jangan ngomong gitu. Dia belum siap. Dia tau betul yang namanya setia, tapi dia belum bisa mempraktekkannya. Dia cuma butuh waktu."
"Butuh waktu? Berapa lama? Hubungan aku sama dia udah berjalan hampir setahun, masih butuh waktu buat nunggu dia? Apa yang bakal aku dapet?"
Aku menarik nafas sedikit. Sepertinya lemparan-lemparan pertanyaan lain akan mengalir lebih banyak lagi. Aku hampir kehabisan kata-kata. Aku tidak bisa menjawab dengan argument yang sebenarnya tidak nyata. Aku ini hanya tipe penenang, bukan pemberi solusi. Aku tidak tahu apa yang aku katakan barusan benar atau tidak, tapi mungkin itu bisa meluluhkan Tiara. Tapi sejatinya aku tidak tahu.
"Kalau gitu, aku pergi dulu ya. Hari udah hampir malem. Kita lanjutin ngobrol besok aja ya."
Aku sudah bersiap menyoren tasku dan bangkit dari tempat duduk. Baru beberapa langkah aku beranjak dari situ, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh di lantai. Aku kaget. Suaranya sangat keras. Ternyata bukan sekedar benda, tapi itu..
"Tiara…"
***
Aku memandang Ryan yang sedang duduk di ruang tunggu dengan jarak beberapa meter. Wajahnya terlihat cemas, mungkin sangat cemas. Aku tidak berani menyapa apalagi mengganggunya. Sepertinya dia risau menunggu dokter keluar dari ruang UGD. Tiara dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah aku melihatnya terkulai di depan toko dengan jidat berdarah akibat terbentur ujung meja. Sekarang ia tengah menjalani pemeriksaan dan perawatan di ruang UGD.
Aku takut. Aku merasa bersalah karena kejadian itu persis setelah aku mendatanginya. Aku takut ini gara-gara aku. Aku takut Ryan menyalahkanku kalau aku memanggilnya. Buktinya dia begitu cemas. Apa yang ada di pikirannya sekarang? Bukankah aku ada disini? Bukankah dia bilang dia masih sayang padaku, sampai rela mengorbankan pacarnya sendiri demi aku? Kenapa dia begitu cemas? Apa dia bohong?
"Yan.." perlahan aku coba memanggil dan mendekatinya. Dengan perasaan yang hampir ngilu tapi aku tahan. Entah kenapa.
Ia menengok. Aku kaget. Matanya merah seperti hampir menangis.
"Maafin gue ya. Kalau gue gak dateng, mungkin dia gak bakal gini." Aku perlahan duduk di sampingnya. Ia kembali ke posisi semula.
"Lo gak salah. Dia emang lagi sakit," jawabnya sambil memandang ke depan.
"Sakit apa?" aku kaget. Tiba-tiba mendengar kata 'sakit' itu aku merasakan ada sesuatu.
Ryan menoleh ke arahku."Enggak. Lo gak perlu tau."
"Sakit apa, Yan? Please, kasih tau gue."
"Lo gak perlu tau, Des. Dia berusaha nyimpen sendirian tapi akhirnya gue tau sendiri. Dan gue udah janji gak bakal kasih tau siapapun."
"Tapi, Yan, gue pengen tau. Please, kasih tau gue!" Aku tetap bersikeras dan penasaran.
Ryan diam sejenak. Matanya sudah berbanjir air mata yang hampir jatuh. Tapi ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Aku makin penasaran dengan ekspresinya itu. Perasaanku makin tidak enak. Rasanya aku ingin menangis juga melihat mata Ryan yang memerah.
"Dia sakit... kanker. Kanker sumsum tulang belakang.." ucap Ryan dengan berat dan air mata yang tiba-tiba mengalir.
Aku sontak terkejut. Ryan menangis. Dia menangis! Baru kali ini aku melihatnya menangis, untuk seseorang yang bahkan sudah ia jadikan pelampiasan, seseorang yang selama setahun ini berusaha mengisi kekosongan hatinya. Tiba-tiba air mataku mengalir entah kenapa. Entah kenapa aku pun tidak tahu! Bukan karena mendengar berita itu. Tapi.. Kenapa aku harus menangis melihat Ryan menangisi gadis lain selain aku? Rasanya seperti ada yang menusuk di bagian dadaku. Rasanya sakit. Aku coba menghapus air mataku. Aku takut Ryan melihatku. Dan aku coba tersenyum.
"Lo yang sabar ya. Lo harus tetep jagain dia, jangan tinggalin dia sekalipun. Dia itu butuh lo. Lo harus berperilaku sesuai status lo sekarang, sebagai pacarnya. Lo denger gue? Lo harus bener-bener jadi pacar yang setia dan jadiin dia diri sendiri, okey!" aku menepuk-nepuk bahunya dengan mata hampir basah dan suara agak gemetar. Setelah tersenyum mantap, aku beranjak hendak pergi dan ternyata mataku benar-benar basah lagi.
"Kenapa lo nangis?" tiba-tiba suara Ryan menahan langkahku. Aku berusaha tidak mengeluarkan air mata itu setetes pun. Baru setelah agak kering, aku berbalik dengan perlahan.
"Gue ngerasa sedih aja. Gue kaget waktu denger barusan kalau Tiara sakit kanker. Penyakit kanker itu bukan penyakit biasa kan, itu penyakit mendewa, apalagi sumsum tulang belakang. Gue gak kebayang kalau gue yang punya penyakit itu, mungkin semua orang gak bakal mau ngurus gue. Yaa mungkin.."
"Enggak. Gue tau bukan karena itu. Kalau karena itu, lo gak bakal langsung pergi."
"Emang kenapa kalau gue langsung pergi?"
Ryan diam sejenak.
"Karena lo nyelonong aja, gak pamitan." Tiba-tiba Ryan tersenyum di tengah wajah basahnya. Dia memasang wajah yang tiba-tiba membuatku ilfeel. Aku langsung menghapus semua air yang hampir keluar dari mataku.
"Iya, gue pamit!" dengan rasa sedikit sebal aku pergi meninggalkan Ryan sendiri di ruang tunggu.
***
Baru kali ini aku menopang dagu. Aku masih terpikirkan masalah kemarin. Aah, kenapa kemarin aku bisa merasakan itu? Padahal selama ini yang kubilang melupakan seorang cowok apalagi yang belum pernah menjadi pacarku dan sekarang sudah menjadi milik orang lain itu sangat simple dan gampang, dan aku sudah melakukannya. Tapi kenapa sekarang jadi begini? Kenapa aku merasakan panas di dada ini sewaktu melihat Ryan menangis karena Tiara? Assshhh..!!
"What's wrong, cantik? Ngapain menopang dagu kayak cherrybelle gitu?" tiba-tiba Helen datang menyambar tempat duduk di sampingku. Aku tetap pada posisiku semula. Memandang lurus ke depan, tapi pikiranku jauh melanglang buana entah kemana. Mungkin pada Ryan. Hah? Kenapa harus Ryan? Ash Desi!
"Hey, lo tau mitos kesurupan gara-gara pikiran kosong? Gue tau itu cuma mitos, tapi menurut logika gue itu bener, bukan sekedar mitos," oceh Helen lagi. Aku mendengar semua yang keluar dari mulut Helen. Tapi aku tidak segera menjawabnya. Aku diam. Berusaha menghapus semua pikiran yang sedang melandaku sekarang. Agak lama juga. Akhirnya, aku menurunkan tanganku dari dagu.
"Kenapa, Des?"
Aku menarik nafas. Lalu memandang Helen.
"Kemaren Ryan nangis gara-gara Tiara. Jadi udah terbukti kan kalau Ryan udah gak suka lagi sama gue, dan kesempatan gue lupa sama dia terbuka lebar, jadi lo gak usah cape-cape sok nyatuin kita berdua lagi, okey!" setelah itu aku menopang dagu kembali.
"Hey, nangis karena apa, Des? Lo jangan asal narik kesimpulan gitu dong. Enak banget lo ngomong!" jawab Helen, sepertinya ia agak tersinggung. Hatiku merasa sedikit tidak enak dengan perkataanku barusan, tapi aku biarkan.
"Terus, gue harus ngapain? Kalo kenyataannya emang kayak gitu gimana?"
"Dia nangis gara-gara apa, lo belum tau kan? Apa sih motivasi lo gampang banget bilang 'bisa lupain dia'? Bohong banget, tau!" Helen menyeruput es jeruk dengan dahi mengkerut. Aku merasa tersindir dengan keadaan. Ah, kenapa sih? Apa yang membuatku tetap tinggal dalam ketidakpastian ini? Aku akui aku sedang berdiam dalam ke-dilema-an sekarang. Ya, aku akui. Tapi aku tidak bisa mengatakannya pada Helen.
"Jelas-jelas gue lihat dia nangis pas Tiara dibawa ke ruang UGD. Tiara itu lagi sakit. Kalau bukan karena sayang, Ryan gak mungkin sampai nangis begitu."
Helen tertawa. Ia seperti mengetahui sesuatu. Tapi sumpah, aku tidak mau tahu apa yang ia ketahui. Apapun itu.
"Des..Des.. lain kali lo harus ngorek-ngorek tuh hati lo, apa yang lo simpen selama ini? Keluarin aja, susah amat sih!"
Aku mengerutkan kening. Pura-pura tidak tahu. Padahal aku mengerti apa maksudnya. Ya, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit. Kedilemaan itu.. mungkin sudah membuatku menjadi orang bodoh. Aku menarik nafas, tapi berusaha supaya kegalauanku tidak tampak di depan Helen. Semoga saja Helen tidak pernah membacanya. Kini topangan daguku makin parah. Justru sekarang aku meletakkan kepalaku di atas kedua tangan yang melipat rapi di atas meja kantin. Entah kenapa pikiranku sekarang menerawang jauh ke wajah Ryan. Ryan? Ah, Ryan!
***
Sudah dua minggu aku tidak melihat Ryan berlalu lalang di sekitarku setiap pulang sekolah. Meskipun aku tahu dia sudah tak menampak di sekolah, tapi tetap saja mataku tak berhenti mencari-carinya ke setiap sudut sekolah. Aku berharap dia masih ada di sekolah, menghampiriku, lalu mengajakku bicara, menggantikan kesempatan yang waktu di taman itu sempat aku cancel. Aku sudah seperti orang bodoh. Mencari orang itu? Aku tertawa dalam hati sambil menggelengkan kepala. Mana mungkin aku masih terus mencarinya? Rencanaku? Aku akan tetap pada rencanaku melupakan seorang Ryan. Ya, memang dia bukan siapa-siapa dan tidak pernah jadi siapa-siapa buatku. Aku teruskan langkahku menyusuri koridor sekolah yang mulai kosong ini.
Dan langkahku terhenti di depan sebuah ruangan, agak besar. Aku refleks masuk ke dalam ruangan itu. Entah apa yang membuatku bisa masuk, aku hanya mengikuti arah kakiku yang terus berjalan kemana dia mau.
"Kenapa, Des?" tanya seseorang tiba-tiba. Itu Reza. Ia sedang membereskan ruangan yang biasa dipakai ekskul teater itu beserta beberapa teman yang lain.
Tiba-tiba aku tergagap. Aku juga tidak tahu apa yang membuatku masuk kesini. Aku hanya ingin mencari Ryan. Hah? Bodoh! Kenapa dari tadi Ryan terus??
"Eu.. Helen mana?" tanyaku sambil mengalihkan pikiran. Ya, Helen memang anggota ekskul teater juga kan? Ya.. Haha.
"Lho, emang lo gak tau? Hari ini dia gak sekolah, pergi ke Semarang," jawab Reza, dan membuatku sadar kalau hari ini Helen memang tidak sekolah. Helen sudah memberitahunya tadi pagi lewat sms. Ah, makin bodoh saja kamu, Des!
"Oh.. iya!" aku refleks menepuk jidat."Gue lupa. Bodoh banget ya gue."
Aku langsung membalikkan badan hendak pergi lagi dari tempat itu.
"Psst.. ada orang lain-kah yang lo cari selain Helen?" tiba-tiba ujaran Reza mengurungkan niatku untuk melangkah pergi, malah membuatku berbalik.
"Eng..enggak. Siapa lagi? Biasanya gue emang cari Helen kan?" jawabku agak tergagap.
"Gak biasanya lo cari Helen sampai nyamperin ke ruangan ini. Kayaknya ada orang lain yang lo cari selain Helen, ya?" Reza menaik-naikkan alisnya sambil memasang wajah super aneh. Membuatku mengkerutkan dahi.
"Dih. Siapa? Ryan? Basi, tau! Ryan aja terusss. Gak bosen lo?" spontan aku to the point saja.
Reza tertawa."Tuh kan bener. Gak usah gengsi, biasa aja sama gue mah. Lo cari Ryan kan?"
Pertanyaan Reza itu malah membuatku memukul pundaknya.
"Enggak, sorry ya!" aku tetap ngotot dengan pendapatku.
"Hahaha.. terus, lo ngapain masih di sekolah? Gak pulang? Helen kan emang gak sekolah."
"Yaa terus kenapa? Ini kan sekolahan gue juga. Gue bayar disini, jadi hak gue mau disini sampai besok juga."
"Kalo bukan karena nyari-nyari Ryan, lo pasti udah pulang dari tadi. Soalnya Helen emang gak ada."
Aku spontan memukul pundaknya lagi sambil melotot."Heh, terus aja!"
"Hahahaa.." Reza melanjutkan pekerjaannya lagi."Oh ya, tadi Ryan nitip salam buat lo."
"Ah, masa bodoh!" timpalku cuek. Walaupun sebenarnya hatiku tergirang mendengar itu. Hm.
"Tiga hari lagi dia take off ke Jerman. Dia mau nemenin pacarnya berobat disana sampai sembuh…"
Deg. Tiba-tiba hatiku terasa tertusuk mendengar kalimat terakhir barusan. Ryan? Dia ke Jerman? Untuk menemani seseorang yang hanya ia jadikan pelampiasannya? Lho, kenapa bisa? Aku memandang Reza sesaat, tapi pikiranku kini hilang terbang menelusuri setiap jengkal dunia ini, mencari keberadaan hati Ryan sekarang. Hati Ryan sekarang ada dimana? Apa dia sudah tidak mempunyai perasaan lagi kepadaku? Apa dia memang benar-benar sudah mencintai Tiara? Aku tak merasakan mataku basah. Dan aku baru sadar saat Reza memberitahuku.
"Mata lo kenapa, Des?" tanya Reza. Aku segera mengerjapkan mata. Berusaha menyapu air mataku dengan bulu mataku sendiri.
"Aduh, gue kelilipan," aku mengucek mataku layaknya seperti benar-benar habis kelilipan.
"Lo bohong kan, Des?" tanya Reza lagi. Dari ekspresinya sudah terbaca kalau ia sudah mengetahui keadaanku jauh sebelum mataku basah.
"Beneran. Cuma kelilipan kok, gak apa-apa."
"Gue tau lo bohong."
Tiba-tiba mataku basah lagi. Makin lama tetesannya semakin jatuh. Kini aku tidak bisa membendung air itu keluar dari mataku. Aku menangis.
***
Selembut kapas yang belum dipetik
Seharum bunga terharum di jagat raya
Secerah sinar mentari pagi sejatinya selalu menghangatkan angan
Seberapa cepat bumi berputar pada porosnya
Itulah seberapa pikiranku menerawang dirimu
Mata yang indah menusuk ulu cinta
Sikap yang luar biasa dan tak terduga
Sederhana tapi sempurna
Merayu dan terus merayu pikiranku
Entah apa yang kulihat ini benar atau tidak
Tapi aku harap ini benar
Tapi tanpa diharapkan pun, ini sudah pasti benar!
Kau.. pemilik mata indah itu, akan kutunggu derap langkahmu menuju taman terindah di tengah kota, sore ini.
Sweet greet,
Ryan
Ini.. Puisi romantis terakhir dari Ryan, semenjak aku tahu pacarnya terkena kanker. Dan semenjak itu, aku yakin Ryan hanya peduli pada pacarnya, sudah tidak peduli lagi denganku. Aku buka-buka lagi beberapa kertas imut lucu bermotifkan warna pink dari dalam binderku. Itu semua surat dan puisi dari Ryan setahun yang lalu. Dia rajin mengirimkan surat-surat dan puisi itu hanya dengan kertas bermotifkan warna pink. Padahal teknologi internet dan jejaring sosial sudah lumayan canggih, tapi ia lebih memilih memakai kertas-kertas lucu ini untuk dikirimkan padaku. Entah motivasi apa sampai berpikir begitu.
Aku tak menyadari kalau aku senyum-senyum sendiri. Ya, aku ingat waktu itu. Dia sering mengirimkan sebuah kotak di depan pintu rumah. Tanpa nama pengirim. Tapi aku sudah tahu kalau itu darinya. Di dalamnya pasti Ryan menyertakan hadiah boneka atau pernak-pernik lucu berwarna pink, dan terakhir membaca puisi-puisinya itu sambil senyum-senyum sendiri. Tapi kalau aku sadar itu hanya kejadian setahun yang lalu, bibirku melengkung ke bawah lagi. Aku tutup binderku. Selanjutnya aku mengambil barang-barang lain pemberian Ryan dari dalam kotak besar ini.
Aku memandang satu persatu barang-barang itu. Dan sekali lagi, aku mulai teringat kejadian setahun yang lalu. Itu tiba-tiba membuat mataku agak basah. Tapi aku coba menahannya agar air itu tak keluar lagi. Sesaat, barang-barang itu sudah tertata rapi kembali di dalam kotak. Aku merapatkan kotaknya ke tempat semula. Aku tahu ini konyol. Aku hampir menertawakan diriku sendiri sewaktu ingat kata-kataku yang sering aku lontarkan pada Helen, untuk lupain dia itu simple dan gampang, cowok bukan dia satu-satunya, atau aku sudah tidak menyukainya lagi. Apa itu semua? Aku takut itu bohong. Aku menghirup sejenak atmosfer yang bertebaran di kamarku.
Telet..
Gue pengen bicara empat mata sama lo di taman kota besok pagi. Gue harap lo dateng. Thanks
From : Ryan.
Ryan? Asshh! Tidak! Aku tidak akan pernah datang! Mau sepeduli apa dia, mau seantusias apapun, aku tetap tidak akan meladeninya. Biar saja dia menunggu di taman kota sendirian. Aku tidak akan datang! Pergi saja sana ke Jerman sama nengmu! Buat apa masih sempat-sempatnya melirik cewek lain? Hih..
Keesokan harinya. Ponselku beberapa kali berbunyi tapi tidak kuangkat, setelah tahu itu dari Ryan. Aku biarkan ponsel itu bergetar sendiri di atas kasur. Sebenarnya tanganku sudah gatal ingin mengangkatnya, tapi entah kenapa benakku menahannya. Ah, Desi! Ada apa denganmu?! Jangan galau! Sudah! Jangan angkat! Aku berkali-kali meyakinkan diriku.
Ponselku berhenti bergetar. Aku sudah gatal ingin mengambilnya. Beberapa saat, ia bergetar lagi. Kali ini benar-benar aku ambil, dan..
"Halo.. Des, dimana sih? Ryan udah nungguin lo tuh di taman kota. Dia tadi bilang sama gue suruh telpon elu," tiba-tiba suara Helen yang malah terdengar di ujung ponsel sana. Asshh!
"Gak, Len. Biarin aja! Gue gak mau!"
"Dia mau ngomong sesuatu sama lo katanya penting banget!"
"Sepenting apapun, gue gak peduli! Gue tahu dia mau ngegombal dan ngeluarin jurus. Maaf aja, gak bakal mempan sama gue, Len!"
"Please, Des. Sekali iniii aja lo dateng dulu. Ayo dong, ini permintaan sahabat lo nih, Helena Simatupang, yang imut-imut, yang sekarang lagi jauh sama lo di Semarang sini. Atau gue gak bakalan balik!"
"Gak bakalan!" aku mengeraskan suaraku dari ujung ponsel sini.
"Ih, lo tuh maunya apa sih? Ngotot banget, susah banget dikasih tau! Ya udah, terserah lo!"
Helen langsung menutup teleponnya. Fine. Dan aku mulai bimbang lagi. Aku lebih baik tidur daripada harus merasakan ini. Ah, susah sekali mengakui sesuatu yang seharusnya aku akui! Des?
***
Kalo lo gak dateng hari ini, fine, gue bakal dateng lagi kesini besok. Dan gue harap lo dateng juga. Dan kalo besok lo gak dateng lagi, lusa gue bakal dateng lagi. dan kalo lusa lo tetep gak dateng, sorry, waktu gue gak banyak, jadi gue harap lo ngerti.
From : Ryan
Itu sms terakhir Ryan kemarin yang kubuka saat aku baru bangun dari terlelap. Aku mulai bimbang menatap layar itu lagi kedua kalinya. Aku ragu apa aku benar-benar harus pergi kesana menghampirinya. Aku diam. Diam dalam keraguan. Yang aku bisa lakukan sekarang hanya melamun. Otakku sibuk berpikir. Tapi aku masih saja mengikuti hawa nafsu sendiri. Itu, jangan datang!
Akhirnya hari itu aku sibukkan diriku dengan pekerjaan yang lain. Supaya bisa terlupakan masalah itu. Supaya aku bisa melupakan rasa bimbangku. Dan di hari itu juga Reza dan Helen sibuk menelponku supaya aku datang. Reza memang teman dekat Ryan, jadi semenjak kejadian puisi itu, Reza menjadi sangat antusias terhadap masalahku dengan Ryan.
Esok harinya. Ryan tetap sms lagi, dengan kata-kata yang sama tapi di waktu yang berbeda. Tapi aku tetap tidak mau datang. Aku sampai mematikan ponselku karena seringnya handphone bergetar. Hari ini dia take off. Aku ingat perkataan Reza waktu itu. Dia akan take off kesana bersama Tiara. Dan bukan tidak mungkin Tiara akan sembuh dalam waktu lama, kemudian mereka menikah disana. Aku mulai bimbang. Bagaimana ini? Aku benar-benar dilanda dilema.
Hari mulai siang. Aku masih diam mematung di kamar. Setelah beberapa lama aku terdiam….. Akhirnya, aku putuskan untuk pergi! Aku sambar tasku di meja kamar dan dengan tergesa-gesa aku menyetop ojek yang lewat di depan rumahku. Sepanjang perjalanan, aku masih saja dilanda galau. Aku tidak bisa menghilangkannya. Tapi ini harus dihilangkan! Aku harus yakin pada satu keyakinan. Dan sekarang aku sedang melakukan salah satu pilihannya, yaitu pergi menghampirinya. Tapi dia bilang tidak punya waktu banyak hari ini? Apa aku masih punya kesempatan? Oh.. semoga saja, Tuhan.
Saat sampai di taman, tak tampak batang hidung Ryan sedikit pun. Yang aku dapat hanya orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari sedang menikmati wisata taman kota. Aku coba cari-cari ke setiap sudut, tapi dia tak muncul juga. Kemana dia? Apa dia sudah menyerah dan marah padaku? Dia sudah pergi ke bandarakah? Aku langsung duduk di bangku taman. Hatiku mulai dilanda dilema lagi. Harusnya aku tidak usah datang tadi. Dia pasti bohong. Dia pasti tidak datang kesini tapi langsung ke bandara. Assshh! Kenapa aku begitu percaya, kenapa aku harus datang, kenapaaaa?!
"Halo.." ucapku saat merasakan getar ponsel di dalam tasku.
"Lo udah ketemu sama Ryan?" tanya Helen di ujung telpon sana. Aku hanya manyun mendengar pertanyaannya itu.
"ENGGAK! Tau gini gue gak bakal dateng tadi. Dia pasti mau ngerjain gue. Mana mungkin kan jam segini dia masih berkeliaran di tempat kayak gini? Dia pasti udah mau take off sama Tiara."
"Yaudah lo susul ke bandara!"
"Ngapain? Malesin banget, gak ada untungnya! Bukannya dia yang ngajak ketemuan?! Dih.."
"Kalo dari tadi lo dateng, lo pasti masih sempet ketemu dia! Dia cuma pengen denger sendiri dari mulut lo tentang perasaan lo yang sebenernya, DESI!! Lo jujur dong, jujur, JUJUR, pelit amat sih!"
"Gue gak punya perasaan apa-apa sama dia!"
"Bohong! Lo harus bilang sama dia langsung! Gak di telpon atau sms! Cepet, SUSUL DIA KE BANDARA!!" suara Helen makin meninggi.
"GAK MAU!!" aku tetap ngotot.
"Ya udah, terserah lo! Denger, lo baru boleh nanya gue kalau lo udah tobat dari kebohongan lo itu! Lo belum tobat, gue gak bakal ladenin lo!" dan tut. Telpon pun terputus.
Aaaah! Aku bimbang! Kenapa ada manusia sebimbang aku di muka bumi ini, Tuhan?? Sekarang, lihat. Apa-apaan Helen? Perasaanku jadi makin tak karuan saja. Dadaku tiba-tiba memanas dan berat. Aku coba duduk di bangku taman, menenangkan diri. Tapi tiba-tiba saja, bayangan tentang Ryan datang. Aku coba menepisnya. Tapi semakin aku menepisnya, bayangan itu semakin menjadi saja. Dan tetap, sekuat tenaga aku coba menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang mampir di benakku. Aku diam menghirup atmosfer di muka bumi ini yang sejatinya sudah mendarah daging. Aku diam, makin diam….. Dan tiba-tiba saja aku teringat kata-kataku dulu yang sangat sering aku lontarkan pada Helen. Tentang Ryan pastinya… 'untuk lupain dia itu hal yang simple dan gampang'. 'Cowok bukan dia satu-satunya di dunia ini kan?'. ' Gue janji bakal buang dia dari hidup gue'. 'gue udah gak suka lagi sama dia!! Dan gue bener-bener gak suka!'. 'lo bisa diem dulu gak sama masalah ini? Lo gak tau masalahnya sih!'. 'gue lebih ngerti perasaan gue sendiri, karena gue yang punya perasaan gue!'.
Haaah. Kata-kataku itu tiba-tiba saja menghantui pikiranku, menggelayut di otak sadarku, semuanya mengelilingi kepalaku. Itu kata-kata yang berulang kali aku katakan pada Helen dari semenjak Ryan belum pindah ke sekolahku. Dan itu selalu mengalir setiap kali Helen tiba-tiba saja nyelonong membahas Ryan tanpa asal-usul yang pasti. Itu.. itu! Itu bohong! Semuanya bohong, aku aku akui semuanya bohong! Kalimat-kalimat itu bohong! Dengan sekejap, rambut hitamku yang tergerai rapi sudah kembali seperti semula saat aku masih bangun tidur tadi pagi. Argh, apa yang harus aku lakukaaaan??
Lo harus jujur sama perasaan lo sendiri. Kalo perasaan lo emang kayak gitu, ngapain lo harus menghindar? Apa susahnya sih bilang doang?
From : Reza
Dan sms terakhir dari Reza itu makin membuatku tak karuan. What's wrong with me? What should I do?? Aku tidak mau menyusulnya ke bandara, hey, please!
Desiiiiiiiii!!!
Dan kedua kalinya sms Reza berusaha memukulku, mendorongku supaya aku pergi. Aku tetap tidak mau pergi! Desiiii…!! Tapi mungkin ini memang keputusan akhirku.
"Pak, bandara ya, Pak! Cepetan, beberapa menit!" ujarku pada pak supir taksi sesaat setelah aku menyetop mobilnya dan memukul bahunya beberapa kali agar mobil itu cepat melaju ke bandara.
Sepanjang perjalanan aku cemas. Handphone Ryan sudah tidak bisa dihubungi lagi. Jangan-jangan ia sudah di pesawat! Ah, tidak! Dia belum pergi! Jarak menuju bandara masih lumayan jauh. Aku kelimpungan menunggu bandara itu segera sampai di depan mataku. Pak supir taksi tampak kewalahan mengatasi kecerewetanku. Aku tetap mendorong-dorongnya supaya kecepatannya ditambah. Sontak aku merasakan kecepatan mobil yang lebih kuat daripada tadi.
***
Bandara sangat sesak dengan calon penumpang yang sebentar lagi akan take off dan orang-orang yang sedang mengantar calon penumpang itu, serat para pegawai yang sedari tadi mondar-mandir melakukan pekerjaannya. Aku masih saja diam di tepi terminal. Menunggu seseorang yang sudah sedari tadi pagi aku tunggu. Aku bodoh. Aku malah tidak menepati janjiku untuk menemuinya di taman kota tadi pagi. Aku bodoh, aku malah menuruti kemauan orang tua Tiara yang mengharuskan aku datang ke bandara lebih awal. Seharusnya aku lebih memilih orang itu jika aku mau jujur pada diriku sendiri. Tapi, aku sudah sangat jujur! Beda dengan orang itu, yang benar-benar tidak mau mengakui perihal perasaannya sendiri. Aku heran. Apa yang membuatnya begitu yakin bisa melupakanku, padahal aku sendiri sudah merasa mempunyai ikatan batin dengannya. Baru merasa. Tapi aku tak tahu kebenarannya.
Sudah sejam aku duduk di ruang tunggu, sesekali menengok keluar terminal, menunggu sosok itu datang. Mata indah dan menyejukkan itu, aku jujur dari diriku sendiri, benar-benar membuatku sangat mengaguminya. Bahkan, mungkin, mencintainya. Aku menunggu binar mata indah itu tiba-tiba datang menyinari suasana bandara ini yang terasa gelap bagiku.
"Yan.." panggil sebuah suara yang hampir tiap hari aku dengar di telingaku selama setahun ini. Aku mendongakkan kepala. Wajahnya tampak begitu pucat dan lesu, tapi senyuman itu seakan menutupi kelesuannya.
"Udah ketemu Desi?" tanyanya kemudian. Tiara seperti tak pernah merasakan sakit hati saat menanyakan itu. Aku hanya tersenyum kemudian menunduk. Aku menggelengkan kepala.
"Mungkin dia gak bakalan dateng, Ra. Dia pasti udah gak mau berurusan lagi sama aku," jawabku.
"Kata siapa?"
"Temen-temennya yang bilang. Udahlah, bentar lagi kita masuk pesawat. Gak usah nanyain itu lagi, Sayang." Aku mengelus rambut halusnya. Ia hendak tersenyum, tapi sepertinya tertahan. Kemudian kami hening di tengah keramaian bandara.
"Kenapa kamu gak jujur aja, Yan?" tanyanya tiba-tiba memecah keheningan.
"Jujur apa?" tanyaku balik. Aku merasa seperti akan tertuduh.
"Kamu gak usah sok kuat menghadapi sikap Desi yang kayak gitu. Kalau kamu emang sayang sama dia, kenapa kamu mesti pura-pura nurut sama orang tua aku?"
Aku tergagap sesaat. Terlihat wajah sendu Tiara yang tiba-tiba menghiasi wajah cantiknya itu. Tiara memang cantik, tapi entah kenapa, aku lebih melihat sosok Desi dari wajahnya. Dan wajah sendunya itu sekarang benar-benar menyadarkanku kalau Tiara dan Desi itu berbeda. Mereka sangat bertolak belakang. Kenapa aku masih melihat mereka berdua dalam satu sosok? Itu membuat masalah, sangat membuat masalah. Come on, sadarlah, Ryan! Sudah ada Tiara di hadapanmu, kenapa masih mengharapkan Desi yang belum jelas?
"Ra, kalaupun aku punya perasaan sama dia, bukan berarti aku harus ninggalin kamu. Kamu itu udah ada di janji hidup aku. Kalau aku gak menepati janjiku, aku bisa berdosa, Ra!"
"Kapan kamu janji? Justru kamu udah berdosa. Kamu bohong!"
"Aku gak pernah bohong, Ra. Aku serius. Aku nurut sama orang tua kamu semata-mata aku udah siap jadi pendamping hidup kamu, di saat kamu sakit atau sehat, sedih atau seneng, aku bakal tetep nemenin kamu. Aku janji, Ra."
"Tapi gak beserta perasaan tulus kamu kan? Aku seneng banget kamu bilang itu. Tapi, kalau perasaan kamu tetep sama Desi, buat apa aku paksa kamu ikut sama aku?" mata Tiara mulai basah, diikuti rasa bersalahku yang datang tiba-tiba. Aku tahu aku bohong. Tapi aku lebih mendukung keadaan jika keadaan memaksa harus begini. Aku memejamkan mata. Perlahan-lahan aku mengiyakan perkataan Tiara barusan. Iya, aku memang bohong.
"Sekarang, cepet kamu keluar terminal! Cari Desi sampai ketemu! Aku yakin Desi pasti dateng. Dia gak mungkin rela biarin kamu pergi tanpa perpisahan dulu sama kamu. Biarin dia ngungkapin perasaannya, kalau selama ini dia emang susah buat jujur sama dirinya sendiri. Kamu juga harus jujur, kamu jangan mau kalah sama Desi. Kalau Desi masih sering bohong, coba, kamu jangan bohong. Jujur, Yan, jujur!"
Aku makin diam. Hatiku sudah memanggil-manggil agar langkahku segera terurai. Mataku tetap saja menatap lantai terminal. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri. Tiara terlalu baik untuk aku tinggalkan, tapi aku tidak bisa membohongi diriku kalau aku sangat mencintai Desi lebih dari Tiara. AAH!! Aku tidak bisa melawannya.
"Ayo, Yan, tunggu apa lagi?! Cepet temuin Desi! Sebentar lagi kita take off." Tiara semakin mendorong urat kakiku supaya melangkah. Aku semakin tidak bisa menahannya. Tatapan mata Tiara semakin meyakinkan. Wajahnya terlihat begitu semangat walaupun sedikit tersirat rasa perih saat menyuruhku melakukannya.
Dan…. Deg.
Kakiku benar-benar melakukannya. Aku segera berlari menyerobot orang-orang yang berlalu lalang di di terminal. Dengan sigap aku melewati pintu otomatis mendahului orang yang hendak melewatinya duluan. Langkahku memang terus berjalan, tapi pikiranku tetap pada satu nama sekarang. DESI. Aku yakin Desi pasti datang. Dia tidak mungkin terus menerus berbohong tentang perasaannya. Aku hanya butuh dia jujur.
Aku berlari kesana kemari mencari satu sosok itu. Beberapa di antara mereka ada yang kukira Desi tapi ternyata bukan. Selalu begitu. Pikiranku hanya pada Desi, tidak yang lain. Aku sampai tidak sadar kalau beberapa kali aku menabrak orang-orang yang berlalu lalang di sekitar dan tentu saja mereka marah-marah. Tapi aku tidak peduli sama sekali. Aku masih mencari Desi. Entah kenapa aku yakin Desi sudah datang di bandara ini. Tapi aku hanya belum menemukannya.
Kini. Sudah delapan kali putaran aku bolak-balik dari terminal pertama sampai terakhir. Meskipun kaki dan tubuhku sudah terasa lemas, tapi entah kenapa tidak ingin berhenti mencarinya. Tapi kemana dia? Kenapa dia tidak menampakkan batang hidungnya dari tadi? Sehelai rambutnya pun belum bisa aku temukan sendiri. Aku berhenti dan diam sejenak. Menengok kanan kiri. Berpikir, lalu berkeringat. Bajuku sudah basah oleh peluh. Aku tetap ingin bertemu dengan Desi. Tapi sebentar lagi aku take off!!!! Aku tidak mungkin meninggalkan Tiara juga. Des.. ayo keluar, Des.
"Ryan…" panggil suara itu. Ya, suara itu! Aku menoleh ke arah suara itu. Dan di ujung sana aku melihat senyuman manis yang sangat aku rindukan selama setahun ini. Senyuman yang tak pernah aku lihat di wajah siapapun, senyuman yang berbeda. Senyuman yang setahun lalu tidak pernah berhenti memberiku semangat. Iya, dia.. Desi. Spontan kakiku segera berlari menghampirinya. Dan dalam hitungan detik, Desi sudah ada di pelukanku. Ia menangis sambil memelukku erat.
"Maafin gue!" ucapnya tertahan air mata.
Aku merasakan pundakku basah oleh tetesan air matanya. Aku mengelus rambutnya halus seraya memeluknya makin erat. Ia sepertinya tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi karena sudah terbanjiri air mata. Suasana menyeretku untuk ikut meneteskan air mataku. Bukan hanya karena suasana, tapi hatiku merasakan irisan yang sangat pedih karena harus berpisah dengannya. Ya, aku benar-benar merasakan perpisahan dengan Desi dalam waktu lama dan entah kapan akan bertemu lagi. Aku makin cemas dengan pikiranku itu. Aku merasa akan sangat merindukan Desi saat merasakan pelukan eratnya.
"Iya, maafin gue juga. Gue bikin sakit hati lo, gue udah terlalu berbuat sesuka hati gue. Gue terlalu banyak maksa lo untuk beberapa hari ke belakang. Gue cuma pengen ketemu lo, Des. Gue kangen lo," jawabku berurai air mata. Desi hanya mengangguk di tengah eratnya pelukan kami berdua, sambil terus mengeluarkan air mata.
"Gue cuma gak mau jadi pembohong lagi. Gue sayang lo dan gak pernah hilang. Gue bohong karena gue cuma pengen lupain lo waktu itu. Tapi ternyata gue gak bisa. Mereka terlalu maksa gue jujur. Dan gue juga sadar bukan saatnya lagi gue bohong."
"Iya, Des. Bukan saatnya lagi kita bohong. Kita punya perasaan masing-masing dan mereka gak bisa dibohongin. Gue pun terlalu banyak bohong, termasuk nembak Tiara. Itu semua bohong, Des. Tapi gue udah terlanjur terikat sama keluarganya Tiara, dan gue gak bisa nolak karena mereka udah baik banget sama gue. Maafin gue ya, gue sayang sayaaang banget sama lo. Sumpah, gak gombal."
Aku makin tidak mau melepaskan Desi. Berkali-kali aku mencium rambutnya dan mengusap-usapnya halus. Entah kenapa perpisahan ini bukan lagi masalah jarak. Hatiku makin khawatir. Aku berharap pada Tuhan supaya pikiranku ini bukan pertanda apa-apa.
"Sebentar lagi gue take off. Lo jaga diri baik-baik disini. Jaga kesehatan, jangan nakal, fokus belajar, okey!" ucapku seraya melepas pelukanku dan memegangi pundaknya dengan mata basah. Aku lihat matanya sama banjir denganku. Raut wajahnya yang kusut seketika hilang saat senyuman indah itu menghiasi bibirnya.
"Oke deh, boss! Lo juga jaga diri disana. Jagain Tiara baik-baik. Bahagiain dia. Lo harus tanggung jawab atas status lo saat ini. Gue janji, cewek baik kayak Tiara, lo bakal nyesel seumur hidup kalo lo gak bisa bahagiain dia. Dan gue janji, Tiara itu pendamping yang pas buat lo. Jangan pernah pikirin apapun tentang gue kalo lo udah bisa bahagiain dia, kecuali kita sebagai teman. Makasih ya lo udah bikin hidup gue unik. Lo itu… best of the best friend. Lo jauh lebih baik dari sahabat-sahabat gue. Makasih banget!" jawabnya sambil menahan air mata.
"Ya, Des. Lo gak usah khawatir. Semua perkataan lo, gue bakal lakuin, gue janji, Des!"
Kami pun melakukan salaman khas yang biasa kami lakukan setahun yang lalu. Kemudian aku memeluknya lagi sebelum akhirnya aku pergi dari hadapannya sambil beberapa kali menengok ke belakang sambil menahan air mata. Dan masih terlihat juga dari raut wajah Desi kalau ia menahan air mata saat melihatku masuk ke terminal sambil melambaikan tangan.
***
Aku mengelap air mata yang sedari tadi masih diam di sekitar mataku. Aku melihat Tiara yang begitu lemas bersandar pada kursi roda. Wajahnya yang begitu menyejukkan seperti Desi, membuatku tersenyum di tengah wajah senduku. Sebentar lagi kami akan masuk pesawat. Hanya sedang menunggu Ayah Tiara yang sedang pergi ke toilet sebentar.
"Handphone jangan lupa dimatiin dulu, Yan," ujar Tiara.
"Oh iya." Aku segera mengambil handphone di tasku karena memang belum dimatikan. Ternyata ada pesan baru. Dari Helen, setengah jam yang lalu.
Yan, mudah2an lo belum take off dan baca sms ini ya. Desi kecelakaan waktu otw bandara, Yan!! Dia udah gak ada Yaaaan :'''(((
From : Helen
Dan seketika tubuhku melemas. Mengingat kejadian itu persis sebelum aku masuk terminal. Tapi, tadi itu? Des..
Dan saat itu bulan Desember, tepat dua hari sebelum ulang tahun Desi.






1 komentar
Soooooooooooooo Sweeet..
BalasHapus