Ikut Organisasi? Why Not?

19.20

Setiap calon alumnus SMA pastinya seneng mengetahui kenyataan kalo bentar lagi mereka bakal lulus dan jadi anak kuliahan. Masa-masa banyak diatur sama orang-orang tua, di rumah ataupun di sekolah, harus pake seragam tiap hari, banyak PR, dan lain-lain, akhirnya bakal terlewati sebentar lagi. Siapa anak kelas 3 SMA yang nggak bisa nunggu masa-masa baru di bangku kuliahan nanti yang pastinya serba baru? Yang nggak bakal kuliah pun pastinya penasaran sama kehidupan kampus.
Seperti yang sering ditampilkan di teve, atau film-film yang latar belakangnya kampus, biasanya kehidupan kampus yang digambarkan tuh kelihatan classy banget. Karena udah bisa pake outfit bebas, gaya-gaya pakaian seakan saling adu bagus dan adu modis. Hampir tiap hari hangout sana-sini bareng the gengs, ke kampus pakai mobil pribadi, nongkrongnya di cafe-cafe mahal, di pelataran kampus ngerumpi masalah percintaan, atau ngerumpiin orang lain yang nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan para perumpi. Jarang banget ftv, film, ataupun serial fiksi di layar kaca yang menampilkan kehidupan perkuliahan di kelas, kehidupan mahasiswa proaktif di kampus, interaksi mahasiswa dengan dosen mengenai masalah perkampusan (yang ada malah mahasiswa yang jatuh cinta sama dosen, atau sebaliknya), dan lain-lain. Intinya, jarang banget fiksi layar kaca yang ngasih gambaran sesuai harapan para penonton, lebih sering harapan kosong. Bisa keitung jarilah film-film yang isinya mengulik kehidupan per-kampus-an. Dikit banget pokoknya. Lalu, yang sebenernya kayak gimana sih, kampus tuh?

Berbicara mengenai kampus, pasti nggak lepas sama kehidupan objek pelakonnya, yaitu mahasiswa. Mahasiswa di kampus posisinya sebagai target utama staf kampus untuk bisa menjebol tujuan, visi dan misi kampus. Mahasiswa posisinya hampir sama dengan siswa, tapi tingkatannya dan ada beberapa hal yang bikin beda. Yang mahasiswa pasti tau-lah ya. Mahasiswa nggak tau proses penyusunan kurikulum kampus, pembangunan gedung-gedung dan fasilitasnya, rekrutmen dosen dan stafnya, penyusunan jadwal kuliah, praktikum, dan observasi kampus buat mahasiswa. Yang bekerja atas itu semua ya cuma dosen dan staf. Tugas mahasiswa sesuai keinginan mereka adalah ikut serta dan pakai sebaik mungkin apa yang udah disiapin sama kampus. Karena nggak mungkin ada mahasiswa yang mau masuk ke kampus yang pembangunan gedungnya masih berupa tengkorak gedung, belum ada program, belum ada staf dan dosennya, ataupun kurikulumnya belum disempurnakan. Nggak mungkinlah ya. Semua calon mahasiswa pasti pengen masuk kampus yang isinya sudah sempurna. Jadi, mahasiswa disini posisinya bisa dikatakan sebagai objek pemilik kampus.

Tapi di sisi lain, mahasiswa bisa jadi subjek atau pelakonnya. Mengingat fungsi utama mahasiswa yang sering disebut-sebut sebagai agen perubahan sosial (agent of social change) dan agen pengawasan sosial (agent of social control). Mahasiswa disebut-sebut sebagai insan mudah cendikia. Karena posisi mahasiswa udah beda lagi dengan posisi sebagai seorang siswa. Di sisi lain, mahasiswa udah bukan ranahnya lagi diatur-atur oleh orang tua dan pengajar (guru). Mahasiswa udah mulai punya pilihan dan target sendiri, nggak harus sesuai dengan aturan. Katanya sih gitu. Cara belajar mahasiswa juga kurang lebih 80% hasil raup sendiri, sisanya 20% cuma tambahan atau prolog dari dosen/pengajar. Mahasiswa itu insan muda cendikia yang mandiri, yang  punya lebih dalam segala hal. Dari segi kekuatan fisik, justru paling fresh, lebih fresh dibanding adek-adeknya di sekolah, jauh lebih fresh dari orang-orang yang lebih tua di atasnya. Semua kesempatan untuk melakukan berbagai hal cuma ada pas jadi mahasiswa. Ya, semuanya halal buat mahasiswa. Katanya sih gitu.
Makanya sekarang banyak mahasiswa yang melakukan banyak hal semaunya, dengan alasan ‘kita kan punya target dan pilihan masing-masing’. Alasan itu nggak salah. Semua orang pasti punya alasan dalam melakukan berbagai hal. Di kehidupan mahasiswa, pilihan itu cuma ada dua: jadi orang organisasi atau non-organisasi. Lho, kok patokannya itu sih? Mau nggak mau, patokan mahasiswa cuma dua itu aja. Mau diklasifikasiin dengan jenis yang berbeda tetep aja dua itu yang paling berpengaruh. Lalu bedanya anak organisasi dengan yang bukan organisasi, apa?

Aku beberin secara jujur menurut perspektifku ya. Di kampus, ada yang namanya tipologi mahasiswa, atau sering disebut tipe-tipe mahasiswa. Secara umum ada 4 macam: akademis, aktifis/organisatoris, hedonis, sama apatis. Ada juga yang nambahin profesionalistis.  Ini hanya klasifikasi secara umunya aja, bukan berarti mengeneralisir ya.

Pertama, akademis, adalah jajaran mahasiswa yang prioritas utamanya bahkan seluruh aktifitas ngampusnya hanya kuliah, kuliah dan kuliah. Mahasiswa tipe ini biasanya paling peduli sama tugas, deadline tugas, dan kesempurnaan tugas. IPK adalah target utama, biasanya. Tapi nggak sedikit juga sih yang nggak terlalu ngejar IPK, yang penting kuliah lancar dan beres. Nggak sedikit juga dari mahasiswa tipe ini yang deket sama dosen, karena pinter dan rajin. Makanya nggak sedikit mahasiswa tipe ini yang jadi asdos (asisten dosen). Dan mayoritas (menurut kacamataku) mahasiswa tipe ini rada sinis sama mahasiswa tipe kedua, organisatoris. Mereka menganggap apa yang dilakukan mahasiswa tipe dua itu adalah buang-buang waktu dan salah satu nggak ngehargain usaha orang tua nyekolahin anaknya. Ada juga sebagian yang lain, yang memang menganggap jalan menjadi akademis adalah sudah menjadi pilihan dan target, memang nggak tertarik dengan organisasi juga. Dan yang pasti, seorang akademis adalah orang yang lulus paling cepet biasanya.

Kedua, aktifis atau organisatoris, adalah jajaran mahasiswa yang menganggap organisasi adalah kelas kuliah yang sebenarnya. Biasanya mahasiswa tipe ini agak kurang peduli sama tugas, absen, dan nilai. Mereka menganggap tugas, absen, dan nilai bukan penentu kesuksesan di masa depan. Kuliah tanpa ikut organisasi adalah kuliah nol nol besar. Biasanya mahasiswa tipe ini sinis sama semua tipe mahasiswa lainnya (kecuali yang profesionalistis kayaknya). Mereka menganggap bekal berorganisasi lebih penting daripada tugas-tugas dari dosen atau IPK. Makanya orang-orang di tipe ini biasanya paling telat lulus kuliah. Nilai cuma dijadiin formalitas di akhir. Menjadi pintar dan cerdas lahir batin adalah tujuan mereka. Mereka juga menganggap mahasiswa tipe lain tuh cuma buang-buang waktu kuliah kalo nggak masuk organisasi. Percuma lama-lama kuliah kalo nggak ikut organisasi, karena banyak ilmu yang nggak didapat di kelas, bisa didapat di organisasi. Tapi, sebenernya nggak sedikit juga mereka yang organisatoris, pendidikannya beres tepat waktu. Semuanya tergantung masing-masing individu sih. Tergantung komitmen pribadi.

Ketiga, hedonis, adalah jajaran mahasiswa yang kerjaannya nongkrong sana-nongkrong sini, berblok-blok, ngerumpi, touring, travelling, hang out, dan ngabisin uang demi kesenangan. Karena menurut mereka dimana lagi dan kapan lagi bisa seneng-seneng dengan waktu yang tidak terbatas. Iya, waktu kuliah kan waktu fleksibel. Apalagi yang kuliah di daerah rantauan, yang jauh dari pantauan orang tua. Yang jelas beda banget sama dulu pas sekolah yang segalanya serba terbatas. Kalo sekarang yang penting udah masuk kelas, tanda tangan absen, beres kuliah langsung cuss cyin ke tempat-tempat gaya dan mahal bareng the gengs dengan outift matching dan terkesan gahol. Mereka nggak terlalu peduli kuliah, dan nggak tau gimana itu organisasi. Paling sekali-kali coba ikut UKM supaya nggak terlalu terkesan gimanaaa gitu. Sisanya, yang penting happy.

Keempat, apatis, adalah jajaran mahasiswa yang.. aku nggak tau deh deskripsiinnya gimana. Aku nggak tau ini mahasiswa ada semangat kuliah atau ngnggak, atau gimana. Tapi kayaknya banyak juga deh jenisnya. Secara umum, mahasiswa tipe ini terlalu acuh dengan kepentingan akademis, organisasi, ataupun hedonis. Mereka juga nggak kerja. Kerjanya cuma satu, ya jadi mahasiswa. Belajar di kelas nggak terlalu serius, ikut organisasi nggak, jalan-jalan untuk sekedar tadabur alam juga jarang. Dan yang pasti mereka belum berpenghasilan. Terus apa? Ngedekem di kosan terus? Nggak tau deh. Setiap manusia juga pasti punya target dan alasannya masing-masing untuk menjadi manusia yang mana.

Nah, yang terakhir ini bonus, profesionalistis, adalah jajaran mahasiswa yang kuliah sambil kerja. Banyak alasan di balik mereka yang kuliahnya sambil kerja. Tapi biasanya kalau di kelas reguler itu alasannya cukup membuat prihatin sih. Kadang karena emang mahasiswa tersebut dari keluarga yang kurang secara finansial atau memang sebatang kara tapi nekat kuliah, ketambah nggak dapet beasiswa, misalnya, mengharuskan mereka untuk kerja part-time demi bisa bayar kuliah. Tapi ada juga mahasiswa yang dari kelas karyawan, misalnya, yang memang dikhususkan untuk mereka yang udah kerja tapi pingin mengenyam ilmu di bangku perkuliahan. Atau ada juga di kelas reguler yang emang pilihannya dari awal selama kuliah itu sambil kerja, supaya dapet pengalaman kerja lebih dulu.

Dari 4 tipologi mahasiswa di atas, plus bonus 1, kita bisa menyimpulkan sendiri, bahwa yang ada di teve-teve itu BOHONG BESAR. Hehehe.. Kalau semua mahasiswa yang di teve-teve itu kayak gitu semua, gimana negeri ini bisa maju? Intinya buat adek-adek calon mahasiswa, sebelum nanti masuk kuliah di perguruan tinggi jangan gampang kemakan adegan perkuliahan di teve ya. Liatnya di tulisan ini aja (ceileh), supaya nanti nggak kaget dan senggaknya ada persiapan.

Nah, terus hubungannya apa sama judul? Yang ada di judul ada di tipe mahasiswa nomor 2, kan? Yeps, judulnya ada di tipe nomor dua, aktifis atau organisatoris. Kenapa dibahas? Ya, karena aku sendiri emang jebolan tipe sana, meskipun nggak pro seperti temen-temenku yang lain. Karena menurutku, penting banget untuk dijelasin kepada yang nggak tau, kehidupan apa yang ada di organisasi itu, yang merupakan tipe yang paling disinisin sama tipe-tipe sebelah, bahkan dari pas masih duduk di bangku sekolah. Masuk organisasi tuh gampang. Di kampus, ada organisasi intra kayak HMJ, Senat Mahasiswa, sampai Dewan Mahasiswa. Ada juga organisasi ekstra, kayak misalnya PMII, HMI, GMNI, KAMMI, IMM, HIMA/MI PERSIS, PMKRI, dll. Itu cuma sebagian kecil. Masih banyaaaaak lagi organisasi ekstra yang tersebar luas di kampus-kampus, ada juga kayak semacam komunitas-komunitas kecil atau komunitas profesi gitu. Ada juga organisasi mahasiswa daerah, khususnya buat yang kuliah di daerah perantauan. Intinya, yang hidup dan ‘berjamur’ di kampus itu bukan hanya HMJ, Senat, Dema, atau UKM aja, organisasi-organisasi di atas juga banyak berjamur di kampus-kampus, mau itu kampus umum ataupun kampus khusus, kampus negeri atau swasta, kampus besar atau kecil, pasti ada, kadang malah merajalela. Makanya, jangan kaget ketika nanti masuk kuliah, di kampus banyak nemuin hal-hal semacam itu. Karena sekali lagi, kegiatan di kampus bukan hanya sebatas belajar di kelas, presentasi, praktikum, tugas, observasi, dan ikut-ikut acara kampus. Karena yang ngadain acara di kampuspun kebanyakan dari anak-anak organisasi, bukan dari pihak kampusnya sendiri. Jadi, sekali lagi, jangan kaget. Ini peringatan pertama sih jatohnya, khususnya buat adek-adek.

Kalo di kampusku sendiri sih, kehidupan organisasi, terutama organisasi ekstra, sangat menjamur penuh di setiap sudut dan nafas kampus. Siapa sih yang nggak tau? Yang nggak ikut gabung sih banyak, tapi hampir semua orang tau ada organisasi apa aja di kampus (terkecuali yang apatis kayaknya). Semua orang juga tau apa aja yang dilakuin mereka di dalem kampus. Ya, semua orang pasti taulah, terutama yang sekampus sama aku. Tapi beda halnya kalo lagi diluar kampus, atau di pinggiran kampus. Kalo biasanya di dalem kampus kegiatannya demo, kadang beberapa kali juga ngadain acara seminar dan diskusi atau buka lapak buku, tapi yang dilakuin di luar gerbang kampus biasanya agak banyak. Demo, seminar, diskusi, sampai buka lapak buku juga sering jadi kegiatan rutin diluar kampus. Selain itu, anak organisasi ekstra biasanya bikin program khusus sesuai konstitusi organisasinya masing-masing. Misalnya diskusi rutin per minggu dengan pemateri yang berbeda-beda. Terus, ada bakti sosial, kuliah kerja nyata (semacam kkn tapi nggak terikat kampus), bantu benerin jalan rusak, bantu bangun mesjid atau rumah bermain anak-anak, bikin taman baca, sampai bantu korban bencana alam. Semuanya dilakukan sesuai pedoman dan arahan organisasinya masing-masing. Yang terpenting dari pelaksanaan kegiatan itu adalah, pentingnya menjadi seorang mahasiswa yang melakukan tugas dan fungsinya dengan baik, yaitu sebagai agen perubahan sosial dan agen pengawasan sosial. Yang terpenting, masyarakat terutama kelas menengah hingga ke bawah, bisa ikut menggantungkan harapan pada insan muda cendikia yang masih fresh ini. Lewat mana lagi bisa bantu orang banyak kalau bukan lewat sini? Ya, semuanya tergantung masing-masing individu sih. Kembali lagi sama diri sendiri.

Terus, gimana dengan perseteruan antar organisasi satu dengan yang lainnya? Bukannya itu malah mengganggu ketenangan? Ya, itu pertanyaan yang sering banget dilontarkan oleh mereka yang nggak ikut organisasi. Selain karena nggak tertarik, tapi lebih jauhnya emang pada dasarnya nggak suka, entah sama organisasinya, atau sama orang-orangnya. Perseteruan itu wajar ada, biasanya karena merasa bersaing. Perseteruan kan biasanya terjadi karena perbedaan pendapat dan ideologi organisasi, kadang terjadi gara-gara salah paham. Entah itu secara komunal atau personal. Dan biasanya tetep kebawa secara komunal sih, yang tadinya masalah personal, bisa jadi bawa-bawa badge organisasi. Tapi, kembali lagi. Kita kan mahasiswa. Beda-lah sama siswa, ya kan? Badge organisasi harusnya jangan sampai dikorbankan demi pemuasan emosional semata. Tapi yang bikin runyem kadang kalo udah masuk ke ranah politik mahasiswa. Silahkan aja cari tau sendiri-lah kalo penasaran. Karena nggak mungkin dijelasin disini. Intinya, mau ikut organisasi atau nggak, menjadi dewasa itu perlu. Dewasa itu kan terbuka pikirannya, luas pemahamannya, wawasannya, dan hatinya. Menjadi mahasiswa nggak sesulit kelihatannya sebenernya.

Oh ya, terus, organisasi intra gimana? Kok terkesan yang disebut organisasi tuh ektsra doang sih? Sama dong. Organisasi intra itu posisi, tugas dan fungsinya sama dengan organisasi ekstra ataupun organisasi mahasiswa lainnya. Cuma space ruang dan waktu aja yang berbeda. Organisasi intra lebih memusatkan target untuk hal-hal yang berbau ke-kampus-an aja. Makanya, organisasi intra itu biasanya difasilitasi oleh kampus. Ruangnya terbatas hanya di wilayah-wilayah kampus, dan waktunya terbatas hanya sampai kepengurusan beres, terkhusus buat organisasi semacam HMJ, Senat, dan Dema. UKM juga sama, tapi kalo UKM bisa bertahan sampai lulus sekalipun, kalau kekeluargaannya emang kental. UKM adalah organisasi intra yang agak fleksibel tapi tetep difasilitasi oleh kampus, fokusnya lebih ke hobi dan minat bakat sih.

Intinya, tugas dan fungsi mahasiswa dari dulu ya itu, sebagai agen perubahan sosial dan agen pengawasan sosial. Mau kamu masuk jurusan apa, ikut organisasi apa, ikut organisasi atau nggak, gaulnya sama siapa, tetep, kalo status kamu sebagai mahasiswa tugas kamu cuma satu, sebagai agen sosial. Kamu adalah orang yang diandalkan dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas. Selesai kuliah, apa yang bisa kamu berikan pada masyarakat, bukan hanya untuk diri sendiri atau keluarga, itu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Bukannya “Khoirunnas anfauhum linnas”, ya? Target menjadi salah satu pengenyam pendidikan tinggi bukannya supaya jadi pinter, kan? Makanya, rekomendasi dari aku pribadi, jangan gagap organisasi ketika jadi mahasiswa. Karena cuma organisasi ‘pintu ajaib doraemon’ milik mahasiswa buat tau kehidupan dunia yang sebenernya, terutama kehidupan bangsa dan negara. Jangan takut status akademis tergerus atau nggak bisa seneng-seneng kayak hedonis. Semua itu bisa dilakuin oleh mahasiswa organisasi. Jadi akademis-organisastoris, bisa, yang terpenting adalah niat dan komitmen. Apalagi kalo jadi akademis-organisatoris-hedonis, kehidupan perkuliahanmu lengkap, mantap, dan luar biasa pokoknya. Yang jadi organisatoris-hedonis? Ada juga. Yang terpenting buat mereka, organisasi adalah kelas yang sebenarnya, akademik hanya kegiatan formalitas, jadi hedonis supaya nggak ketinggalan jaman dan tetep gahol gituuuu. Hehehe..

Satu lagi yang nggak kalah penting, tetep jadi dirimu sendiri apapun status mahasiswa kamu. Karena benteng kita sebagai mahasiswa ya cuma diri kita sendiri, yekaaaan J

Salam Mahasiswa!

-Dari Alumnus

You Might Also Like

0 komentar