Sepucuk Surat Tidak Penting
20.35Kebetulan, hari ini
aku sedang sibuk memikirkan proyekku yang semakin hari semakin terabaikan.
Salah satu proyek di list mimpiku. Tapi intermezzo kadang memang harus
dibangun. Cuma tak sengaja aku iseng membuka lagi satu buku berwarna biru
donker, yang di covernya tertulis kata ‘ONE’. Ya, aku kangen dengan suasana
sekolah yang konyol itu.
Lembar demi lembar
aku buka. Iya, ini teman-teman SMA-ku. Mereka sangat berwibawa.
Terlihat dari wajah mereka masing-masing, mereka bukanlah anak-anak
sembarangan. Mereka adalah siswa-siswi terbaik di kota kami. Mereka adalah
orang-orang hampir setiap hari aku lihat wajahnya ketika aku sampai
menginjakkan kaki di sekolah.
Dari bab ‘pangais
bontot’, aku membuka sedikit demi sedikit lembaran itu. Wajah-wajah itu.. Aku
tidak tahu dan tidak mengerti. Aku tidak tahu apakah aku harus merasa kangen
atau sebaliknya. Wajah-wajah mereka sudah sangatlah tidak asing bagiku. Melihat
mereka sudah seperti melihat keluarga sendiri. Ya, keluarga. Dalam keluarga
memang tak selalu kita merasa hangat dan nyaman. Dan aku tidak tahu, apakah aku
merasakan hal yang hangat dan nyaman ketika aku berpisah dengan mereka.
Wajah-wajah mereka
adalah wajah yang setiap harinya terpampang di retina dan pikiranku. Setiap hari
aku selalu melihat gurauan serta semangat belajar mereka. Setiap hari mereka
berganti trend setter dan gaya. Mereka memang berbeda-beda. Dari gaya dan juga
tingkah laku. Mereka memiliki semangat belajar yang sama, walaupun sebagian
lainnya tidak ditunjukkan secara kasat mata, termasuk aku. Aku mengaku,
semangat belajarku terpacu saat berada di tengah-tengah mereka. Mereka
anak-anak yang hebat dan tidak monoton. Iya, itu yang membuatku kangen pada
mereka.
Tapi, di sisi lain,
aku bingung. Pada kenyataannya, di akhir kebersamaan kami, aku tidak merasakan
yang seharusnya aku rasakan saat itu. Aku tidak merasakan hangatnya kebersamaan
yang benar-benar hangat seperti yang lainnya. Aku merasa banyak perbedaan dan
perubahan sejak itu. Aku merasa hal itu terbawa-bawa menjadi kenangan yang
kurang meyakinkan di masa perkuliahanku sekarang. Setiap aku mengingat mereka,
ujaranku pertama kali adalah ‘aku takut, aku sedih..’ dan kemudian diteruskan
‘tapi aku kangen’. Tetap saja kesan pertama yang tercicip pertama kali. Kenapa?
Aku merasa tidak
berharga jika mengingat masa-masa keberadaanku di sekolah. Entah hanya
perasaanku saja, atau memang kenyataan yang memojokkanku. Aku bukan orang yang
terpandang biasa di kelas. Aku luar biasa. Justru, karena keluar biasaan itu,
aku merasa perbedaan membatasi aku dan mereka. Perbedaan di antara kami tidak
pernah menjadi penyatu kebersamaan kami. Memang, secara kasat mata, kami
terlihat seperti gelas baja yang tak mungkin pecah. Tapi tanpa diketahui, di
dalamnya terdapat sedikit retakan. Dan retakannya adalah aku, salah satunya.
Gelasnya tetap tidak akan bocor, tapi tetap saja semua orang tidak mengetahui
apa yang terjadi di dalamnya.
Aku mengenal mereka
jauh selama dua tahun itu. Mereka sempat menjadi partner yang setia kawan dan
solid. Aku sempat merasa nyaman berada di sekitar mereka. Gurauan mereka,
kesolidaritasan kami bersama, pacuan semangat belajar secara tidak langsung,
aku selalu ingat itu semua. Tapi… ini sulit diungkapkan. Aku bingung setiap
kali membuka lembaran sebelah sini lagi. Apa yang harus aku rasakan? Kangen?
Atau sakit? Yang pasti dua rasa itu tercampur menjadi satu. Kangen menjadi pola
seharusnya, dan sakit adalah pola kenyataannya. Kenapa? Salah siapa? Tidak ada
yang salah. Aku hanya.. iya, aku sangat kangen. Aku hanya ingin kembali
berkumpul, merajut kembali benang-benang akhir yang kusut dan tidak sempat
dirapikan kembali.
Jujur, banyak
perubahan semenjak beberapa personal mengalami masalah terselubung. Aku salah
satunya. Pada kenyataan kasat mata, kami tidak pernah punya masalah apapun di
kelas! Kelas kami baik-baik saja, selalu baik-baik saja. Kelas kami kompak.
Kelas kami menjadi petugas upacara terbaik di angkatan, kelas kami menjadi
kelas terbersih satu sekolah, kelas kami memiliki beberapa prestasi membanggakan,
kelas kami memiliki orang-orang terhebat di dalamnya, dan kelas kami sangat
berharga! Tapi kenapa aku selalu merasa sedih?
Kenapa tidak ada
yang mau mengakui kalau ada masalah terselubung di antara kami? Kenapa tidak
ada yang mau mengakui kalau kubu sudah terbagi di pertengahan kebesamaan kami?
Kenapa tidak ada yang mau berinisiatif membangun kelas menjadi kompak kembali,
saat itu? Kenapa semunya sudah mulai individualis di hampir akhir kebersamaan kami? Yang dulu kami sempat dipandang sebagai kelas terkompak
ketika pertama kali kami bersama? Kemana? Aku hanya ingin hal itu terwujud,
tidak lebih. Tidak ada kemunafikan atau keegoisan. Aku hanya ingin peluapanku
pada mereka bukan hanya sekedar mengenang sesuatu yang kurang meyakinkan.
Kami sudah berpisah.
Kami sempat menangis sampai sembab dibarengi guyuran hujan hari informal itu.
Terakhir kali kami memakai putih abu-abu bersama-sama ke sekolah. Inginnya, aku
berkumpul bersama mereka, berjingkrak bersama, tertawa bersama, kalau perlu
sharing bersama di saat-saat terakhir. Tapi, kenyataannya? Hari itu, aku hanya
bisa bersama dua sahabatku, dan mereka yang paling setia. Sedangkan, mereka
yang lainnya kemana? Oh.. mereka sedang bersama teman-teman sejawatnya, tidak
bersama kelas. Oke.
Sedih? Iya, kawan,
aku sedih. Serasa ditusuk-tusuk jarum tapi aku berusaha menahannya. Aku lihat
mereka sangat enjoy bersama teman-temannya, dan aku tidak tahu apakah mereka
masih mengingat kata ‘kelas’. Di sesi perenungan, kami berkumpul membuat sebuah
lingkaran seperti kelas-kelas lain. Apa yang aku harapkan saat itu? Ya, aku
berharap kami menangis bersama mengingat kejadian lampau yang seharusnya bisa
teroles sedikit berarti. Memang, semuanya berarti. Tapi apalah kata ‘berarti’
itu kalau di saat-saat terakhir itu, aku tidak merasakan sebuah kehangatan?
Sebagian malah tertawa-tawa di saat yang lainnya sedang meresapi setiap
renungan yang diberikan kepala sekolah. Seperti tidak ada sama sekali rasa
sedih berpisah dengan ‘kelas’.
Semuanya sudah.
Hanya tinggal komunikasi yang belum menjawab. Sebelum menunggu kelulusan dan
sibuk-sibuknya mencari universitas, aku hargai keadaan mereka yang sulit
mendapatkan universitas, sehingga sedikit lupa dengan 'teman lama'.
Ah, andai saja, kalian membaca ini, teman. Andai saja kalian dapat merasakan ini. Andai saja… :’)
Hari demi hari
berlalu sampai masa kami habis dalam masa penantian. Kami sudah lulus, kami
sudah mendapat universitas baru masing-masing, sebagian ada yang memutuskan
untuk tidak kuliah dulu, dan kami benar-benar berpisah. Tentunya di setiap
perpisahan, akan ada teman baru di tempat yang baru. Dan… aku yang paling merasakannya.
Karena apa? Dari bayang-bayang teman lama yang sebegitu banyak, yang
menggantung di pikiranku hanya sedikit. Yang lainnya kemana? Entahlah, itu yang
aku rasakan. Ya, aku memang terlalu berbeda. Sehingga untuk mengingat kenangan
ini, aku rasa sedikit aneh.
Disini aku
mendapatkan teman baru. Dan aku hampir lupa dengan mereka yang disebut ‘teman
lama’, kecuali hanya segelintir orang. Sugestiku sudah terlalu jauh. Aku merasa
tidak pernah berharga jika berharap kembali berkumpul bersama mereka. Mengingat
dulu, aku menjadi orang yang terlalu beda dan membatasi kebersamaan yang
harusnya kami rajut. Tapi sikap acuh itu keburu terbentuk karena keegoisan
setiap dari mereka, termasuk aku, mungkin.
Sekarang? Apa
komunikasi membaik setelah jarak itu terjadi? Apa yang dilakukan segelintir
dari mereka? Ya, dari sebagian aku mendapat bullyan seperti biasa. Itu yang
membuatku kangen. Dan itu lebih baik daripada… sebagian lain yang sudah sangat
acuh seperti tidak pernah mengenalku sama sekali. Silaturahmi sudah terputus.
Teman lama tetap masa lalu, mungkin itu yang mereka pikirkan. Atau.. aku ini
teman lama yang tidak berharga? Memang. Kalau dibandingkan dengan mereka yang
jauh lebih berharga untuk diingat. Tapi aku bukan ingin diingat. Aku hanya
ingin kami melupakan perbedaan itu. Rasanya ingin sekali berkumpul lagi,
sharing, menginstropeksi diri, saling memperbaiki, dan memutuskan untuk menjaga
tali silaturahmi yang erat.
Ya, teman.. aku
ingin itu. Aku ingin kelas kita seperti kelas yang lain. Walaupun kita sudah
tidak berada dalam satu ruangan lagi, kita sudah tak berada dalam satu gedung
lagi, dan sudah tidak ada dalam satu sekolah yang megah itu lagi. Aku hanya
ingin perbedaan itu dihapus dan kita saling mengakui apa yang sudah terjadi di
masa lampau, kemudian sadar. Kemudian, kita bersama-sama berjanji untuk loyal.
Tidak hanya sekedar sok eksis dan sok kompak. Aku hanya ingin kita kompak
beneran. Bukan sebagai kelas formal yang berkompetisi kekompakan dengan kelas
lain lagi, tapi sebagai kelas yang dapat menjadi kenangan yang akan sangat
berharga jika dikenang sampai tua nanti, dimanapun. Hanya dengan berintropeksi
diri, teman!! Senyum tulus sesama dari kita adalah obat termujarab dari rasa kesakitan
ini. Teman.. aku mohon.
Ah, andai saja, kalian membaca ini, teman. Andai saja kalian dapat merasakan ini. Andai saja… :’)
For beloved,
SOS





1 komentar
Nyentuh bgt ya sama kaya yg aku alami skrang "kamu tau teman bagiku kamu sangat berarti bagaimana tidak, kamu adalah bagian perjalanan hidupku yg tak mungkin aku lupakan meski aku tidak tau apakah kalian merasakan hal ygv sama denganku"
BalasHapus