CERPEN: INDIGO
21.00Dua hari yang lalu, aku baru saja pindah ke rumah ini.Banyak kenangan yang aku tinggalkan di rumah lama, yang kini jaraknya jauh dari rumah baruku. Kolam ikan buatanku, Papa, Mama, dan Raisa, pohon mangga yang selalu tumbuh ranum sejak aku masih kecil, taman bunga buatan kami, sampai suara denting lonceng yang sudah dua bulan terakhir ini menyelimuti malam-malam kami.
Mama bilang kita harus pindah dari tempat itu. Lagipula tempat itu bukan rumah warisan atau rumah kenangan yang sering dibilang orang. Itu hanya rumah kontrakan kecil yang setelah setahun lamanya Mama dan Papa berumah tangga, berhasil menjadi rumah tetap miliki pribadi. Hingga Raisa lahir dan sudah seumur anak SMP sekarang.Tapi tetap saja, 17 tahun bukan waktu yang sebentar untuk sekedar mengukir kenangan asal-asalan di rumah yang tak terlalu besar itu.Meskipun ada sesuatu yang tak kami mau, tapi rumah itu tidak pernah kehilangan aura damainya.
Sekitar dua minggu sebelum aku kejang-kejang dan demam parah, aku bermain di sekitar kolam ikan yang didampingi taman bunga sekitaran rumahku. Rumahku sudah bertingkat dua sejak Raisa duduk di kelas 4 SD. Dan pohon mangga ranum selalu menemani hari demi hari suasana sejuk di rumah kami. Saat itu, aku sedang memberi makan ikan-ikan. Tak lama kemudian, langit gelap dan terdengar gluduk di ujung langit sana. Sepertinya hari akan hujan. Cepat-cepat aku menghabiskan sisa makanan ikan ke dalam kolam. Setelah itu, aku mengambil sekeranjang kecil mangga yang sudah kami petik.
Entah kenapa, saat aku berlari kecil menuju pintu samping, ada yang memperhatikanku di bibir pintu. Entah siapa. Aku sempat menghentikan langkahku dan berpikir, Mama dan Papa belum pulang kerja, dan Raisa belum setinggi itu. Bahkan postur tubuhku pun belum setinggi itu. Aku menilik-nilik wajah itu dari jauh tapi tetap tidak terlihat.Wajahnya hitam dan sangat tidak jelas. Aku urungkan langkahku untuk masuk lewat pintu samping. Aku pun segera berlari kecil menuju pintu depan.
Saat sampai di pintu depan, entah kapan satu pintu yang kanan sudah terbuka. Aku fikir mungkin Raisa yang membukanya. Segera ku lanjutkan berlari kecil.Tapi belum sampai, aku melihat sosok yang tadi, duduk di ruang tamu di balik pintu yang tertutup. Langkahku kembali terurung untuk dilanjutkan masuk.Pelan-pelan aku perhatikan kembali wajahnya. Masih sama seperti tadi, tidak terlihat. Setengah merasa ketakutan, setengah merasa bingung. Kenapa orang itu bisa berpindah tempat dengan cepat?Siapa dia?
“Mau ke siapa?” aku memberanikan diri menyapa orang itu di bibir pintu. Dan alangkah terkejutnya aku ternyata tidak ada siapa-siapa disana. Setelah memastikan ke setiap sudut ruangan, bulu kudukku langsung merinding dan rasanya ingin menangis saat itu juga. Tubuhku mendadak melemah, sulit dikendalikan. Entah kenapa. Terlalu berat..
“Sa,” aku mencoba bangun, dan kepalaku terasa pusing. “Ada apa, Sa? Mama Papa udah pulang?”
“Belum, Kak. Belum magrib. Tadi aku takut banget, Kak.” Wajah Raisa terlihat agak pucat dari biasanya. Gurat-gurat panik juga tergambar dari sudut-sudut matanya.
“Kamu kenapa, Dek? Muka kamu pucet gitu.”
“Tadi Kakak marah-marah sendiri, aku jadi takut.”
Aku berfikir sejenak apa yang terjadi tadi. Sebelum aku pingsan, aku melihat sosok itu diam duduk di ruang tamu. Entah itu siapa. Dan saat aku tanya, ternyata sosok itu menghilang dan tubuhku seketika melemah.
“Emang ada apa tadi, Dek?”
“Kakak marah-marah sama aku. Lihat, vas bunga itu pecah dibanting kakak.” Raisa menunjuk pecahan vas bunga yang menghiasi ruang tamu berserakan di segala sudut.
“Astagfirullah..Kapan kakak mecahin vas bunga itu? Kakak gak pernah sebrutal itu, Dek.”
“Tapi tadi kakak kayak orang yang kesetanan. Aku takut.”
Aku menundukkan kepala karena masih terasa pusing. Mataku terasa perih dan pergelangan seperti ada yang menggenggam erat.Aku coba mengangkat kepalaku menghadap Raisa.
“Kak..” Raisa mendadak ketakutan dari biasanya. Sekujur wajahnya terlihat panik.Tapi matanya mengarah ke wajahku. Ia bergeser menjauh dengan tubuh gemetar, hendak bangkit.
“Kenapa, Dek?” aku heran.Tak lama kemudian, Raisa bangkit dan berlari tergesa menjauhiku. Ia kemudian menangis kencang di sudut ruang tengah.
“Kamu kenapa, Dek?” aku langsung bangkit dan menghampiri Raisa dengan langkah-langkah kecil.Tapi tiba-tiba ada sesosok anak kecil berlari-lari mengitari ruangan tengah ini. Rambutnya kuning, pakaiannya seperti pakaian anak Eropa.Ia tertawa-tawa sambil sesekali memainkan barang di sekitarnya. Dan sepertinya Raisa tidak menyadari itu. Ia menangis sekencang-kencangnya.
Raisa kini malah sering pulang telat. Akibatnya sampai magrib aku sering sendirian diam di rumah. Ujian akhirku sudah lewat seminggu yang lalu. Dan untuk sekedar mengunjungi rumah teman dan hangout seperti biasanya, akhir-akhir ini rasanya malas sekali.Aku putuskan melakukan aktifitasku di rumah seperti biasa, memberi makan ikan, menyiram bunga, menonton drama kesukaanku, bermain video game, dan melukis.
Tiba-tiba sosok itu datang lagi. Kali ini ia mondar-mandir di sekitar taman bunga milik kami. Karena rasa penasaranku, aku urai langkah kecil menuju bibir pintu. Tapi sosoknya menghilang.Aku segera menghela nafas, melihat ke segala arah. Sosok itu duduk di tempat biasanya aku memberi makan ikan-ikan di kolam. Kali ini aku urungkan niatku untuk mengurai langkah lagi.Aku perhatikan sosok itu dari jauh. Bulu kudukku masih tetap merinding tapi aku paksakan.
Dari jauh, sosok itu menengokkan wajahnya ke arahku.Wajah yang sangat gelap itu, terlihat sesuatu yang melengkung ke atas di bagian bawahnya. Aku tidak menyangka, wajah yang gelap itu ternyata tersenyum padaku. Aku heran. Bulu kudukku semakin merinding.Tapi segera aku balas senyumnya dengan cepat.Dan seketika sosok itu menghilang lagi.
“Miss, I want to eat something. Do you have anything that I can eat?” tiba-tiba suara itu muncul dari belakangku, suara anak kecil bule.Aku beranikan diri membalikkan badan.Aku lihat anak itu begitu lucu dengan wajahnya yang memohon.
“I have some food in kitchen. What do you want, babe?” timpalku sambil tersenyum.
“I want ice cream dan chicken nugget. Do you have it?”
“Oh, sure. I have anything you can eat.”
“But, can my brothers and sisters eat together with me?”
Tiba-tiba beberapa anak kecil lain yang sebangsa datang berhamburan menghampiriku. Mereka semua bergerombol di hadapanku sambil melemparkan senyum yang sangat manis.
“Of course, babe. I know all of you are hungry, right? I have some ice cream and chicken nugget.”
Aku segera menggiring mereka ke dapur. Di kulkas memang ada dua kotak es krim dan nugget mentah. Aku fikir mungkin tidak akan apa-apa kalau es krim tersebut aku bagikan pada mereka. Saat aku membuka lemari es, wajah mereka semakin berbinar sambil berjingkrak ria. Aku bagikan dua kotak es krim tersebut dan dirasa cukup untuk mereka semua. Sedangkan nugget aku pegang dahulu untuk aku goreng.
“What will you do with the nugget?” tanya salah satu dari mereka.
“I just want to warm the nugget, that’s make it delicious.”
Mereka terdiam, seketika hening. Ada yang saling memandang satu sama lain.
“Believe me. It’s gonna be very delicious.”
Wajah mereka kembali sumringah dan melanjutkan memakan es krim di tangan mereka. Meskipun agak sedikit merinding, tapi aku coba mempositifkan pikiranku. Ini tidak akan apa-apa. Tidak ada yang aneh dari mereka. Mereka seperti manusia biasa, hanya berbentuk seperti anak kecil saja.
Setelah selesai menggoreng semua nugget, aku mengajak mereka duduk di ruang tamu dan menyalakan televisi. Mereka antusias menyambut nugget hangat. Mereka memakan masing-masing satu nugget dan cukup untuk semuanya, tidak termasuk aku. Padahal setelah aku hitung jumlahnya tidak sebanyak nugget yang aku masak.Tapi dalam sekejap nugget itu habis.
“How? Is it delicious, right?” tanyaku kemudian. Mereka semua mengangguk senang.
“Oke. By the way, I forgot something. You should drink after eat. Let me take the drink. Wait a moment.”
Aku segera membuka kulkas lagi dan dua botol Fanta aku gendol ke tempat yang tadi.Tanpa aku perintahkan, mereka menotor Fanta nya bergantian. Dan belum sampai lima detik, Fanta itu habis. Mereka semua tersenyum dengan gigi merah akibat Fanta.
“Thank you, Miss. You are very nice girl. We want to be your friends,” salah satu anak tertua dari mereka menyodorkan tangannya dengan ramah sambil tersenyum. Aku sedikit gugup.Tapi aku paksakan meraih uluran tangannya.Tangannya terasa sangat dingin seperti es.
“Nice to see you, cute boys and girls.” Aku berjabat tangan dengan semuanya setelahnya. Tangan mereka sama semua, dingin seperti es.
Mereka langsung membentuk lingkaran di sekitarku, dan aku masuk ke lingkaran mereka.Tak lama kemudian, mereka berbagi beberapa cerita. Jumlah mereka sekitar 8 orang. Dan ini adalah pengalaman pertamaku mengobrol bahasa Inggris dengan pemilik aksen aslinya. Meskipun aku tahu mereka bukan manusia.
Tenyata, mereka datang dari dalam lemari tua di gudang belakang. Dahulu mereka pernah tinggal di rumah ini, saat Belanda masih jaya menguasai negeri ini. Namun ini memang bukan rumah asli mereka. Dulu mereka diurus oleh seorang gadis yang mereka panggil Miss Caroline di rumah ini. Mereka ternyata bukan berkebangsaan Belanda, melainkan berkebangsaan Inggris asli. Rumah asli mereka terletak di Yogyakarta. Dan mereka adalah anak-anak dari saudagar Inggris terkaya masa itu.
Suatu hari mereka hendak pulang ke Inggris dengan menggunakan kapal laut. Belum sampai tiga hari di laut, kapal yang mereka tumpangi bermasalah, sehingga mengancam jiwa mereka. Akhirnya nyawa mereka memang tidak terselamatkan. Mereka semua tenggelam termasuk Miss Caroline. Mereka bilang, sejak saat itu mereka tinggal di sebuah tempat yang sangat aneh. Tapi tempat itu memang sebuah negeri yang damai. Namun karena kecintaan mereka terhadap tanah ini, mereka mencoba kembali meskipun berkali-kali gagal.Akhirnya, mereka berhasil mencapai rumah ini dan keluar melalui lemari tua di gudang.
Agak percaya tidak percaya sebenarnya, tapi mereka menceritakan itu tanpa beban dan tanpa ada ancaman apapun dari raut wajah mereka. Aku hanya tersenyum menimpali semua cerita mereka.Ternyata sosok tidak jelas yang sering berpindah tempat itu adalah Miss Caroline. Namun yang aku heran, kenapa wajahnya tidak terlihat sama sekali, tidak seperti anak-anak ini yang wajah mereka terlihat dengan jelas?
“She opportunity burned before sink,” salah satu dari mereka yang bernama Edie, menimpali dengan wajah sedih.
Aku mengusap pundak Edie sambil menenangkannya.
“But she won’t distrube you and your family, Miss. Us too.”
“I believe. All of you are nice people. I accept you to be my friend and you can playing together here.”
Mereka semua tersenyum dan memegang tangan satu sama lain. Jacob dan Michel yang duduk di samping kanan dan kiriku merengkuh tanganku pula. Setelah itu kami berbagi cerita lain. Tentang kebiasaan mereka sewaktu masih tinggal di Indonesia, tentang sekolah mereka, tentang negeri mereka di Inggris sana. Semakin menguatkan keinginan dan keharuanku akan negeri Inggris. Inggris adalah satu yang sekian lama aku idam-idamkan selama hidupku. Aku ingin sekali melajutkan kuliah disana. Dan aku kemukakan pada mereka.
Setelah sama-sama bercerita dan aku menceritakan perihal keinginanku, mereka ingin mengajakku masuk ke lemari tua itu. Mereka bilang, jalan ke Inggris yang dekat adalah melalui jalur itu. Meskipun harus melewati terlebih dahulu negeri aneh mereka, tapi mereka menyukai perjalanan itu. Aku tidak langsung mengiyakan ajakan mereka. Karena tetap saja akan menjadi sangat bahaya apabila aku mengikuti ajakan mereka. Bisa-bisa aku tidak bisa kembali lagi atau malah direkrut menjadi salah satu dari penghuni negeri tersebut, atau yang lebih parahnya, itu adalah jalan kematianku.
Aku menggelengkan kepala sedikit. Kemudian tersenyum.
“Maybe later, I still have any job here, my friends,” aku mengusap pundak mereka. Tapi mereka tak terlihat kecewa. Mereka malah senang dapat bermain-main lebih lama di rumah ini.Terlebih kini sudah berteman denganku.
“Kenapa rumah berantakan? Kamu habis ngapain?” omel Papa lagi.
“Makanan di kulkas dan di dapur habis, rumah berantakan kayak kapal pecah. Mama heran deh, acara apa yang kalian buat sih, sampai gak bermodal sama sekali? Atau setidaknya beresin lagi kek!” tambah dengan omelan Mama.
Aku melihat ke sekitarku.Akhir-akhir ini rumah memang sering berantakan oleh anak-anak bule itu. Tapi baru kali ini aku lupa membereskannya. Aku ketiduran. Sepertinya anak-anak bule itu sudah istirahat. Mereka sudah tidak ada yang berkeliaran satupun. Aku tidak mampu menjawab omelan Mama dan Papa. Sedangkan Raisa terlihat yang agak ketakutan namun berusaha disembunyikan.Wajah dan badanku terasa panas saat membuka mata tadi. Tenggorokan rasanya tidak enak dan mata perih. Tak selang berapa lama, badanku semakin terasa panas seperti terbakar. Aku ingin mengerang tapi tidak bisa. Akhirnya aku hanya mengeluarkan suara kecil biasa. Miss Caroline ternyata sedang berada tak jauh dariku. Mama dan Papa langsung panik melihatku kejang-kejang. Iya, badan ini memang terasa sangat panas. Aku tak bisa berkutik apa-apa saat Miss Caroline perlahan menghampiriku.
“Alhamdulillah, bentar lagi pulang, kan?”
“Iya, insya Allah, Kak.Tapi kaka harus sembuh total dulu.”
“Yaelah, Dek. Sembuh total gak mungkin disini. Disini kan cuma perawatan aja.”
“Setidaknya, kan, Kak.”
Kami tertawa setelah itu.Aku melihat di jendela anak-anak bule itu melihat ke arahku dengan wajah khawatir. Aku hanya melemparkan senyum pada mereka.Sebagian dari mereka mendadahiku. Sudah dua minggu ini mereka ikut menjagaku di rumah sakit, dari semenjak aku tidak sadarkan diri selama tiga hari.
Seminggu yang lalu, Papa memasang bawang putih di sekitar jendela, pintu, dan setiap sudut ruangan rawat inapku. Sehingga selama seminggu ini mereka tidak bisa masuk ke ruangan ini dan hanya bisa memandangku dari luar. Tapi aku masih sering mengunjungi mereka saat Mama, Papa dan Raisa sedang tidak ada disini. Aku tidak bisa bermain-main lagi dengan mereka seperti kemarin. Sepertinya tidak bisa. Itu yang tergambar dari raut wajah mereka.
Beberapa hari kemudian, aku sudah diperbolehkan pulang.Aku sangat senang bisa kembali ke rumah itu dan bisa kembali bermain dengan anak-anak bule itu.Tapi saat memperhatikan jalan, aku tidak mengenal jalan yang biasanya kami tempuh pulang ke rumah itu. Aku menengok ke arah Raisa dan Mama, yang duduk di bagian depan mobil mendampingi Papa yang menyetir.
“Kita mau kemana dulu, Ma?” tanyaku agak panik.
Mama tersenyum sumringah. “Ke rumah baru.”
“Rumah baru?” aku terkejut dan seketika melamun.
“Iya, sayang. Kita udah punya rumah yang lebih enak dan lebih layak kita tempati.”
“Kenapa harus pindah?Aku masih betah di rumah lama.”
“Tapi aku udah gak betah, Kak,” timpal Raisa.
Aku cekak, terdiam sejenak. Tak ada sepatah katapun dari mulut mereka. Tapi aku juga tidak bisa menyebutkan alasanku kenapa masih ingin di rumah itu. Mereka pasti akan terkejut.
“Papa udah bantu kembaliin mereka ke alam mereka.Terlebih hantu wanita bule yang terbakar itu,” timpal Papa tiba-tiba. Aku terkejut mendengar itu.Yang Papa maksud adalah Miss Caroline. Jadi, Papa sudah tahu?Dan Mama dan Raisa, mereka diam saja. Sepertinya mereka sudah tahu.
“Papa dibantu sama sodara Papa yang pernah menaklukan mahluk di negeri itu. Mereka masih punya hak hidup di tempat mereka, tapi enggak di tempat kita. Mereka anak-anak bule yang kesepian karena ditinggal wanita muda itu. Tapi mereka juga mahluk yang berbeda alam dengan kita.”
“Dan untuk menghindari hal-hal yang belum kita tahu, makanya Papa carikan rumah baru. Dengan jaminan gak akan ada hal-hal seperti itu lagi menimpa kita,” sambung Mama.
Aku diam tidak berkutik. Aku tidak bisa memaksakan apapun lagi. Yang mereka katakana memang benar.Aku terlalu banyak menderita semenjak aku sakit. Tidak seperti sakit biasanya. Dan aku rasakan memang ada keterlibatan mereka disini.
“Wanita muda itu iri sama kamu, Al. Karena kamu punya sesuatu yang gak dia punya. Makanya setiap ada dia, kamu merasa panas dan menderita,” ujar Papa lagi.
Memang benar apa yang dikatakan Papa. Dan, aku baru ingat, Papa memang punya kekuatan astral yang tidak pernah ditunjukkannya, tapi aku tahu. Aku baru ingat hal itu. Terlebih saudara-saudara Papa yang lain. Tapi tetap saja, lonceng itu tidak pernah berhenti terngiang di telingaku setiap malamnya.Karena tiba-tiba lonceng itu ada dalam genggamanku, dan Papa tidak tahu.
TAMAT





0 komentar